<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426</id><updated>2011-12-12T23:17:22.258-08:00</updated><category term='Kisah Dunia'/><category term='Kisah Lain'/><category term='Cerita Mini'/><category term='Kisah Kita'/><category term='Kisah Islami'/><category term='Rasulullah'/><category term='Cerita Pendek'/><category term='Aishiteru'/><category term='Keluarga'/><category term='Kisah Sekitar Kita'/><category term='Pijar'/><title type='text'>♥ Ruang Jeda ♥</title><subtitle type='html'>Dan lalu, bertebarlah kisah-kisah...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>117</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4030593317531918505</id><published>2011-02-18T23:36:00.000-08:00</published><updated>2011-02-18T23:43:09.558-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Suami Itu ...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bismillah..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(KISAH)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QMUbxTcHtv4/TV9yWJ-HWhI/AAAAAAAADeg/XBeLmx7PcZc/s1600/171740_142259642501543_141421482585359_256180_7325176_o.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-QMUbxTcHtv4/TV9yWJ-HWhI/AAAAAAAADeg/XBeLmx7PcZc/s320/171740_142259642501543_141421482585359_256180_7325176_o.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“kenapa?” tanyaku lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya trsenyum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. &amp;nbsp;Dan parahnya saya juga lagi pusing . &amp;nbsp;Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi,umi pusing nih, ambil sendiri lah”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat &amp;nbsp;sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuta hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar &amp;nbsp;600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya. &amp;nbsp;Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelehkan suami.” Lantutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah,,apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. &amp;nbsp;Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana &amp;nbsp;mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapnnya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptonya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelajaran yang membuatu &amp;nbsp;menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Subhanallah..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;semoga,,pekerjaan,, harta &amp;nbsp;tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-D9_QKAtBqwg/TV9ysH_vnVI/AAAAAAAADek/OmIUS3pj_UQ/s1600/23541_118849294795134_100000101931486_322367_38480_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="http://4.bp.blogspot.com/-D9_QKAtBqwg/TV9ysH_vnVI/AAAAAAAADek/OmIUS3pj_UQ/s320/23541_118849294795134_100000101931486_322367_38480_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=489429631539&amp;amp;id=1377729472"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=489429631539&amp;amp;id=1377729472&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4030593317531918505?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4030593317531918505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2011/02/suami-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4030593317531918505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4030593317531918505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2011/02/suami-itu.html' title='Suami Itu ...'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QMUbxTcHtv4/TV9yWJ-HWhI/AAAAAAAADeg/XBeLmx7PcZc/s72-c/171740_142259642501543_141421482585359_256180_7325176_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2695151574113908193</id><published>2011-01-10T18:39:00.000-08:00</published><updated>2011-01-10T18:39:48.811-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Akulah Lelaki Paling Bahagia: "Di Gubukku Ada Bidadari"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TSvCwfj1BGI/AAAAAAAADbk/PRSPUd7GWWo/s1600/lembayung.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TSvCwfj1BGI/AAAAAAAADbk/PRSPUd7GWWo/s320/lembayung.jpg" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;“Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Saat itu. . .&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sudah mengenalmu karena memang engkau adalah tetangga dekatku. Olehku, benar-benar tak terbayang bahwa engkau kan menjadi kekasih hatiku yang terajut oleh untaian tali pernikahan. Jujur terakui, wajahmu tak terlalu cantik. Namun begitu, sulit pula bagi lidahku untuk kututurkan bahwa engkau jelek rupa. Biasa saja. Bagimu, make-up tak begitu penting. Itu kuketahui karena engkau memang tak pernah memoleskannya di wajahmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Aku dan Keputusanku…&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkau adalah wanita sederhana. Iya, wanita sederhana, pintar, tak banyak bicara. Engkaulah wanita yang bersahaja. Terlihat dewasa, pula. Kesederhanaan dan kesahajaan yang engkau peragakan lah yang justru terasa mengusik hati ini. Benar, tak bisa kupungkiri. Tak bisa kututupi. Akhirnya, nyaliku terpercik hebat lalu menghujankan sebuah keputusan. Kupilih engkau menjadi permaisuriku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Sejenak Tentangmu…&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkau, dinda, bukanlah keturunan orang berpangkat, juga bukan keturunan ningrat. Aku tak peduli. Raga yang terbalut kain-kain penutup aurat dan jiwa yang terpaut akhirat yang kuingini. Terlebihi terpolesi ilmu syar’i. Tekadku sudah bulat. Kupinang engkau dalam waktu dekat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkau, dinda, saat itu baru lulus SMA. Tak kusangka kalau engkau menerima lamaranku dengan tangan terbuka. Bahkan untuk menerimaku, engkau pangkas keinginanmu mencicipi bangku kuliah. Semua gurumu begitu menyayangkan keputusanmu karena engkau termasuk siswa yang cerdas. Aku tak tahu, mengapa engkau memilihku menjadi pangeran yang akan menduduki singgasana hatimu, dinda. Sujud syukurku pada Allah ‘azzawajallah. Alhamdulillah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Percikan Bahagia di Hari Pernikahan…&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan hari itu pun kita menikah. Terbitlah kebahagiaan yang menyelimuti sanubari. Sempurnalah mekar indah pucuk asmara. Telah tiba saatnya biduk harus berlayar di samudera kehidupan. Terhempas sudah karang-karang penantian yang bertengger di taman hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah jalinan yang indah selain jalinan dan untaian tali pernikahan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah letupan-letupan cinta yang lebih menenteramkan hati sepasang muda-mudi selain dalam ikatan ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah hubungan yang lebih menabung kebaikan selain hubungan sah secara syar’i?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bak sejuknya tanah gersang yang kembali subur setelah dentuman hujan, bak cerahnya dedaunan muda yang indah menghijau bersemi, bak syahdunya kicauan burung menyambut mentari di pagi nan cerah, begitulah pula datangnya kuncup bahagia di hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Aku Begitu Kagum. . .&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua terasa mudah dan indah, dinda. Engkaupun merasakan hal yang sama, bukan? Saat itu, usiaku 25 tahun dan engkau baru 19 tahun. Memang masih terlalu muda untuk kalangan umum namun engkau berani mengambil keputusan itu. Engkau berani mengakhiri masa lajangmu di usia dini. Dan tahukah engkau, dinda, itu membuatku semakin kagum padamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinda tersayang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak menikah hingga saat ini, kekagumanku padamu terpupuk subur. Kudapati engkau belum pernah mengeluh tentang keadaan yang kita alami bersama. Padahal engkau sendiri tahu bahwa penghasilanku tak seberapa, kadangkala tak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Begitu sering kita harus mengikis beberapa keinginan karena kita tak sanggup menggapainya. Benar-benar tak pernah terlihat kristal bening menetes dari pelupuk matamu karena hal itu, dinda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Tetesan Air Mata di Kasur Cinta..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih teringatkah olehmu, dinda, saat pertama kali kita arungi bahtera ini di sebuah kontrakan mungil? Sama sekali kita tak punya apa-apa, bahkan alas tidur pun tak ada. Tetapi engkau benar-benar membuktikan kecerdikanmu, dinda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seonggok pakaian kita yang masih tersimpan dalam tas usang, kau keluarkan. Engkaupun melipatnya lalu engkau tumpuk dua hingga tiga helai. Engkau kemudian mengaturnya berjejeran. Diatas barisan baju itu, engkau bentangkan jilbab lebarmu. Jadilah kasur cinta ala istriku terkasih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Sambil menyungging senyum manismu, engkau mempersilahkan aku mengempukkan diri di kasur cinta kita. Kutatap wajah ayumu, dinda. Kufokuskan mataku memandang hitam bola matamu sambil membalasmu dengan senyumku. Beberapa detik kemudian, kurasakan getaran hebat berkecamuk di hati. Dan, dan, dan berlinanglah air mata haruku. Aku cinta. Aku cinta. Aku mencintaimu, dinda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Saatnya Engkau Melahirkan..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersamamu, wahai permaisuri hatiku, tak terasa begitu cepat bergulirnya waktu. Dengan penuh kasih, selalu indah nan syahdu terlalui hari-hari,dinda. Kekurangan materi yang terkadang menghantui seakan-akan bukanlah beban manakala kita senantiasa menebalkan keikhlasan di hati. Denganmu, dinda, begitu banyak pelajaran yang kupetik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih ingatkah ketika usia pernikahan kita beranjak setahun, saat tujuh bulan usia kehamilanmu, dinda? Aku begitu panik ketika engkau mengalami pendarahan. Tapi engkau begitu tenang tak gugup. Dari keningmu yang berkerut dan nafasmu yang tertahan, aku tahu engkau sedang menahan sakit yang luar biasa. Segera saja kubawa engkau ke bidan. Dari pemeriksaannya, itu adalah tanda-tanda bahwa engkau akan melahirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jam 12 malam, saat manusia tengah asyik terlelap, anak pertama kita lahir dengan prematur. Ah, betapa aku bahagia, dinda. Berulang kali, kukecup keningmu dengan kecupan sayang penuh mesra.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Segelas Air Putih..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku melihat wajahmu melemas. Engkau begitu lelah. Secara perlahan, kau bisiki aku dengan berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&amp;nbsp;“abii…, aku lapeer.”&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tersentak aku mendengarnya, dinda. Ya, seharian tadi engkau tak makan karena kesakitan sejak kemarin. Sore tadi aku hanya membeli sebungkus roti untukmu namun sudah kulahap habis karena tadi engkau tak nafsu makan. Kini tak ada roti atau jajanan lain. Mau beli, jam segini semua toko dan warung sudah tutup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdulillah, ada segelas air putih yang dibawakan bidan. Kusuguhkan sendiri untukmu agar kemesraan kita tetap terjalin dan barangkali letihmu akan terkikis. Perlahan, engkau pun meneguknya, dinda. Tak ada tuntutan dan keluhan sedikit pun yang terlontar dari lisanmu. Engkau sungguh mengagumkan, dinda. Aku memuji Allah atas anugerah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesahajaanmu benar-benar menggelombangkan air mataku. Melihat semburat bahagia terbit di wajahmu, kembali kurasakan tetesan bening bak kristal itu mengalir syahdu dari pelupuk mataku. Seiring menyusuri lembah hidungku, kurasakan air mata ini kembali menyuburkan bunga cinta di taman hati. Kupersembahkan indah mekarnya untukmu, dinda. Semerbaknya begitu harum, bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yah, bayi yang menjadi permata hati kita yan selamat dan nampak sehat telah membuatmu lupakan lapar dan dahaga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;gt;&amp;gt;Engkaulah Penyejuk Hati..&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun berganti dan engkau tak pernah berubah. Hampir sepuluh tahun kita bersama dalam bahtera yang penuh dengan kesederhanaan tetapi kita tak pernah lontarkan keluh. Engkau tak pernah tuntut dunia dariku, dinda. Tak pernah minta ini. Tak pernah minta itu. Beli pakaian saja mungkin tiga atau empat tahun sekali. Perhiasan? Tak pernah engkau mengenalnya. Bagimu, bisa memenuhi kebutuhan saja tanpa berhutang sudah lebih dari cukup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh, dinda. Aku amat bahagia mengenalmu sosokmu. Aku memuji Allah atas anugerah ini. Engkaulah permata sekaligus belahan jiwa yang menyejukkan hati. Mata akan teduh memandangmu. Engkaulah sebenarnya perhiasan itu, dinda. Semoga engkau selalu tegar menemani hari-hariku hingga kita jelang negeri penuh cinta nan abadi di akhirat nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;_____________&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan Editor:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejatinya, ini adalah kisah nyata yang tertera dalam buku “Bila Pernikahan Tak Seindah Impian”, penerbit Mumtaza, Solo, 2007, hal 118-122. Kepada penulis buku tersebut yaitu saudara Muhammad Albani (hafidzahullah), kami telah meminta ijin untuk menuturkan dan mengisahkan kembali sekaligus mendaur ulang bahasanya dengan tidak merubah alur kisah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada sepasang merpati dalam tulisan, semoga jalinan cinta yang terajut dalam kehalalan tersebut tetap terjaga hingga berjumpa dengan wajah Allah di surga, kelak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada para wanita, selalu kami titipkan nasehat agar merias diri dengan akhlak yang mulia dan membalutkan diri dengan ilmu syar’i. Ketahuilah wahai saudari-saudari kami bahwa salah satu dosa anda sebagai makhluk hawa, seperti yang disebutkan para ulama, adalah keengganan anda untuk menuntut ilmu dien ini. Jadikanlah wanita dalam kisah diatas sebagai salah satu ibrah untuk menapaki jenjang pernikahan. Terakhir, jadilah kalian wanita yang penuh kesahajaan dan selalu merasa cukup dalam dunia. Semoga Allah ‘azzawajalla mudahkan kalian memasuki surga-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada sauadara-saudara kami, semoga kisah diatas menjadi salah satu percikan-percikan yang akan menerangi jenjang-jenjang kehidupan kita selanjutnya. Semoga Allah tabaraka wata’ala mengistiqamahkan kita di atas sunnah dan manhaj yang ditempuh para pendahulu sehingga kita mampu menjadi pribadi yang shahih berilmu nan mulia berakhlak. Kami rasakan fitnah-fitnah di akhir zaman begitu dahsyat menghantam karang keimanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illa ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam persaudaraan penuh kehangatan ukhuwah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fachrian Almer Akiera&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mataram, Kota Ibadah, menjelang isya’ di hari Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1431 H.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150117835024126&amp;amp;id=100000560711343"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150117835024126&amp;amp;id=100000560711343&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2695151574113908193?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2695151574113908193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2011/01/akulah-lelaki-paling-bahagia-di-gubukku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2695151574113908193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2695151574113908193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2011/01/akulah-lelaki-paling-bahagia-di-gubukku.html' title='Akulah Lelaki Paling Bahagia: &quot;Di Gubukku Ada Bidadari&quot;'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TSvCwfj1BGI/AAAAAAAADbk/PRSPUd7GWWo/s72-c/lembayung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4452123409773132670</id><published>2010-09-15T18:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-15T18:32:25.511-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Bukan takut, namun karena cinta dan penghormatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TJFzjkzLnUI/AAAAAAAADVo/NUqZ3SsWXAY/s1600/i_love_you__i_love_you_not____by_ohbradley.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TJFzjkzLnUI/AAAAAAAADVo/NUqZ3SsWXAY/s320/i_love_you__i_love_you_not____by_ohbradley.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Percikan Iman&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah suatu hari seorang seorang sahabat mendatangi Khalifah Umar karena bertengkar dengan istrinya, dia merasa gundah akan keadaan dirinya, dan berniat mendatangi Khalifah Umar Bin Khatab untuk mengadukan permasalahannya, dengan gontai dia berjalan menuju rumah khalifah Umar, setiba di rumah Khalifah Umar langkahnya terhenti, di depan pintu dia mendengar Khalifah Umar sedang di "omeli" habis-habisan oleh seorang wanita, yang kemudian dia kenali adalah Istri Khalifah Umar, dan karena pintu rumah Khalifah sedikit terbuka, dia melihat Khalifah sangat menyedihkan, tak melawan hanya diam saja, seketika itu niatnya untuk mengadu pada Khalifah Umar terhenti. Dan saat dia berbalik arah hendak&amp;nbsp;pulang, sebuah panggilan dari dalam rumah menghentikan langkahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Wahai, Fulan bin Fulan, ada apa gerangan dirimu" Kata Khalifah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak Khalifah, saya lihat anda sedang sibuk, lebih baik saya tunda saja kunjungan saya" kata si Fulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seketika Khalifah berdiri membuka pintu, dan menarik tangan orang tersebut "masuk", kata Khalifah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku sudah berjanji menjadi Khalifah dan siap menerima pengaduan dari rakyatku kapanpun, ayo masuklah" kata sang Khalifah ramah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan canggung laki-laki itu memasuki rumah bertipe RTSS (Rumah Teramat Sangat Sederhana) milik khalifah Umar Bin Khatab. Kemudian duduklah dia di depan Khalifah Umar, setelah menikmati hidangan sekedarnya, Khalifah Umar mulai bertanya kepadaNya...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ada apa gerangan yang membuatmu kemari wahai Fulan, katakan padaku, permasalahan apa yang engkau hadapi" kata Khalifah Umar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seketika itu wajah si Fulan berubah merah, dia malu, atas masalah yang hendak dia adukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khalifah yang melihat gelagat ini terdiam dan menunggu dengan sabar, kemudian menepuk-nepuk bahu si fulan, setelah itu, menanyakan kembali pertanyaan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga tiga kali barulah si Fulan menjawab dengan canggung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Khalifah Umar masalahku tak sebesar apa yang kau hadapi, aku melihatmu tadi diomeli Istrimu sedemikian rupa dan engkau hanya diam saja, tak marah, ataupun menegurmya, bagaimana engkau mampu berbuat demikian? "&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khalifah tersenyum sejenak kemudian, dia melihat ke arah si Fulan, mengajaknya berputar melihat sekeliling rumahnya, kemudian mengajak si Fulan duduk kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata Khalifah kemudian, "Kamu lihat rumahku teramat sangat sederhana, jangankan pembantu, untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang aku tak mampu memberikannya pada Istriku, dan aku sama sekali tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya karena kesibukanku sebagai Khalifah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahukah kamu seberapa berat beban yang harus dia tanggung, setelah dia membersihkan seisi rumah sendiri, memasak untuk diriku, merawat danmendidik anak-anakku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua dia lakukan sendiri karena saya tidak bisa membayar pembantu untuk meringankan bebannya, padahal semua itu adalah tugas saya. Memuliakan seorang istri di dalam rumahnya adalah tugas suami. Tapi saya terlalu miskin menggaji pembantu sehingga dia harus mengerjakan semua sendiri. Untuk itu hanya sekedar di omeli saja kenapa saya harus marah, demi melihat pengorbanannya kepada keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari cerita keluarga Umar, betapa seharusnya seorang perempuan di muliakan oleh suaminya, seorang perempuan seyogyanya di berikan kenyamanan dalam rumahnya, perlindungan, dan juga penghormatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4452123409773132670?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4452123409773132670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/09/bukan-takut-namun-karena-cinta-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4452123409773132670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4452123409773132670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/09/bukan-takut-namun-karena-cinta-dan.html' title='Bukan takut, namun karena cinta dan penghormatan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TJFzjkzLnUI/AAAAAAAADVo/NUqZ3SsWXAY/s72-c/i_love_you__i_love_you_not____by_ohbradley.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-9131753135808938989</id><published>2010-09-08T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T20:45:20.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Tentang Cinta Nan Tulus..</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TIhYM-4Hq-I/AAAAAAAADU0/HKenD2Xtz8I/s1600/kasih+ibu3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TIhYM-4Hq-I/AAAAAAAADU0/HKenD2Xtz8I/s320/kasih+ibu3.jpg" width="236" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronik. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup ‘cool’. Setidaknya itu pendapat para gadis yang kenal dengan dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gaji-nya pun lumayan besar. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan gadis-gadis muda. Bahkan putri pemilik perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dirumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit dibagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (dengan memakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya, A be.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega bisnis yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung saja, kasihan.. ” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja Ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya. Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali mencari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan dirumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari Ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Didalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran ‘postcard’ itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya. Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa di bendung. Dengan menggenggam foto dan Koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu-pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. ”Yang sudah, ya sudah Nak, Ibu sudah memaafkan. Jangan diungkit-ungkit lagi ya.. ”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah ibunya sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek, tidak mempedulikannya. Ia tak merasa malu sedikitpun atas kondisi Ibunya, sebaliknya ia merasa begitu bangga telah memiliki seorang Ibu yang memiliki cinta dan kasih nan tulus, selain Ibunya juga seorang pahlawan. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini kedalam media cetak dan elektronik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #634320; font-family: Trebuchet, 'Trebuchet MS', Arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;***Sumber : Dicopykan (dan sedikit dimodifikasi) dari Forum.KapanLagi.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-9131753135808938989?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/9131753135808938989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/09/tentang-cinta-nan-tulus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/9131753135808938989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/9131753135808938989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/09/tentang-cinta-nan-tulus.html' title='Tentang Cinta Nan Tulus..'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TIhYM-4Hq-I/AAAAAAAADU0/HKenD2Xtz8I/s72-c/kasih+ibu3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6335139146161803041</id><published>2010-08-19T22:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T22:31:52.311-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><title type='text'>Pemuda Langit Yang Dirindukan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TG4TOrtC_UI/AAAAAAAADTA/LteiO8tfU7c/s1600/Dekstop-Ramadhan.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="179" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TG4TOrtC_UI/AAAAAAAADTA/LteiO8tfU7c/s320/Dekstop-Ramadhan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nab, segeralah engkau kembali pulang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sampbil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdulla, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Wajah Uwais Al-Qarni”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6335139146161803041?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6335139146161803041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/08/pemuda-langit-yang-dirindukan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6335139146161803041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6335139146161803041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/08/pemuda-langit-yang-dirindukan.html' title='Pemuda Langit Yang Dirindukan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TG4TOrtC_UI/AAAAAAAADTA/LteiO8tfU7c/s72-c/Dekstop-Ramadhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6215124850896980713</id><published>2010-07-20T23:16:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T23:16:17.821-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Lain'/><title type='text'>Chatting Dengan Tuhan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TEaQoKxfrcI/AAAAAAAADPE/M-NXOe0DduI/s1600/yahoo-messenger-10-sing-in-screen.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="315" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TEaQoKxfrcI/AAAAAAAADPE/M-NXOe0DduI/s320/yahoo-messenger-10-sing-in-screen.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUZZ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Kamu memanggilKu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Memanggil-Mu? Tidak.. Ini siapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Ini TUHAN. Aku mendengar doamu.&lt;br /&gt;Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.&lt;br /&gt;Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.&lt;br /&gt;Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil.&lt;br /&gt;Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.&lt;br /&gt;Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.&lt;br /&gt;Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.&lt;br /&gt;Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.&lt;br /&gt;Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.&lt;br /&gt;Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.&lt;br /&gt;Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?&lt;br /&gt;Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.&lt;br /&gt;Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ke dalam.&lt;br /&gt;Melihat ke luar, kamu bermimpi.&lt;br /&gt;Melihat ke dalam, kamu terjaga.&lt;br /&gt;Mata memberimu penglihatan.&lt;br /&gt;Hati memberimu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.&lt;br /&gt;Apa yang dapat saya lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.&lt;br /&gt;Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.&lt;br /&gt;Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada&lt;br /&gt;mengetahui bahwa kau sedang berjalan.&lt;br /&gt;Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan.&lt;br /&gt;Selalu hitung yang harus kau syukuri,&lt;br /&gt;jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Apa yang menarik dari manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.&lt;br /&gt;Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.&lt;br /&gt;Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu.&lt;br /&gt;Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;Peganglah saat ini dengan keyakinan.&lt;br /&gt;Siapkan masa depan tanpa rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir, Tuhan.&lt;br /&gt;Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Tidak ada doa yang tidak dijawab.&lt;br /&gt;Seringkali jawabannya adalah TIDAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU :&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan atas chatting yang&lt;br /&gt;indah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN :&lt;br /&gt;Oke.&lt;br /&gt;Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.&lt;br /&gt;Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………TUHAN has signed out&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6215124850896980713?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6215124850896980713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/07/chatting-dengan-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6215124850896980713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6215124850896980713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/07/chatting-dengan-tuhan.html' title='Chatting Dengan Tuhan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TEaQoKxfrcI/AAAAAAAADPE/M-NXOe0DduI/s72-c/yahoo-messenger-10-sing-in-screen.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2790756206703127477</id><published>2010-07-13T20:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:55:06.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><title type='text'>Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah [Subhanallah]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TD008K2LsXI/AAAAAAAADN4/FwVwhXQfg9g/s1600/g6pgrz4yec9bdfz324qn.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TD008K2LsXI/AAAAAAAADN4/FwVwhXQfg9g/s320/g6pgrz4yec9bdfz324qn.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang perpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma'ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata: "Alhamdulillah… alhamdulillah… alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?" Dia menjawab: "Tidak."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna." Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu' dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: "Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya Allah." Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut." Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasannya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku." Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua." Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dia berkata: "Asyhadu alla ilaaha illallah."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil 'aalamin. (AR)*&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Majalah Qiblati edisi 4 Tahun 3&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2790756206703127477?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2790756206703127477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/07/kisah-gadis-kecil-yang-shalihah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2790756206703127477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2790756206703127477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/07/kisah-gadis-kecil-yang-shalihah.html' title='Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah [Subhanallah]'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TD008K2LsXI/AAAAAAAADN4/FwVwhXQfg9g/s72-c/g6pgrz4yec9bdfz324qn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8313178257841002668</id><published>2010-06-15T22:15:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T22:15:39.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part three]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhd8fLvjpI/AAAAAAAADEE/qTW2cCqbkpk/s1600/timthumb.php.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhd8fLvjpI/AAAAAAAADEE/qTW2cCqbkpk/s320/timthumb.php.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Kamis, 24 November 2006. Kami melangsungkan pernikahan dengan sagat sederhana. Acara tersebut Cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. Betapa senangnya hatiku, akkhirnya aku bisa merasakan cinta yang tulus karena Alloh. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Alloh.....Itulah doaku saat itu.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari mengantar ustadz, perasaan bahagia itu seakan buyar mendapati Nina yang baru saja menjadi istriku tergeletak di lantai, dari hidung dan mulutnya kembali berlumuran darah. Dan tangannya terlihat ada goresan. Kami langsung membawanya ke rumah sakit, diperjalanan, kondisi Nina terlihat sangat lemah. Terdengar suaranya memanggilku dan berkata agar akku harus tetap di jalan yang diridhai-Nya sambil memegang erat tanganku dengan tulus, air mataku tak tertahankan melihat keadaan Nina yang terus berdzikir sambil menangis.....Dia juga selalu menanyakan saudari-saudarinya dimana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah sakit, aku bertanya-tanya kenapa tangan Nina tergores. Aku pun menulis SMS kepada saudari-saudari Nina. Ternyata, tangan Nina tergores ketika hendak menemui saudari-saudainya dengan keluar dari kamar. Karena pintu kamar terkunci, Nina ingin keluar melalui jendela sehingga menyebabkan tangannya tergores. Nina tak kunjung sadar hingga larut malam, aku pun tertidur dan tidak menyadari kalau Nina bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin sekali menemui saudari-saudarinya dan dia tidak menyadari kalau hari telah larut malam. Dia Cuma berkata, “Pengin ketemu saudariku karena sudah tak ada waktu lagi.” Berhubung Nina masih lemah, dia pun jatuh pingsan setelah bebrapa saat melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar kaget dan bingung mau memanggil dokter tapi tidak ada yang menemani Nina. Akhirnya, aku menghubungi salah seorang saudarinya untuk menemani. Setelah aku dan dokter tiba, Nina sudah tidak bernafas dan bergerak lagi. Pertahananku runtuh dan hancurlah harapanku melihat Nina tidak lagi berdaya.... Dokter menyuruhku keluar. Pada saat itu kukira Nina telah tiada, makanya aku segera menulis SMS kepada saudari Nina untuk memberitahu bahwa Nina telah tiada. Namun begitu dokter keluar, masya Alloh !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denyut jantung Nina kembali beredetak dan ia dinyatakan koma. Aku hendak memberi kabar kepada saudari Nina tapi baterai HP-ku habis dan tiba-tiba penyakitku pun kambuh lagi sehingga aku harus diinfus juga.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 11.30, perasaanku mengatakan Nina memangilku, maka aku segera bangkit dari tempat tidur dan melepas infus dari tanganku menuju kamar Nina. Kutatap wajah Nina bersamaan dengan kumandang adzan shalat Jum’at. Sembari menjawab adzan, aku terus menatap wajah Nina berharap dia akan membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lafadz laa ilaaha illallah, suara mesin pendeteksi jantung berbunyi, menandakan bahwa Nina telah tiada. Aku berteriak memanggil dokter, tapi qadarulloh istriku sayang telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini. Nina langsung dimandikan dan dishalatkan selepas shalat Jum’at, lalu diterbangkan ke rumah papanya di Malaysia. Untuk terakhir kalinya kubuka kain putih yang menutupi wajah Nina. Wajahnya terlihat berseri.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus merelakan semua ini, aku harus kuat dan menerima takdir-Nya. Teringat kata-kata Nina, “Berdoalah jika memang Alloh memangilku lebih awal dengan doa, “Ya Alloh, berilah kesabaran dan pahala dari musibah yang menimpaku dan berilah ganti yang lebih baik.” Setelah pemakaman, aku langsung balik ke Jakarta karena kondisiku yang kurang stabil...Astaghfirullah !!! aku lupa memberitahu saudari-saudari Nina. Mungkin karena aku terlalu larut dalam kesedihan, hingga secara spontanitas aku menghubungi mereka dan menyampaikan bahwa Nina benar-benar talah tiada. Aku tahu pasti, mereka pasti sedih dengan kepergian saudari mereka yang mereka cintai karena Alloh. Dari ketiga saudari Nina, ada seorang yang tidak percaya dan sepertinya dia sangat membenciku. Entah, mengapa sikapnya seperti itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya mereka tahu, bahwa sebelum kepergiannya, Nina selalu memanggil nama mereka, tentulah mereka semakin sedih. Dalam HP Nina terlihat banyak SMS yang menunjukkan betapa indahnya ukhuwah dengan saudari-saudarinya. Semoga saudari-saudari Nina memaafkan kesalahannya dan kesalahan diriku pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam sayang dari Nina tu kakak Rini, Sakinah, dan Aisyah serta akhwat di Makassar. Teruslah berjuang menegakkan dakwah ilallah. Syukran atas perhatian kalian....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama setelah kisah ini dimuat di Media Muslim Muda Elfata, redaksi Elfata menerima SMS dari seorang ukhti, saudari Nina. Isi SMS tersebut adalah, “Afwan , mungkin perlu Elfata sampaikan kepada pembaca mengenai kisah ‘Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Alloh’ di mana Kak Nina telah meninggal dan kini Kak Adhit pun telah tiada. Kurang lebih 2 pekan (Kak Adhit –red) dirawat di rumah sakit karena penyakit pada paru-parunya. Sebelum sempat dioperasi, maut telah menjemputnya. Ana menyampaikan hal ini karena masih banyak yang mengirim salam, memberi dukungan ke Kak Adhit yang kubaca di Elfata dan beberapa orang yang kutemui di jalan juga selalu bertanya, Kak Adhit bagaimana ? Ana salah satu ukhti dalam cerita tersebut...Syukran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERCIK RENUNGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanalloh ! Kisah Adhit dan Nina di atas dapat kita jadikan sebuah cermin untuk berkaca. Renungkanlah keteguhan Nina untuk tak meladeni tawaran cinta asmara yang tak terselimuti indahnya syariat. Padahal Nina adalah seorang yang sedang membutuhkan dukungan, pertolongan, dan sandaran bahu tempat menangis. Nina berprinsip, meski dalam situasi sesulit apapun, kemurnian syariat tetap harus dijaga dan diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang kesulitan tak harus menjadikan kita surut dalam berkonsisten dengan syariat ini. Bahkan bisa jadi kesulitan demi kesulitan yang kita alami menjadi parameter seberapa jauh kita telah mengamalkan ajaran agama ini. Di lain sisi, ketidaktahuan seseorang akan syariat ini seringkali menjadikan pelakunya bertindak tanpa adanya rambu-rambu yang telah dicanangkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bisa jadi ketidaktahuan akan syariat ini menjadi titik awal seseorang merasakan indahnya agama dan manisnya iman sebagaimana yang terjadi pada Adhit, ikhwan yang menceritakan kisahnya ini. Semoga Alloh merahmati mereka, menerima ruh mereka berdua dan&lt;br /&gt;menjadikan mereka berdua termasuk hamba-hamba-Nya yang shalih yang dijanjikan surga-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Kumpulan KISAH NYATA UNGGULAN Majalah ELFATA ‘Seindah Cinta ketika Berlabuh’, 2008, FAtaMeDia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8313178257841002668?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8313178257841002668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah_5748.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8313178257841002668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8313178257841002668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah_5748.html' title='Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part three]'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhd8fLvjpI/AAAAAAAADEE/qTW2cCqbkpk/s72-c/timthumb.php.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4486084377561559708</id><published>2010-06-15T22:14:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T22:14:34.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part two]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhde5lqquI/AAAAAAAADD8/Bdb-nTPJEMg/s1600/DSCN9970-1.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhde5lqquI/AAAAAAAADD8/Bdb-nTPJEMg/s320/DSCN9970-1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;.24 Oktober 2006, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, aku dan orang tuaku bersilaturahmi ke rumah keluarga Nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan antara aku dan Nina. Tapi pada saat itu Nina baru dirawat di rumah sakit sejak bulan Ramadhan. Saat kutemui, Nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumannya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orang tuanya akan berangkat ke luar negeri. Tetapi Nina tidak pernah mau meladeniku.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..Suatu hari aku mendapati Nina terlihat kesakitan, terlihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Aku bermaksud untuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya. Betapa&lt;br /&gt;kaget diriku dibuatnya, aku tidak menyangka sama sekali Nina akan manamparku. Sungguh betapa istiqomahnya dia dalam menjaga kehormatan untuk tidak disentuh laki-laki yang bukan muhrimnya. Saat itu aku belum mengetahui tentang masalah ini dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian tersebut secara tak sengaja terlihat mama Nina maka Nina pun dimarahi habis-habisan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kulihat Nina segera melepas infusnya dan berlari menuju kamar mandi. Nina pun mengurung diri di kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa kami mendobrak pintu kamar mandi dan kami dapati Nina tergeletak di lantai tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sadar, aku berusaha bicara dan meminta maaf kepadanya atas kejadian tadi, namun Nina terus-terusan menangis. Aku pun bertambah bingung apa yang mesti aku lakukan untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, tapi Nina malah mendorongku dengan keras dan berlari keluar dari kamar menuju taman. Ketika kudekati Nina berteriak hingga menjadikan orang-orang memukulku karena menyangka aku mengganggu Nina. Karena itulah, Nina semalaman tidur di taman dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah waktu subuh menjelang kulihat Nina beranjak untuk melaksanakan shalat shubuh di masjid, aku pun turut shalat. Namun setelah shalat, tiba-tiba Nina menghilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencarinya berkeliling rumah sakit tersebut. Dan lama berselang kulihat banyak kerumunan orang dan ternyata Nina sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan HP berada di sampingnya, sepertinya dia bosan telah berbicara dengan seseorang. Keadaan Nina saat itu sangat kritis sehingga pernafasannya harus dibantu dengan oksigen. Kata dokter, paru-paru Nina basah yang mungkin diakibatkan semalaman tidur di taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nina tak kunjung juga sadar. Dengan perasaan khawatir dan bingung aku berdoa dengan menatap wajahnya yang pucat pasi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada sebuah SMS yang masuk ke HP Nina, tanpa sadar aku pun membaca dan membalas SMS tersebut. Akku juga membuka beberapa SMS yang masuk ke HP-nya dan aku sangat terharu dengan isinya, tenyata banyak sekali orang yang menyayanginya. Di antaranya adalah orang yang bernama Ukhti. Dulu sebelum aku mengetahui Ukhti adalah panggilan untuk saudari perempuan, aku sempat cemburu dibuatnya. Aku mengira Ukhti itu adalah pacar Nina yang menjadi alasan dia menolakku. Setelah Nina tersadar dari pingsannya, aku menunjukkan SMS yang dikirimkan saudari-saudarinya dan dia sangat marah ketika tahu aku sudah membaca dan membalas SMS dari saudari-saudarinya. Dia pun akhirnya melarangku untuk memegang HP-nya apalagi mengangkat atau menghubungi saudari-saudarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tetap saja aku sering ber-SMS-an dengan saudari-saudarinya untuk mengetahui kenapa sikap Nina begini dan begitu. Dari sinilah aku mendapat sebuah jawaban bahwa Nina tidak mau bersentuhan apalagi berduaan denganku karena aku bukan mahramnya dan Nina menolak untuk berpacaran serta bertunangan denganku karena di dalam Islam tidak ada hal-hal sepeti itu dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang non Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu juga Nina mencari seorang ikhwan yang mencintai karena Alloh bukan ats dasar hawa nafsu. Akhirnya aku tahu kan sikap Nina selama ini semata-mata dia hanya ingin menjalankan syariat Islam secara benar. Hari berlalu dan aku terus belajar sedikit demi sedikit tentang Islam dari Nina dan saudari-saudarinya, terutama dalam melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Saat itu aku merasakan ketenangan dan ketentraman selama menjalankannya dan menimbulkan perasaan rindu kepada Alloh untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatku pun muncul untuk segera menikahi Nina agar tidak terjadi fitnah, namun kondisi Nina semakin memburuk. Dia selalu mengigau memanggil saudari-saudarinya yang dicintainya karena Alloh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, aku membawanya ke kota Makassar, kampung mama kandung Nina untuk mempertemukannya dengan saudari-saudarinya, Qadarulloh (atas kehendak Alloh), aku tidak berhasil mempertemukan mereka. Yang ada kondisi Nina semakin parah dan penyakitku juga tiba-tiba kambuh sehingga aku pun haus dirawat di rumah sakit. Orang tua Nina datang dan membawanya kembali ke kota Makassar tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku juga diopname.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota Makassar, Nina diawasi dengan ketat oleh papanya, karena papa Nina kurang suka dengan akhwat, apalagi yang bercadar. Rumah sakit dan rumah yang ditempati Nina dirahasiakan. Dan Nina pun tak tahu di manakah ia berada. Karena kondisinya masih lemah, diapun tak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia kadang dibius, apalagi ketika akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yag satunya agar tidak tahu di mana keberadaaannya, karena papanya tidak ingin ada akhwatyang menjenguk Nina. Sampai HPnya pun diambil dari Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena Nina masih mempuny HP yang ia sembunyan dari papanya, sehingga beberapa kali Nina berusaha kabur untuk menemui saudari-saudarinya, akhirnya Nina dikurung di dalam kamar. Mendengar hal itu, aku langsung menyusul Nina ke Makassar dan aku sempat bicara dengannya dari balik pintu. Nina menyuruhku untuk menemui seorang ustadz di sebuah masjid di kota itu. Dari pertemuanku dengan ustadz tersebut aku pun diajak ta’lim beberapa hari dan aku menginap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa Nina menyangka Nina telah mengusirku sehingga ia pun dimarahi. Setibanya di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya kepada papa Nina, bahwa ia tidak bersalah dan aku mengatakan agar pernikahan kami dipercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis, 24 November 2006. Kami melangsungkan pernikahan dengan sagat sederhana. Acara tersebut Cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. Betapa senangnya hatiku, akkhirnya aku bisa merasakan cinta yang tulus karena Alloh. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Alloh.....Itulah doaku saat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4486084377561559708?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4486084377561559708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4486084377561559708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4486084377561559708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah_15.html' title='Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part two]'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhde5lqquI/AAAAAAAADD8/Bdb-nTPJEMg/s72-c/DSCN9970-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-5810808274616460292</id><published>2010-06-15T22:11:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T22:11:52.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part one]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhc8hUS4FI/AAAAAAAADD0/PlptRteCDoQ/s1600/birrruuu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhc8hUS4FI/AAAAAAAADD0/PlptRteCDoQ/s320/birrruuu.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya, aku bertemu dengannya di sebuah acara yang diselenggarakan di rumahku sendiri. Gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak. Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya. Akhirnya dengan pede-nya keberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman dengannku, dan cuma mengatakan, “Maaf...” dan berlalu begitu saja meninggalkanku.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa malunya aku terhadap teman-teman yang berada di sekitarku.“Ini cewek kok jual mahal banget !” Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau !” ujarku. Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, aku selalu ikut bersama papa.&lt;br /&gt;Gadis itu bernama Nina, kuliah di Fakultas Kedokteran dan dia anak yang tidak suka berpesta, berfoya-foya, dan keluyuran seperti cewek kebanyakan di kalangan kami. Aku pun jarang melihatnya jika aku pergi ke rumahnya; dengan berbagai alasan yang kudengar dari pembantunya: sakitlah, lagi mengerjakan tugas, atau kecapaian. Pokoknya, dia tidak pernah mau keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari aku dan papa sedang bertamu ke rumahnya. Pada saat itu, Nina baru saja pulang dengan busana muslimahnya yang rapi, terlihat turun dari mobil. Namun belum jauh melangkah dia pun terjatuh pingsan dan mukanya terlihat sangat pucat. Kami yang berada di ruang tamu bergegas keluar dan papanya pun menggendong ke kamar serta meminta tolong kami untuk menghubungi dokter. Dari hasil pemeriksaan dokter, Nina harus dirawat di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, aku datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguknya. Betapa kagetnya aku ketika kutahu Nina terkena leukimia (kanker darah). Aku bertanya, “Kenapa gadis selembut dan sesopan dia harus mengalami hal itu ?”. Perasaan kesalku padanya kini berubah menjadi kasihan dan khawatir. Setiap usai kuliah, kusempatkan untuk datang menjenguknya. Aku mendapatinya sering menangis sendirian. Entah itu karena tidak ada yang menjaganya atau karena penyakit yang diderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari di rumah sakit, Nina memintaku keluar setiap kali aku masuk. Aku pun mendatanginya di rumah, tapi dia tidak pernah mau keluar menemuiku dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak menyerah begitu saja, kucoba menelpon Nina dan berharap dia mau bicara denganku. Namun, dia tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, lalu kukirimkan SMS padanya agar dia mau menjadi pacarku, tetapi tidak ada balasan malah HP-nya dinonaktifkan semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku nekat datang ke rumahnya untuk meminta maaf atas kelancanganku. Ternyata ia akan berangkat ke Makasar, ke kampung orang tuanya. Karena orang tuanya tak dapat mengantarnya, aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Nina lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan orang lain. Sebelum naik ke mobil, dia menitipkan kertas untukku kepada mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah hancur hatiku ketika membaca sebait kalimat yang berbunyi, “Maaf saat ini aku hanya ingin berkonsentrasi kuliah.” Hatiku remuk dan aku pulang dengan perasaan kesal sekali. Ini pertama kalinya aku ingin pacaran, tapi ditolak. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan hubungan seperti pacaran itu karena begitu banyak dampak negatifnya, sampai ada yang rela bunuh diri karena ditinggalkan kekasihnya –na’udzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun entah mengapa ketika aku melihat Nina hatiku pun tergoda untuk menjalin hubungan itu. Sejak perpisahan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai gelar sarjana aku raih. Lalu aku pun bekerja di perusahaan milik keluargaku sebagai satu-satunya ahli waris. Melihat ketekunanku dalam bekerja, papa Nina ,menyukaiku hingga hubungan kami menjadi akrab dan kuutarakanlah maksudku bahwa aku menyukai Nina, anaknya, dan ternyata papa Nina setuju untuk menjadikanku sebagai menantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Oktober 2006, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, aku dan orang tuaku bersilaturahmi ke rumah keluarga Nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan antara aku dan Nina. Tapi pada saat itu Nina baru dirawat di rumah sakit sejak bulan Ramadhan. Saat kutemui, Nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumannya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orang tuanya akan berangkat ke luar negeri. Tetapi Nina tidak pernah mau meladeniku.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber: &lt;a href="http://www.facebook.com/?ref=home#%21/group.php?gid=113648041888"&gt;Forum al-Kautsar as-Sunnah&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-5810808274616460292?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/5810808274616460292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/5810808274616460292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/5810808274616460292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/06/akhirnya-cintaku-berlabuh-karena-allah.html' title='Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Allah [part one]'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TBhc8hUS4FI/AAAAAAAADD0/PlptRteCDoQ/s72-c/birrruuu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1134873517583118139</id><published>2010-05-28T23:57:00.000-07:00</published><updated>2010-05-28T23:57:26.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Kisah Menjadi Kaya karena Menikah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TAC6o_6XaaI/AAAAAAAACBM/sXjK0sDDbJU/s1600/52.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TAC6o_6XaaI/AAAAAAAACBM/sXjK0sDDbJU/s320/52.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, “Ke mana saja uangmu selama ini?” Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana saja uangku selama ini? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah (ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung. Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis, instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat, honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku selama ini? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi atas aliran uangku yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia berkata, “Gajiku jauh di bawah gajimu...”. Kata-kata suamiku -ketika masih calon- itu membuatku terperangah. “Yang benar saja?” sambutku heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah –walaupun bertipe RSS- di dalam kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan “tak kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas.” Fakta bahwa gajinya kecil membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai mengatur penghasilan. Sedang aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pertama kami pindahan.&lt;br /&gt;Aku menata baju-baju kami di lemari. “Mana lagi baju, Mas?” tanyaku pada suami yang tengah berbenah. “Udah, itu aja!” Aku mengernyit. “Itu aja? Katanya kemarin baju Mas banyak?” tanyaku lebih lanjut. “Iya, banyak kan?” tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar rumah. Sedang untuk baju rumah, tiga potong kaos oblong dengan gambar sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama, pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja pakaian. Oo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya.&lt;br /&gt;Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat...! Untuk makan seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu. Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari. Buah–makanan -kesukaanku- dan susu –minuman favorit suamiku- selalu tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk makan ketika melajang? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah mencatat pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan? Ups!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sebulan menikah.&lt;br /&gt;“De, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak? Bisa lebih diatur lagi?”&lt;br /&gt;“Mas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah saranaku mengerjakan amanah di organisasi.” Si mas pun mengangguk. Tapi ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300 ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bulan awal perkawinan kami.&lt;br /&gt;Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali, masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah. Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi. Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu? Belum lagi jika hari Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan Sabtu Ahadku berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi tiga bulan menikah.&lt;br /&gt;“Ke ITC, yuk, Mas?” Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional. “Oke, tapi buat daftar belanja, ya?” kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC, aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,”Kita selesaikan yang ada dalam daftar dulu?” Aku mengangguk malu. Dan aku kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada sesuatu yang kubeli. Berapa ya dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tiga bulan pernikahan “Kita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk Bude?” Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat. Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu.&lt;br /&gt;“Sekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu...” Aku ingat, tadi pagi seorang tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinzaman(meski tidak langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan lantas menjadi pelit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semester pertama pernikahan.&lt;br /&gt;Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini, setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan, mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat benda di etalase itu akan kumiliki. Rasanya sungguh indah, memiliki sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang kukumpulkan dari gajiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri. Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu? Indahnya, aku menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit. Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/yusuf-mansur-network/kisah-menjadi-kaya-karena-menikah/430296260209"&gt;Catatan Yusuf Mansur Network&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1134873517583118139?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1134873517583118139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/kisah-menjadi-kaya-karena-menikah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1134873517583118139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1134873517583118139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/kisah-menjadi-kaya-karena-menikah.html' title='Kisah Menjadi Kaya karena Menikah'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/TAC6o_6XaaI/AAAAAAAACBM/sXjK0sDDbJU/s72-c/52.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1745924853004037350</id><published>2010-05-20T19:11:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T19:15:43.375-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Tak Pernah Meninggalkan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_Xshq5HcFI/AAAAAAAAB_c/JSID8LmfM5A/s1600/12.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_Xshq5HcFI/AAAAAAAAB_c/JSID8LmfM5A/s320/12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberikanku sebuah pengajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan seperti dalam novel-novel romantis, tetapi tetap bagiku ia adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari semua novela tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. Mereka bertemu di sebuah majlis resepsi pernikahan dan kata ayahku dia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu dia tahu, inilah wanita yang akan dikahwininya. Ia &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menjadi kenyataan dan mereka telah bernikah selama 40 tahun dengan tiga orang anak. Aku anak sulung, telah berkahwin dan memberikan mereka dua orang cucu. Ibu bapaku hidup bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi ibu bapa yang sangat baik bagi kami, membimbing kami dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Beberapa jiran kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasaraya yang menjual alat-alat keperluan rumah tangga. Mereka mengatakan hari pembukaan adalah waktu terbaik untuk berbelanja barang keperluan kerana barang sangat murah dengan kualiti yang berpatutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ibuku menolaknya kerana ayahku sebentar lagi akan pulang dari kerja. Kata ibuku,”Ibu tak akan pernah meninggalkan ayahmu sendirian”.&lt;br /&gt;Perkara itu yang selalu ditegaskan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang wanita, aku wajib bersikap baik terhadap suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sihat mahupun sakit. Seorang wanita harus menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu. Menurut mereka, itu hanyalah lafaz janji pernikahan, omongan kosong belaka. Tapi aku tetap mempercayai nasihat ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami sekeluarga mengalami berita duka. Setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Doktor mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di pembaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku, seorang lelaki yang masih sihat di usia tuanya. Tetapi dia tetap setia merawat ibuku, menyuapinya, bercerita segala hal dan membisikkan kata-kata cinta pada ibu. Ayahku tak pernah meninggalkannya. Selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya. Ayahku pernah mengilatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,”Untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan hodoh sekali”.&lt;br /&gt;Ayahku menjawab, “Aku ingin kau tetap merasa cantik”.&lt;br /&gt;Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,”Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng, dan ibuku berkata, “Kerana aku tak pernah meninggalkannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan Ibuku, Yasmine Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggungjawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1745924853004037350?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1745924853004037350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/tak-pernah-meninggalkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1745924853004037350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1745924853004037350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/tak-pernah-meninggalkan.html' title='Tak Pernah Meninggalkan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_Xshq5HcFI/AAAAAAAAB_c/JSID8LmfM5A/s72-c/12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2648368143562127175</id><published>2010-05-18T21:11:00.000-07:00</published><updated>2010-05-20T19:17:27.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>"Duhai Ukhti,.... Duhai Istri Sholehah,... Aku Ingin Sepertimu..."</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_XtFAciq8I/AAAAAAAAB_k/ArI8FcCzp_M/s1600/345899xzcvsekosp.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_XtFAciq8I/AAAAAAAAB_k/ArI8FcCzp_M/s320/345899xzcvsekosp.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Taken From: http://www.facebook.com/topic.php?uid=117474713865&amp;amp;topic=13068#topic_top&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini nyata adanya...&lt;br /&gt;Sengaja aku tulis agar kita semua khususnya aku pribadi dapat mengambil satu pelajaran yang sangat berharga. InsyaALLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Klik”.... HP berdering 1 kali tanda ada sms masuk.. Waktu itu jam menunjukkan pukul 18.30 WIB.&lt;br /&gt;Segera kubuka, ternyata dari pujaan hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah tidur, say?” Tanya suamiku.&lt;br /&gt;“Belum, tapi Dedek sudah tidur”&lt;br /&gt;“Jadi meeting ta?? Kalau ndak jadi meeting, mau dibuatkan apa??” Biasanya, suami sms 30 menit sebelum nyampe rumah kalau ingin dibuatkan sesuatu...&lt;br /&gt;“Iya jadi, tp pengennya Asyam pulang dulu, nanti jam 8 berangkat lagi”&lt;br /&gt;“Kalau tidak merepotkan, tolong buatkan susu campur kopi sedikit, gulanya satu setengah sendok”&lt;br /&gt;“Ok” jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kuletakkan HP, lalu aku langsung merapikan meja, dan segera ku hidangkan soto ayam yang tinggal sedikit beserta tahu dan tempe. Tak lupa ku dinginkan nasi di piring lengkap dengan kopi susu kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 menit kemudian, suara kendaraan terdengar berhenti di depan rumah. Segera kusambut dan suami langsung menuju meja makan menyeruput minuman yang sudah kusiapkan di meja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah..." gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyam sholat Isya’ dulu ya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun menunggunya di meja makan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai sholat Isya’, suami langsung makan. Seperti biasa, sambil menceritakan aktivitas yang dilakukan selama di kantor hari itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog suami istri di meja makanpun berlangsung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tadi sore ketemu Yaqin temen kantor kita dulu”&lt;br /&gt;“Oh ya?? Trus???” tanyaku penasaran ingin mendengar cerita istrinya Yaqin ini.&lt;br /&gt;“Awalnya Asyam sama temen kantor mau kerumahnya, tapi dia ada acara ba’da Maghrib. Jadi, dia sempatkan mampir ke kantor untuk bertemu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Yaqin ini sangat aktif mengikuti kegiatan dari masjid satu ke masjid yang lain bersama teman-teman ikhwan yang lain. Bahkan dia juga pernah ke India dan Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak Yaqin menikah dan kami juga menikah, suamiku jarang sekali ada waktu longgar untuk bertemu denan Yaqin. Via telepon saja bisa dihitung dengan jari. Yaqin sahabat suamiku, juga temenku waktu masih kerja di sebuah perusahaan di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citanya terkabulkan untuk menikahi akhwat asli Temboro. Alasannya karena akhwat-akhwat di sana banyak yang hafal Al-Qur'an dan sejak kecil sudah mondok, bercadar pula. Menurut informasi dari teman, di Temboro juga wajib berbusana muslim bagi Muslimah yang akan memasuki kawasan tersebut. Juga merupakan markas Tabligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertemu dengan istrinya mungkin 3 kali, di rumah Yaqin, juga pernah di jalan waktu belanja di Ampel... Istrinya cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi kecantikannya tertutup cadar, sungguh anggun. Dia juga hafal Al-Qur'an di usia yang relatif sangat muda bagiku, Subhanallah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor itu, tepatnya di ruang nego, Yaqin menceritakan penyakit yang diderita istrinya selama mereka bersama. Itu artinya, ujian itu selama pernikahan mereka yaitu sekitar 2 tahun lebih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti... Awalnya mereka mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang dideritanya.&lt;br /&gt;Tak terasa pernikahan mereka sudah memasuki tahun ketiga... Dan usia putri mereka sudah sekitar 18 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin parah..&lt;br /&gt;Waktu bulan Ramadhan kemarin, suami pernah bertemu dengan Yaqin di sebuah Rumah Sakit terkenal di Surabaya. Waktu itu, suami menjenguk saudaraku di rumah sakit yang sama. Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh. Dokter juga menyarankan agar darah yang dipakai adalah darah yang sudah steril tapi memang harganya mahal. Akan tetapi, Yaqin hanya mampu untuk membeli darah yang biasa. Menurut informasi, darah yang biasa (tidak steril) itu masih bercampur dengan berbagai macam virus yang akan berakibat menular di tubuh pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu suami menyampaikan berita ini, aku sempat tak percaya kalau penyakitnya sampai separah itu. Ya Allah… pikiranku mulai tak tenang. Ada kekhawatiran dalam hati kecilku kala itu. Namun segera ku tepis, dan segera mendoakan yang terbaik untuk istri dan keluarga Yaqin. Aku sempat mengingatkan suami untuk telepon atau menjenguknya di rumah Sakit, tapi waktu itu Yaqin tidak bisa dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. Diobati lagi, sembuh... Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, Alhamdulillah sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya.&lt;br /&gt;"Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas."&lt;br /&gt;"Semua terlihat kabur."&lt;br /&gt;Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya... Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Sungguh kabar gembira, andaikan kami tahu akan hal itu. Tapi sayang, kami tidak mendengar kabar baik itu.&lt;br /&gt;Aahh, mungkin mereka terlalu gembira. Sampai-sampai lupa untuk memberi tahu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya.." pintanya sambil memegang perutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mi.. mi.. kok sakit terus sich Ummi ini". Spontan Yaqin melontarkan keluhannya. Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat penderitaan yang dialami istrinya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur'an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi takut hafalan Ummi hilang."&lt;br /&gt;"Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur'an agar selalu ingat Allah.&lt;br /&gt;Subhanallah, dalam keadaan seperti itu dia masih ingin membaca Al-Qur'an untuk mengulang-ulang kembali hafalannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, istrinya terlihat sangat senang sekali...&lt;br /&gt;"Bi, tadi malam Ummi mimpi naik kuda. Ummi melihat dari kejauhan ada warna kuning keemasan. Setelah mendekat, ternyata itu jagung. Ummi makan jagung itu, dan Subhanallah rasanya enaaak sekali. Tak pernah Ummi rasakan jagung seenak itu"&lt;br /&gt;"Yaa, itu tandanya Ummi mau sembuh" kata Yaqin ragu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari selanjutnya, istrinya kembali tersenyum.&lt;br /&gt;"Bi, tadi malam Ummi mimpi lagi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan"&lt;br /&gt;"Itu tandanya Ummi akan segera sembuh." Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaqin mencoba menghibur istrinya.&lt;br /&gt;"Mi... Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat dipakai lebaran."&lt;br /&gt;"Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok" jawabnya singkat.&lt;br /&gt;Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju sekarang.&lt;br /&gt;"Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi."&lt;br /&gt;"Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi."&lt;br /&gt;”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??”&lt;br /&gt;Yaqin baru sadar kalau obat istrinya hampir habis. Dia langsung menuju loket pembelian obat meninggalkan istrinya sendiri di kamar. Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betapa terkejutnya dia. Banyak perawat dan dokter yang mengelilingi istrinya.&lt;br /&gt;"Ada apa dengan istriku??." tanyanya setengah membentak.&lt;br /&gt;"Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali." jawab perawat yang mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun dari bibirnya. Yaqin menghapus air mata istrinya dengan penuh cinta. Dia pegang erat tangan istrinya. Ya Allah…… betapa istrinya sangat lemas dan pucat. Hatinya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?"&lt;br /&gt;"Pasti Mi... Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi." Hatinya seakan berkecamuk.&lt;br /&gt;"Doanya yang banyak ya Bi"&lt;br /&gt;"Pasti Ummi"&lt;br /&gt;"Jaga dan rawat anak kita dengan baik."&lt;br /&gt;"Abi jangan sampai seperti suami di kamar sebelah ini." Sambil menunjuk ke kamar pasien di sebelahnya.&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa Mi?"&lt;br /&gt;"Istrinya lagi sakit, dia malah asyik berbicara dengan wanita lain lewat HP."&lt;br /&gt;"Abi juga jangan sampai seperti suami yang di kamar itu." Kembali jarinya menunjuk kamar yang dia maksud.&lt;br /&gt;"Memangnya suaminya kenapa, Mi?"&lt;br /&gt;"Kalau yang disana, istrinya sakit dia malah bingung mau ngapain. Jangan seperti itu ya Bi."&lt;br /&gt;“Trus, Abi harus bagaimana agar Ummi senang?” Tanya Yaqin dengan perasaan semakin tak menentu.&lt;br /&gt;”Abi harus selalu nemenin Ummi, supaya Abi bisa membimbing Ummi menyebut nama Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah pembicaraan itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu ia bendung lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, ini jenazah baik." kata perawat itu.&lt;br /&gt;Dengan penasaran dia balik bertanya.&lt;br /&gt;"Dari mana ibu tahu???"&lt;br /&gt;"Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak ini."&lt;br /&gt;"Alhamdulillah..." Jerit hatinya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Berikut inilah kejadian yang dialami oleh Istri Sholehah kala itu (Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِى إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ - قَالَ - فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِى ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِى ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ - قَالَ - فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ - يَعْنِى بِهَا - عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِى الدُّنْيَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di malam ke 25 di Bulan Ramadhan, jenazah itu tiba di tanah kelahiran istrinya di Temboro. Ketika itu mertua Yaqin dan semua santri baru selesai melaksanakan sholat tarawih.&lt;br /&gt;"Jenazah ini tidak perlu diapa-apakan lagi, karena ini jenazah baik..." kata pengasuh pondok.&lt;br /&gt;Semua jamaah sholat tarawih ikut menyolatkan jenazah almarhumah. Subhanallah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah itupun dikuburkan pada hari itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, semua kembali ke rumah termasuk Yaqin.&lt;br /&gt;"Nak, sudahlah... Sekarang kita jangan terlalu memikirkan dia lagi." ucap bapak mertuanya seolah mengerti betapa Yaqin merasa sangat kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibarat kita menyekolahkan anak kita, sekarang dia sudah lulus dan kita juga lulus mendidiknya." Yaqin hanya bisa diam dan menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lupakanlah dia, dan segeralah kamu mencari penggantinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, saya menikah dengan putri bapak seolah-olah hanya untuk menyempurnakan agamanya."&lt;br /&gt;"Bagaimana tidak, sejak kecil sudah mondok dan hafal Al-Qur'an. Setelah lulus, langsung menikah dan sekarang sudah dipanggil Pemilik yang sebenarnya."&lt;br /&gt;"Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini Pak, akan tetapi sangat banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana" Air matapun tak terasa mengalir deras...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------SELESAI-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita suami, aku hanya bisa diam membisu. Hanya satu yang ada dalam hatiku saat itu.&lt;br /&gt;"Subhanallah..., begitu senangnya dia di alam sana... Akankah aku bisa seperti dia..??? Aaaahhh aku masih sangat jauuuuh untuk bisa seperti itu."&lt;br /&gt;"Duhai Ukhti,.... Duhai Istri Sholehah,... Aku Ingin Sepertimu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ada genangan air mata di kedua bola mata suamiku… Akupun tak sanggup untuk meluapkan air mata ini…"Tapi, air mata ini bisa aku bendung waktu itu, karena aku malu untuk menangis di hadapan suami. Malu… karena aku masih jauuh untuk bisa seperti istri Yaqin. Namun, begitu suami keluar karena ada suatu kepentingan... Aku tumpahkan semua air mata ini dalam munajat kepadaNYA..."&lt;br /&gt;"Ya Allah, Ya Tuhanku... Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun, maka ampunilah aku..." Sampai sekarang selalu terngiang di pikiranku... Semoga aku bisa mengambil ibrahnya. Terima kasih Ya Allah, Engkau beri aku satu pelajaran penting hari ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini aku tulis sejak Senin, 02 November 2009 ketika putriku berusia 17 bulan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 04 November 2009&lt;br /&gt;09.30 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_Ummu Farah_&lt;br /&gt;Siti Fauziah Fauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, hanya atas Cinta dan AnugerahMU, sampai detik ini hamba masih diberi kesempatan untuk merasakan manisnya Iman... Alhamdulillah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan terima kasihku&lt;br /&gt;Untuk suamiku tercinta Irfan Fauzi, Jazakallahu khairan atas bimbinganmu selama ini... Terima kasih atas saran dan kritikannya pada tulisan ini... :-)&lt;br /&gt;Untuk Anak-anakku:&lt;br /&gt;Fanny &amp;amp; Farah, kalian adalah penyejuk mata Ummi &amp;amp; Abi.&lt;br /&gt;Untuk keluarga besarku, terima kasih atas cinta &amp;amp; kasih sayang yang melimpah untuk kami...&lt;br /&gt;Untuk sahabatku tercinta, maafkan atas kesalahanku selama ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2648368143562127175?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2648368143562127175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/duhai-ukhti-duhai-istri-sholehah-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2648368143562127175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2648368143562127175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/duhai-ukhti-duhai-istri-sholehah-aku.html' title='&quot;Duhai Ukhti,.... Duhai Istri Sholehah,... Aku Ingin Sepertimu...&quot;'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_XtFAciq8I/AAAAAAAAB_k/ArI8FcCzp_M/s72-c/345899xzcvsekosp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6791694734545751230</id><published>2010-05-16T20:26:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T20:26:59.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>kok jodohku begini???</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_C3O7JpUII/AAAAAAAAB_E/90-bS6Ec210/s1600/___Frozen_illusion____by_Liek.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_C3O7JpUII/AAAAAAAAB_E/90-bS6Ec210/s320/___Frozen_illusion____by_Liek.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang sahabat mengirim sms curhat tentang suaminya. Dalam curhatan itu  ia mengeluhkan tentang tindak tanduk suaminya yang lebih banyak kontra  dengan dirinya. Merasakan betapa lelahnya ia menghadapi suaminya yang  'loading'nya lama banget katanya. Punya imam begitu…cuapee deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha bijak, aku membalas sms nya, menasehati agar ia berdamai dengan  keadaan, namanya juga udah jodoh, suka tidak suka yaaa… jalani dan  bersabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang sahabat membalas smsku dengan jawaban, "Aku sih paham, memang udah  jodoh…tapi kok jodohku begini?"&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, pertanyaan ini menghinggapi begitu banyak orang. Ketika mereka  telah menikah, ternyata pasangan hidupnya jauh dari harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah manusia, kita ditakdirkan dengan kondisi siap menerima segala  hal yang menyenangkan dan sesuai dengan keinginan kita. Tapi sedikit  sekali dari kita, yang siap dengan hal-hal buruk yang terjadi dalam  kehidupan kita. Begitupula dengan masalah jodoh. Siapa yang tidak ingin  memiliki pasangan hidup yang sholeh atau sholehah? Siapa yang tidak  ingin memiliki pendamping yang berakhlak baik? Seburuk apapun diri kita,  pastinya kita ingin pasanganan hidup yang baik. Tetapi tidak setiap  orang mendapati kenyataan ini dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang suaminya sungguh baik, tetapi istrinya galak, matre dan tukang  gosip. Ada yang istrinya sholehah, tapi suaminya tukang mabuk, suka judi  dan bersikap kasar. Atas fenomena ini, mungkin banyak yang  bertanya-tanya, kok kesannya jadi nggak adil ya? Orang baik-baik, tapi  dapet jodohnya begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jadi sulit dijelaskan. Tetapi jika ingin dipahami, inilah ujian  Allah. Sesungguhnya Allah berkehendak membuka ladang amal yang  seluas-luasnya bagi diri kita, lewat tingkah polah pasangan hidup kita,  yang jauh dari harapan. Alhamdulillah, tidak usah cari jauh-jauh, ladang  amal ada di depan mata. Karena pernikahan memang ladang amal soleh.  Bagi wanitanya, pun bagi laki-lakinya. Maka bagi yang “tidak beruntung”  dengan pasangan hidup yang tidak sholeh atau sholehah, mudah-mudahan  tetap dapat memberi pelayanan yang terbaik bagi pasangannya, dengan  harapan semoga mendapat ridho Allah dan semoga kelak mendapat derajat  yang tinggi di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, mari  mengevaluasi diri. Apa sesungguhnya niat kita ketika hendak menikah?  Mudah-mudahan, jawaban dari pertanyaan itu, dapat memperbaiki mood kita  yang buruk karena pasangan hidup tidak sesuai harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar kita meniatkan pernikahan sebagai ibadah atau sarana  pengabdian kita kepada Sang Khalik, maka semestinya pelayanan kita  terhadap pasangan hidup kita, tidak ada embel-embelnya. Artinya, mau dia  bertingkah seperti apapun tidak jadi masalah, karena pasangan hidup  hanya sarana untuk mengabdi kepada Allah. Fokus dan tujuan kita adalah  Allah. Jika ternyata pasangan hidup kita adalah pribadi yang sholeh/ah,  maka itu adalah bonus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, sebelum  berputus asa, mungkin ada baiknya kita merenung kembali. Tidakkah kita  terlalu meninggikan kriteria bagi pasangan hidup kita? Sikap berharap  secara berlebihan terhadap pasangan hidup, berpotensi menyebabkan rumah  tangga tidak berjalan dengan baik. Karena pola pikir yang tertanam dalam  diri kita adalah menerima kebaikan, bukan keinginan untuk saling  mengisi dan memperbaiki satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tinggi standard yang kita tetapkan, maka akan semakin besar  potensi kita untuk kecewa. Karena semakin tinggi standard, semakin  terlihat jelas jika terjadi hal-hal yang melenceng dari standard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki harapan tinggi boleh-boleh saja. Tapi, sebelum kita bermimpi  mendapatkan suami seperti Rasulullah, lebih baik kita berkaca diri,  sudahkah kita seperti Ibunda Khadijah r.ha? Sebelum berharap memiliki  istri seperti Fatimah Az-Zahra r.ha, lebih baik kita bercermin, sudahkah  kita seperti Ali bin Abi Thalib r.a?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berprasangka baiklah kepada Allah, kemudian berserah diri. Jangan  mendikte Allah tentang jodoh kita. Percaya, bahwa Allah memberi kita  yang terbaik sesuai dengan penilaian Allah terhadap diri kita. Yakin,  Allah tahu yang paling cocok untuk diri kita. Kemudian berserah dirilah  dan bersabar dengan jodoh pilihan dari Allah. Insya Allah, ini akan  lebih menenangkan batin dan membuka pintu keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Maka berpikirlah positif  apapun yang terjadi. Melihat segala sesuatu dengan  kemungkinan-kemungkinan terbaik. Jika pasangan hidup pemalas, mungkin,  Allah berkehendak kita menjadi lebih rajin. Jika pasangan hidup pemarah,  mungkin, Allah berkehendak kita menjadi lebih sabar. Jadi, orientasi  kita selalu ke Allah. Insya Allah, ini lebih melapangkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, mungkin kisah yang terjadi di masa Harun Al-Rasyid  berkuasa di bawah ini, bisa menjadi pencerahan. Diceritakan, terdapatlah  seorang wanita muda yang cantik dan sholehah, namun bersuamikan seorang  laki-laki tua yang buruk rupa, buruk pula perangainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita tersebut tinggal dalam sebuah kemah. Kebetulan ia kedatangan  seorang tamu. Ketika datang suaminya, bergegaslah wanita itu mengambil  air, kemudian membasuh tangan dan kaki suaminya. Suaminya tidak  menunjukkan sikap yang simpatik atas pelayanan istrinya. Atas sikap  suami tersebut, sang tamu berkomentar. Mengapa sang wanita harus  bersusah payah berkhidmat sedemikian rupa padahal suaminya sudah tua,  buruk rupa dan kasar. Atas komentar tamu tersebut, sang wanita menjawab.  “Aku mendengar Rasulullah bersabda, bahwa iman terbagi menjadi dua.  Separuh dalam syukur dan separuh dalam sabar. Aku sangat bersyukur Allah  menganugerahkan kepadaku wajah yang cantik. Maka aku ingin  meyempurnakan separuhnya dengan bersabar atas perlakuan suamiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ummuali.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6791694734545751230?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6791694734545751230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/kok-jodohku-begini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6791694734545751230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6791694734545751230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/kok-jodohku-begini.html' title='kok jodohku begini???'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S_C3O7JpUII/AAAAAAAAB_E/90-bS6Ec210/s72-c/___Frozen_illusion____by_Liek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-7301163489785569754</id><published>2010-05-14T19:19:00.001-07:00</published><updated>2010-05-14T19:27:15.499-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Sergapan Rasa Memiliki</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4GY1yoZpI/AAAAAAAAB-8/VD7vzoCxWbc/s1600/Want_More_Time___by_pacificdreams.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4GY1yoZpI/AAAAAAAAB-8/VD7vzoCxWbc/s320/Want_More_Time___by_pacificdreams.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;..milik nggendhong lali..&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;rasa memiliki membawa kelalaian&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;-peribahasa Jawa-&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Ya. Di jalan cinta pejuang, hakikat ini akan kita asah. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling mesra, dengan isteri yang paling setia, atau anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya..&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/ Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki/…&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;by Salim A. Fillah&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Sumber : http://salim-a-fillah.blog.friendster.com/2008/08/sergapan-rasa-memiliki/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-7301163489785569754?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/7301163489785569754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/sergapan-rasa-memiliki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7301163489785569754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7301163489785569754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/sergapan-rasa-memiliki.html' title='Sergapan Rasa Memiliki'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4GY1yoZpI/AAAAAAAAB-8/VD7vzoCxWbc/s72-c/Want_More_Time___by_pacificdreams.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-7385505648187149939</id><published>2010-05-14T19:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T19:25:37.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Kita'/><title type='text'>Berbicara dengan Hati, Bukan Jari</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4EReATNrI/AAAAAAAAB-s/E1zCrn_CLhw/s1600/2ba9b349f61d4c30b75a003ec7e0e950.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4EReATNrI/AAAAAAAAB-s/E1zCrn_CLhw/s320/2ba9b349f61d4c30b75a003ec7e0e950.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu.&lt;br /&gt;Dan perhatikan manusia di sekelilingmu."&lt;br /&gt;-- Eric Schmidt, CEO Google&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADIL jengkel betul dengan istrinya.&lt;br /&gt;Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah.&lt;br /&gt;Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot.&lt;br /&gt;Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua.&lt;br /&gt;Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah.&lt;br /&gt;Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang.&lt;br /&gt;Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan.&lt;br /&gt;Begitu keduanya menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan.&lt;br /&gt;Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar.&lt;br /&gt;Mungkin saja letih.&lt;br /&gt;Dia ingin istirahat penuh.&lt;br /&gt;Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya.&lt;br /&gt;Anita kadang tertawa sendiri.&lt;br /&gt;Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya.&lt;br /&gt;Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;Namun Anita cuek bebek.&lt;br /&gt;Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya.&lt;br /&gt;Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN.&lt;br /&gt;Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati.&lt;br /&gt;Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga.&lt;br /&gt;Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang&lt;br /&gt;beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga.&lt;br /&gt;Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap.&lt;br /&gt;Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial.&lt;br /&gt;Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu.&lt;br /&gt;Tak aneh bila kemudian muncul istilah, 'mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali.&lt;br /&gt;Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman.&lt;br /&gt;Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat&lt;br /&gt;Tapi bukankah merujuk peribahasa, 'man behind the gun', bahwa baik-buruknya penggunaan&lt;br /&gt;teknologi tergantung si pemakainya?&lt;br /&gt;Betul.&lt;br /&gt;Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah.&lt;br /&gt;Sebaliknya pun demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus.&lt;br /&gt;Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari.&lt;br /&gt;Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget.&lt;br /&gt;Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;Hingga muncul istilah, 'it is heaven for business owners, but hell for employees'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya.&lt;br /&gt;Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting.&lt;br /&gt;Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang&lt;br /&gt;cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University&lt;br /&gt;of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan.&lt;br /&gt;Schmidt berujar, "Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu."&lt;br /&gt;Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet.&lt;br /&gt;Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang dirasakan Adil sekarang.&lt;br /&gt;Ia merasa jauh sekali dari istrinya.&lt;br /&gt;Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita.&lt;br /&gt;Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja&lt;br /&gt;pada saat mereka berada di rumah.&lt;br /&gt;Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan.&lt;br /&gt;Baginya komunikasi yang baik bukan lagi&lt;br /&gt;semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju.&lt;br /&gt;Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah,&lt;br /&gt;dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak&lt;br /&gt;dari kegaduhan dunia virtual dan kembali&lt;br /&gt;pada 'habitatnya' sebagai makhluk sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.facebook.com/marriagerebuilders&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-7385505648187149939?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/7385505648187149939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/berbicara-dengan-hati-bukan-jari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7385505648187149939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7385505648187149939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/berbicara-dengan-hati-bukan-jari.html' title='Berbicara dengan Hati, Bukan Jari'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-4EReATNrI/AAAAAAAAB-s/E1zCrn_CLhw/s72-c/2ba9b349f61d4c30b75a003ec7e0e950.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6550936036292949069</id><published>2010-05-07T01:54:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T01:54:00.016-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Fathimah dan Ali ( Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-PT8bVUHjI/AAAAAAAAB-k/OTvaBPhPdtQ/s1600/b.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-PT8bVUHjI/AAAAAAAAB-k/OTvaBPhPdtQ/s320/b.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;~ [ Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?? yang keduanya  saling memendam apa yang mereka rasakan .. tapi pada akhirnya mereka  dipertemukan dalam ikatan suci nan indah .. ] ~&lt;br /&gt;&lt;span&gt; --------------------------&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; bismillahirrahmaaniirrahii&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun.  Fathimah.&lt;br /&gt;Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya  itu, sungguh memesonanya.&lt;br /&gt;Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka  memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.&lt;br /&gt;Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.&lt;br /&gt;Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.&lt;br /&gt;Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn  ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!&lt;br /&gt;Maka gadis cilik itu bangkit.&lt;br /&gt;Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.&lt;br /&gt;Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan  tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.&lt;br /&gt;Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi  mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.&lt;br /&gt;Mengagumkan!&lt;br /&gt;‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang  mengejutkan.&lt;br /&gt;Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat  kedudukannya dengan Sang Nabi.&lt;br /&gt;Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.&lt;br /&gt;Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq,  Radhiyallaahu ’Anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.&lt;br /&gt;Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.&lt;br /&gt;Kedudukan di sisi Nabi?&lt;br /&gt;Abu Bakr lebih utama,&lt;br /&gt;mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,&lt;br /&gt;namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah&lt;br /&gt;sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di  ranjangnya..&lt;br /&gt;Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.&lt;br /&gt;Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk  Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah,  Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..&lt;br /&gt;Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti  ’Ali.&lt;br /&gt;Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang  dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..&lt;br /&gt;Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?&lt;br /&gt;Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa  membahagiakan Fathimah.&lt;br /&gt;’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.&lt;br /&gt;”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan  Fathimah atas cintaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak pernah meminta untuk menanti.&lt;br /&gt;Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.&lt;br /&gt;Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap  di hatinya yang sempat layu.&lt;br /&gt;Lamaran Abu Bakr ditolak.&lt;br /&gt;Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.&lt;br /&gt;Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.&lt;br /&gt;Setelah Abu Bakr mundur,&lt;br /&gt;datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan  perkasa,&lt;br /&gt;seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani  tegak mengangkat muka,&lt;br /&gt;seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh  Allah bertekuk lutut.&lt;br /&gt;’Umar ibn Al Khaththab.&lt;br /&gt;Ya, Al Faruq,&lt;br /&gt;sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.&lt;br /&gt;’Umar memang masuk Islam belakangan,&lt;br /&gt;sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.&lt;br /&gt;Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?&lt;br /&gt;Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?&lt;br /&gt;Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan  Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?&lt;br /&gt;Dan lebih dari itu,&lt;br /&gt;’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,&lt;br /&gt;”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan  ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”&lt;br /&gt;Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar  melakukannya.&lt;br /&gt;’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh  yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa  Sallam.&lt;br /&gt;Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.&lt;br /&gt;Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit  pasir.&lt;br /&gt;Menanti dan bersembunyi.&lt;br /&gt;’Umar telah berangkat sebelumnya.&lt;br /&gt;Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.&lt;br /&gt;”Wahai Quraisy”, katanya.&lt;br /&gt;”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.&lt;br /&gt;Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau  ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”&lt;br /&gt;’Umar adalah lelaki pemberani.&lt;br /&gt;’Ali, sekali lagi sadar.&lt;br /&gt;Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang  belum siap menikah.&lt;br /&gt;Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.&lt;br /&gt;’Umar jauh lebih layak.&lt;br /&gt;Dan ’Ali ridha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak pernah meminta untuk menanti.&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30764242&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=405867636584&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=405867636584&amp;amp;id=1308642007"&gt;&lt;img class="img" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs556.ash1/32393_1305483959703_1308642007_30764242_2907691_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ia mengambil kesempatan.&lt;br /&gt;Itulah keberanian.&lt;br /&gt;Atau mempersilakan.&lt;br /&gt;Yang ini pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.&lt;br /&gt;Lamaran ’Umar juga ditolak.&lt;br /&gt;Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?&lt;br /&gt;Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah  binti Rasulillah?&lt;br /&gt;Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab  binti Rasulillah?&lt;br /&gt;Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan  diri.&lt;br /&gt;Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan  mereka.&lt;br /&gt;Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan  kekerabatan dengan mereka?&lt;br /&gt;Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?&lt;br /&gt;Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman  Ansharnya itu membangunkan lamunan.&lt;br /&gt;”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat,  engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”&lt;br /&gt;”Aku?”, tanyanya tak yakin.&lt;br /&gt;”Ya. Engkau wahai saudaraku!”&lt;br /&gt;”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”&lt;br /&gt;”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Ali pun menghadap Sang Nabi.&lt;br /&gt;Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk  menikahi Fathimah.&lt;br /&gt;Ya, menikahi.&lt;br /&gt;Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.&lt;br /&gt;Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar  untuk makannya.&lt;br /&gt;Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?&lt;br /&gt;Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia  siap?&lt;br /&gt;Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.&lt;br /&gt;”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.&lt;br /&gt;Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.&lt;br /&gt;Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.&lt;br /&gt;Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”&lt;br /&gt;Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.&lt;br /&gt;Dan ia pun bingung.&lt;br /&gt;Apa maksudnya?&lt;br /&gt;Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat  penerimaan atau penolakan.&lt;br /&gt;Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.&lt;br /&gt;Mungkin tidak sekarang.&lt;br /&gt;Tapi ia siap ditolak.&lt;br /&gt;Itu resiko.&lt;br /&gt;Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak  kunjung berjawab.&lt;br /&gt;Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.&lt;br /&gt;Ah, itu menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”&lt;br /&gt;”Entahlah..”&lt;br /&gt;”Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”&lt;br /&gt;”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,&lt;br /&gt;”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan  dua!&lt;br /&gt;Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa  Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.&lt;br /&gt;Dengan menggadaikan baju besinya.&lt;br /&gt;Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi  berkeras agar ia membayar cicilannya.&lt;br /&gt;Itu hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan  Fathimah.&lt;br /&gt;Dengan keberanian untuk menikah.&lt;br /&gt;Sekarang.&lt;br /&gt;Bukan janji-janji dan nanti-nanti.&lt;br /&gt;’Ali adalah gentleman sejati.&lt;br /&gt;Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,&lt;br /&gt;“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jalan cinta para pejuang.&lt;br /&gt;Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.&lt;br /&gt;Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.&lt;br /&gt;Seperti ’Ali.&lt;br /&gt;Ia mempersilakan.&lt;br /&gt;Atau mengambil kesempatan.&lt;br /&gt;Yang pertama adalah pengorbanan.&lt;br /&gt;Yang kedua adalah keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam suatu riwayat dikisahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathimah berkata kepada ‘Ali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali  merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah  denganku? dan Siapakah pemuda itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~yang salah dari pacaran itu bukan perasaannya, de&lt;br /&gt;melainkan jalan yang kita pilih, untuk mempertanggungjawabkan perasaan  tsb lah, yang tidak bijak...~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:) semoga istiqomah,&lt;br /&gt;ini memang tidak mudah. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes seorang teman..&lt;br /&gt;diambil dari Buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6550936036292949069?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6550936036292949069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/fathimah-dan-ali-jalan-cinta-para.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6550936036292949069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6550936036292949069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/05/fathimah-dan-ali-jalan-cinta-para.html' title='Fathimah dan Ali ( Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah)'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S-PT8bVUHjI/AAAAAAAAB-k/OTvaBPhPdtQ/s72-c/b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4405383818700726915</id><published>2010-04-28T20:31:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T02:15:02.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Cinta Tanpa Batas</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: comic sans ms; font-style: italic; text-align: center;"&gt;bukankah kita diciptakan&lt;br /&gt;untuk dapat saling melengkapi…&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: comic sans ms; font-style: italic; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9j9BxlC1oI/AAAAAAAAB-c/LfkYFhxrZQA/s1600/2010_04_18_04_21_43_detail_cinta.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9j9BxlC1oI/AAAAAAAAB-c/LfkYFhxrZQA/s320/2010_04_18_04_21_43_detail_cinta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;"Cinta Tanpa Batas", itulah tema yang diusung Kick Andy suatu episode. Dalam acara itu diundang perempuan-perempuan hebat yang bersuamikan mereka, orang-orang dengan ketidaksempurnaan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Lela, seorang wanita cantik dengan segala kesempurnaan fisiknya, yang menikah dengan Priagung, seorang &amp;nbsp;penderita tuna rungu. Priagung menderita tuna rungu sejak lahir, dan itu menyebabkan dia tidak dapat berkomunikasi selancar orang kebanyakan. Tidak ada keraguan bagi Lela untuk menerima lamaran Priagung meski dia tahu kondisi Priagung yang berbeda dengan orang lain. Mereka tidak pacaran. Hanya berinteraksi sekali waktu, saat Lela berkunjung ke rumah saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin punya suami yang tidak nakal,” begitu kata Lela sambil tersenyum. Mereka hidup bahagia dan sudah dikaruniai seorang putra.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah antara Jajang dan Maryati. Jajang, terpaksa harus hidup di atas kursi roda setelah kakinya mengalami kelumpuhan akibat peristiwa tabrak lari yang menimpanya. Jajang bekerja sebagai pegawai di RS Fatmawati. Dia bertemu dengan Maryati, seorang suster yang juga bekerja di tempat yang sama. Alkisah, mereka memutuskan untuk menikah, setelah sebelumnya Maryati sempat dihinggapi keragu-raguan mengenai pasangannya. Tapi setelah melaksanakan sholat istikharoh, dia pun akhirnya mantap bahwa Jajang adalah jodoh yang dipilihkan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun menikah, meski sempat tidak direstui oleh orang tua Maryati. Dan mereka membuktikan bahwa cinta memang tidak memandang fisik. Pernikahan mereka kini telah berusia 23 tahun, dan telah dikaruniai seorang putrid yang kini beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang ketiga, ada kisah dari seorang tuna netra bernama Muhammad Fitra Salahudin &amp;nbsp;dan seorang wanita cantik bernama Saidah Fauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitra, adalah seorang pemuda yang sedang berusaha menghilangkan kebiasaan buruknya minum-minuman keras, ketika suatu waktu ia menghadiri pesta yang diadakan oleh boss dari pacarnya. Dalam pesta yang menyediakan minuman berlkohol itu, dia kembali menenggak minuman setan itu dan pulang dalam kondisi mabuk berat. Dia menyetir mobil sambil tidur dan tiba-tiba terbangun dalam kegelapan. Wajahnya perih karena tertusuk pecahan-pecahan kaca, bola matanya sebelah keluar, dan sebelah lagi pecah. Tapi nyawanya tertolong dan dia harus menjalani dua kali operasi dengan 150 jahitan. Setelah kejadian itu, dia ditinggalkan oleh pacarnya yang tidak bersedia menerima kondisi fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitra yang sudah tuna netra ingin mencari istri. Saya ingin istri yang Islami, katanya. Dan dikenalkanlah dia dengan Saidah. Saidah sendirilah yang menawarkan diri kepada keluarganya ketika ada tawaran yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, dua orang itu pun dipertemukan untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka berbicara selama dua jam. Dan di akhir percakapan yang hanya dua jam itu, Saidah bersedia menikah dengan Fitra. Ya, dalam waktu hanya dua jam dia bersedia dinikahi oleh seorang yang-dalam kacamata manusia-tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidah yakin, bahwa keinginan Fitra untuk menikahinya berasal dari hati. Fitra tidak bisa melihat, darimana lagi kalau bukan dari hati keinginan itu ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya selalu minta untuk diberi suami yang tidak hanya melihat saya secara fisik. Dan Allah ternyata benar-benar memberi saya suami yang tidak bisa melihat. Dia mengabulkan permohonan saya..” &amp;nbsp;Subhanallah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang tanpa batas. Cinta tidak memandang seseorang itu cantik atau tidak, tampan atau tidak, kaya atau tidak, dan lain sebagainya. Cinta hadir karena Allah telah menganugerahkan perasaan itu bersemayam di dalam hati., tidak peduli seberapa buruk fisik seseorang. Cinta itu menerima setiap kekurangan dan kelebihan. Cinta itu indah di hati, meski tidak indah di mata…..begitu kan?&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;cinta  adalah sarana untuk memahami dua jiwa..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;ia bukan kata yang datang  dari bibir dan lidah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;yang membawa hati bersama-sama..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;tidak ada  yang lebih besar dan suci daripada apa yang diucapkan mulut..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;dia  memancarkan jiwa kita,.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;&amp;nbsp;bisikkan untuk hati kita..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;dan membawa  keduanya bersama-sama..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;(Kahlil Gibran)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://andiahzahroh.multiply.com/journal/item/349/Cinta_Tanpa_Batas_sepotong_ulasan_dari_kisah_cinta_para_pasangan_hebat"&gt;&lt;span style="color: #cc33cc; font-family: 'comic sans ms';"&gt;sumber &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4405383818700726915?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4405383818700726915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/bukankah-kita-diciptakan-untuk-dapat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4405383818700726915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4405383818700726915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/bukankah-kita-diciptakan-untuk-dapat.html' title='Cinta Tanpa Batas'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9j9BxlC1oI/AAAAAAAAB-c/LfkYFhxrZQA/s72-c/2010_04_18_04_21_43_detail_cinta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8371973935922543984</id><published>2010-04-28T18:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T18:53:52.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Sekitar Kita'/><title type='text'>Aku Bukanlah Aib</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9jmmuCFLOI/AAAAAAAAB-U/9HvxQCtz_Yg/s1600/anakmanis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9jmmuCFLOI/AAAAAAAAB-U/9HvxQCtz_Yg/s320/anakmanis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kisah Kehidupan ANAK ADALAH AMANAH-NYA, BUKAN AIB. HANYA TITIPAN, BUKAN MILIK KITA. APAKAH KITA BERHAK MENGGUGAT JIKA TITIPAN-NYA TERNYATA TIDAK SEPERTI ANAK-ANAK LAIN? KITA HANYA DITUGASKAN MENJAGA DAN MENGASUHNYA DENGAN CINTA, KARENA IA DITITIPKAN ALLAH, YANG RAHMAN DAN RAHIM-NYA TAK PERNAH SURUT DARI SISI KITA. BUKAN TUGAS KITA MENILAI APAKAH SESEORANG AMANAH-NYA YANG BERNAMA "KHALID" ATAU SIAPAPUN, LAYAK MENJADI ANAK KITA ATAU TIDAK. ================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAK ADALAH AMANAH-NYA, BUKAN AIB. HANYA TITIPAN, BUKAN MILIK KITA. APAKAH KITA BERHAK MENGGUGAT JIKA&lt;br /&gt;TITIPAN-NYA TERNYATA TIDAK SEPERTI ANAK-ANAK LAIN? KITA HANYA DITUGASKAN MENJAGA DAN MENGASUHNYA DENGAN CINTA, KARENA IA DITITIPKAN ALLAH, YANG RAHMAN DAN RAHIM-NYA TAK PERNAH SURUT DARI SISI KITA. BUKAN TUGAS KITA MENILAI APAKAH SESEORANG AMANAH-NYA YANG BERNAMA "KHALID" ATAU SIAPAPUN, LAYAK MENJADI ANAK KITA ATAU TIDAK.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUTIARA HIKMAH:&lt;br /&gt;Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Khalid, yang terlahir dengan keadaan Down Syndrome. Seorang anak yang merupakan amanah dari Allah, yang tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang&lt;br /&gt;mampu mengurus dirinya sendiri. Khalid memang tidak tumbuh seperti anak-anak normal lainnya, Khalid tidak bisa membaca, mengaji bahkan shalat pun hanya bisa mengikuti gerakan-gerakannya, tanpa bisa menghapal. Bicara pun tidak lancar, tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir 9 tahun. Khalid juga sulit untuk dibiasakan buang air di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Khalid mencintai sesuatu dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya yang tulus, perasaannya yang halus dan penuh kasing sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertasbih...mataku pedih...&lt;br /&gt;Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat Lukman... Anisykurlillahi...&lt;br /&gt;Dan, aku bersyukur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Asli: ANUGERAH TERINDAH&lt;br /&gt;Oleh: Fitri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemeja putih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak di dada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanya tersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminya pada wanita yang mungkin ibunya.Seekor burung yang sedikit kusut dan penyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat ibu keretaku yang baru cukup besar untuk ayah dan ibu roda tiga buatanku sendiri dari kulit buah jeruk bali...'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak henti mengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah. Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah tak peduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untuk menghalau panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetan jalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak di kakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih,&lt;br /&gt;mengantuk dan tak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu. Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalu mengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dan suami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalid tidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanya beberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang mampu mengurus dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harus diperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Hal yang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga aku harus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hingga bahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku dengan wanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu&lt;br /&gt;memberikan buku-buku dan brosur kepada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagah itu, Khalid bin Walid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaran mushaf Al Qur-an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan peci mungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnya yang berbunga dan berenda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang bening melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkin mewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya&lt;br /&gt;dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakku atau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawa Khalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya dengan mainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid baru menunjukkan reaksi saat usianya hampir delapan bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernah selancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Ia harus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapa bulan terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air di kamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selama delapan tahun dari sepuluh tahun usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dari awal sekali, mengakrabkan Khalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dan dipahami Khalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Di belakang rumah ada pohon jambuu...' suara lantang bocah berseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnya yang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri. Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yang&lt;br /&gt;dimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itu gepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh air mata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami. Koordinasi tangannya lemah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadi gumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suara tercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun, walaupun rumahku masih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan salat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman... Anisykurlillahi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi&lt;br /&gt;keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik, tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musik adalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan&lt;br /&gt;ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapati Khalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpa syarat. Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa.&lt;br /&gt;Tapi Khalid memang bukan anak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki. Di zaman saat orang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit, anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog, ekonom atau da'i tersohor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya? Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yang dianggap remeh dan sepele orang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnya tak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akan terus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi, mungkin pada Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanya mencintainya. Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ibu bawa apa, bawa apa?' tanya Fatimah. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalid tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu. 'Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!' teriak Fatimah. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8371973935922543984?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8371973935922543984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/aku-bukanlah-aib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8371973935922543984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8371973935922543984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/aku-bukanlah-aib.html' title='Aku Bukanlah Aib'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9jmmuCFLOI/AAAAAAAAB-U/9HvxQCtz_Yg/s72-c/anakmanis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-7565441638552159194</id><published>2010-04-27T18:39:00.000-07:00</published><updated>2010-04-27T18:40:24.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita??</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9eQZPoTFlI/AAAAAAAAB-E/kg3JGpW26SI/s1600/4.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9eQZPoTFlI/AAAAAAAAB-E/kg3JGpW26SI/s320/4.jpg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita...&lt;br /&gt;Aku menjadi perempuan yg paling bahagia...&lt;br /&gt;Pernikahan kami sederhana namun meriah...&lt;br /&gt;Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.&lt;br /&gt;Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &amp;amp; mapan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.&lt;br /&gt;Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu...&lt;br /&gt;Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci...&lt;br /&gt;Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku? sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.&lt;br /&gt;Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku&lt;br /&gt;Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu &amp;amp; adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang &amp;amp; malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al ? Qur?an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, ?Assalammu?alaikum? dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata ?Assalammu?alaikum?, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu.. Ibu nya berbicara denganku, "Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sibuk membersihkan &amp;amp; mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, "lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya, "Ada apa kamu memanggilku?"&lt;br /&gt;Ia berkata, "Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab, "Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku", jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?", tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti", jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?", lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &amp;amp; cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, ?kapankah ia segera pulang?? aku tak tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis, ?aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa nya kami selalu berjama?ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka?at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, ?Loe pikir aja sendiri!!!?. Telpon pun langsung terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berdo?a semoga suamiku sadar akan prilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya &amp;amp; menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Ya, ada apa Yah!? sahutku dengan memanggil nama kesayangannya ?Ayah?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.? Jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Ada apa? Mengapa??, sahutku penuh dengan keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan ?Kau ikut saja jangan banyak tanya!!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu &amp;amp; adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha?. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Ada apa ya Nek?? sahutku dengan penuh tanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek pun menjawab, ?Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.? Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya?, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, ?kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau&lt;br /&gt;kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Fish, jawab!.? Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu bertanya kepada suamiku, ?Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku menjawab, ?Dia Desi!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ?Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah mertuaku menjawab, ?Pernikahannya 2 minggu lagi.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok?, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, ?sudah tidak cantikkah aku ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, ?terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatiku bertanya, ?mengapa ia sangat cuek?? dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, ?sudah malam, kita istirahat yuk!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Aku sholat isya dulu baru aku tidur?, jawabku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku&lt;br /&gt;save di mydocument yang bertitle ?Aku Mencintaimu Suamiku.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Apakah kamu sudah siap??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do?a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..?, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suamiku menjawab ?Lalu apa Bunda??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan??, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk dan berkata, ?Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda??, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum sambil berkata, ?Kita liat saja nanti ya!?. Dia memelukku dan berkata, ?bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, ?Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.? Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ?Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ?bunda baik-baik saja kan?? tanyanya dengan penuh khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menjawab, ?bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang?. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, ?Ayah jangan!!?, tapi aku ingat akan kondisiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya? aku kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Kamu datang ke sini, aku pun tahu?, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, ?maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku berbisik, ?Bunda kok kurus??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berkata, ?Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.? Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suamiku berkata, ?Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat ?seperti itu? dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (?seperti itu?). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menjawab, ?Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun dilarikan ke rumah sakit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan tanganku basah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ?Bunda, Ayah minta maaf??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata dengan suara yang lirih, ?Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah? !!! Bunda sayang banget sama Ayah.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Ibu mertuaku : ?Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo?a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?&lt;br /&gt;Aku dihina oleh mereka ayah.&lt;br /&gt;Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..&lt;br /&gt;Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diusir dari rumah sakit.&lt;br /&gt;Aku tak boleh merawat suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.&lt;br /&gt;Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat marah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau sakit hati lagi.&lt;br /&gt;Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Maha Adil..&lt;br /&gt;Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..&lt;br /&gt;Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..&lt;br /&gt;Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..&lt;br /&gt;Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.&lt;br /&gt;Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.&lt;br /&gt;Aku harus sadar diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.&lt;br /&gt;Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah.. aku masih tak rela.&lt;br /&gt;Tapi aku harus ikhlas menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.&lt;br /&gt;Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.&lt;br /&gt;Sebelum ajal ini menjemputku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah.. aku kangen ayah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda akan selalu hidup dihati ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah Ayah disana Bunda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Sayang Bunda..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-7565441638552159194?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/7565441638552159194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/sampai-dimanakah-kita-harus-bersabar_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7565441638552159194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7565441638552159194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/sampai-dimanakah-kita-harus-bersabar_27.html' title='Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita??'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9eQZPoTFlI/AAAAAAAAB-E/kg3JGpW26SI/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1441450814337837758</id><published>2010-04-25T00:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T00:21:19.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Rasulullah dan Burung</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9Ps2NP40pI/AAAAAAAAB8c/JumHznLpmZ8/s1600/Rainbow-flower.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9Ps2NP40pI/AAAAAAAAB8c/JumHznLpmZ8/s320/Rainbow-flower.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya ...segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Akhlak terhadap hewan yang diajarkan Rasulullah saw. Bahkan, membunuh hewan tanpa alasan yang hak, Rasulullah menggolongkan suatu kezhaliman. Kabar ini datang dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, hadits nomor 6264)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kepada hewan saja kita memenuhi hak-haknya, apalagi kepada manusia. Adakah hak-hak orang lain yang belum kita tunaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/04/onta-itu-mengadu-kepada-rasulullah.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1441450814337837758?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1441450814337837758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/rasulullah-dan-burung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1441450814337837758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1441450814337837758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/rasulullah-dan-burung.html' title='Rasulullah dan Burung'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9Ps2NP40pI/AAAAAAAAB8c/JumHznLpmZ8/s72-c/Rainbow-flower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2442611512848599992</id><published>2010-04-25T00:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T00:11:49.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Gadis Cerdas - Gadis Impian</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9PpUhFfOLI/AAAAAAAAB8U/urofhE6_myk/s1600/a.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9PpUhFfOLI/AAAAAAAAB8U/urofhE6_myk/s320/a.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;ADA SEORANG pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia  ingin menikah dengan seorang gadis shalihah dan cerdas seperti dirinya.  Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk  mencari gadis impiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah  perjalanan, dia berjumpa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan  bersama leleki itu.&lt;br /&gt;Pemuda itu menyapa, “Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku  membawamu?”&lt;br /&gt;Spontan lelaki itu menjawab, “Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku  menunggang kuda kau juga menunggang kuda. Bagaimana kita bisa saling  membawa?”&lt;br /&gt;Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah  kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa  panennya.&lt;br /&gt;Pemuda itu bertanya, “Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh  pemiliknya, atau belum ya?”&lt;br /&gt;Seketika, lelaki itu menjawab, “Pertanyaan itu aneh sekali! Kamu sendiri  melihat dengan mata kepalamu, buah-buahan itu masih ada di pohonnya dan  belum di panen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah di  makan oleh pemiliknya atau belum?”&lt;br /&gt;Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.&lt;br /&gt;Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan,  mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu berkata, “Menurutmu yang diiring dalam keranda itu masih  hidup atau sudah mati, ya?”&lt;br /&gt;Lelaki itu menjawab, “Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah  menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan  dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati.”&lt;br /&gt;Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas  komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia  mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab  pemuda itu terlihat sudah sangat letih.&lt;br /&gt;Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik. Begitu tahu  ada seorang tamu menginap, anak gadisnya bertanya, “Ayah siapa dia?”.  “Dia itu pemuda yang paling bodoh yang pernah aku temukan,”jawab  ayahnya. Anak gadis itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan  berikutnya, “Bodoh bagaimana?”&lt;br /&gt;Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan  segala perkataan serta pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita ayahnya, anak gadis itu berkata,”Ayah ini bagaimana?  Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya  mengandung makna tersirat. Ketika dia mengatakan, ’Apakah kau bisa  membawaku dan aku membawamu?’, sebenarnya maksudnya adalah, ’Apakah kita  bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana  yang lebih akrab?’ Ketika dia mengatakan,’ Buah-buahan itu sudah dimakan  oleh pemiliknya atau belum?’ Ia memaksudkan, ’Apakah pemiliknya sudah  menjualnya ketika sebelum di panen, atau belum?’ Sebab, jika telah  menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk  makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya,’Apakah  jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?’  Maksudnya,’Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan  perjuangannya atau tidak?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar apa yang dikatakan putrinya, lelaki itu keluar menemui  pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan  pemuda itu. Keduanya berbincang-bincang.&lt;br /&gt;Lalu dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya.&lt;br /&gt;Mendengar itu, sang pemuda bertanya, “Saya yakin itu bukan lahir dari  pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku  siapa yang mengatakannya?”&lt;br /&gt;Yang mengatakan hal itu adalah putriku, “jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;Spontan pemuda itu berkata, “Apakah kau mau menikahkan aku dengan  putrimu?”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu  menemukan pandamping hidup yang dia impikan.&lt;br /&gt;Sumber: Ketika Cinta berbuah Surga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2442611512848599992?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2442611512848599992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/gadis-cerdas-gadis-impian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2442611512848599992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2442611512848599992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/gadis-cerdas-gadis-impian.html' title='Gadis Cerdas - Gadis Impian'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9PpUhFfOLI/AAAAAAAAB8U/urofhE6_myk/s72-c/a.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-447528067526183259</id><published>2010-04-24T01:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T01:44:47.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Unta itu mengadu pada Rasulullah</title><content type='html'>&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9KtmkbeHpI/AAAAAAAAB8E/c0VEYPiNwgE/s1600/100001_l.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9KtmkbeHpI/AAAAAAAAB8E/c0VEYPiNwgE/s320/100001_l.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message" style="font-size: small;"&gt;Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya ja...tuh berderai. Rasulullah saw. mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?”&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message" style="font-size: small;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Kitab Jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika yang mengadu adalah seorang pekerja yang gajinya tidak dibayar sehingga tidak bisa membeli makanan untuk keluarganya, sementara tenaganya sudah habis dipakai oleh orang yang mempekerjakannya? Pasti Rasulullah saw. lebih murka lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="UIIntentionalStory_Message" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-447528067526183259?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/447528067526183259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/unta-itu-mengadu-pada-rasulullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/447528067526183259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/447528067526183259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/unta-itu-mengadu-pada-rasulullah.html' title='Unta itu mengadu pada Rasulullah'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9KtmkbeHpI/AAAAAAAAB8E/c0VEYPiNwgE/s72-c/100001_l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6724312563733178164</id><published>2010-04-22T20:47:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T20:47:18.361-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Sekitar Kita'/><title type='text'>Anak Kecil &amp; Waktu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9EYKcGBY1I/AAAAAAAAB78/9gZ3faCvP2w/s1600/n1672999080_7995.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9EYKcGBY1I/AAAAAAAAB78/9gZ3faCvP2w/s320/n1672999080_7995.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka  di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,  Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan  pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga  ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku  nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam  dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari  kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,  sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi  beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari  mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu  jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Imron tak beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,  “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam  begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak  menyesali hardikannya, Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak  kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak  pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,  “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang  malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp  5.000 ,- lebih dari itu pun ayah kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau  sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga  puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat  berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp  15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-,  maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-.  Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu  erat-erat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6724312563733178164?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6724312563733178164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/anak-kecil-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6724312563733178164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6724312563733178164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/anak-kecil-waktu.html' title='Anak Kecil &amp; Waktu'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S9EYKcGBY1I/AAAAAAAAB78/9gZ3faCvP2w/s72-c/n1672999080_7995.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-657276653721218066</id><published>2010-04-21T20:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T20:35:08.526-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Sekitar Kita'/><title type='text'>2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi (copas dari email)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8_Cndh1LrI/AAAAAAAAB70/zZHiVpIZQ1Q/s1600/q.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8_Cndh1LrI/AAAAAAAAB70/zZHiVpIZQ1Q/s320/q.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;pasted from an old email i found in my inbox... credit to mba grahanita herwina.. ;)&lt;br /&gt;a meaningful story by an unknown author..&lt;br /&gt;-------------------------------&lt;br /&gt;Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari ini :&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siang ini February 6, 2008 , tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super.&lt;br /&gt;Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan , dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan&amp;nbsp; "Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan&amp;nbsp; Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa&amp;nbsp; seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi&amp;nbsp; lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil&amp;nbsp; mereka.. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta .. Saya melewatinya dengan&amp;nbsp; lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati&amp;nbsp; mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka , tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? " mereka&amp;nbsp; menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food&lt;br /&gt;court sebesar empat ribu rupiah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nggak punya , tukas saya !" lalu tak lama siwanita berkata " ambil saja kembaliannya , dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini terkesiap , ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti , lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget , setengah berteriak ia bilang " sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka&amp;nbsp; berkeras mengembalikan uang tersebut. " maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar " Om, bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,"Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ...sebentar "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Nggak apa apa , itu buat kalian " Lanjut saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga " anak itu bersikeras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan&lt;br /&gt;berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Buat apa ?" saya terbengong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu " walau dikembalikan ia tetap menolak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya ..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut " lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita&lt;br /&gt;kasihin ...." percakapan itu sayup sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue&lt;br /&gt;..&lt;br /&gt;Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka&amp;nbsp; yang begitu belia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membandingkan keserakahan kita , yang tak pernah ingin sedikitpun&amp;nbsp; berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana , kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya untuk lebih SUPER.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-657276653721218066?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/657276653721218066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/2-manusia-super-di-jembatan-setiabudi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/657276653721218066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/657276653721218066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/2-manusia-super-di-jembatan-setiabudi.html' title='2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi (copas dari email)'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8_Cndh1LrI/AAAAAAAAB70/zZHiVpIZQ1Q/s72-c/q.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1068141258344840510</id><published>2010-04-20T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T23:53:20.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><title type='text'>Seorang Wanita dan Tukang Besi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86gsdHIIsI/AAAAAAAAB7s/d7U0IVJOkqQ/s1600/0032-10241.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86gsdHIIsI/AAAAAAAAB7s/d7U0IVJOkqQ/s320/0032-10241.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah  seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si  tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok  wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku  yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan  datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena  Allah?” Tutur wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan  ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi  tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan  menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk  desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaimu? Akan kuberi engkau makanan,  tetapi engkau harus melayaniku semalam,” kata tukang besi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya  dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati  wanita itu.&lt;br /&gt;“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar wanita  itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang  besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi.  Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya.  Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam  keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk  karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa.  Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.&lt;br /&gt;Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi.  “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku  terus berlaku dzalim kepadanya,” tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya  Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan  mengganggu wanita itu lagi selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita  itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang,  kerekek…terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak  kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu  bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku?”&lt;br /&gt;“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan  khawatir, aku memberinya karena Allah,” jawab si tukang besi itu.&lt;br /&gt;“Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari  api di dunia dan akhirat,” tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua  tanganya ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa  buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya,  namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita  itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu,” ujar si tukang besi.&lt;br /&gt;Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini  juga.” Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah  kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam  keadaan sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun  harus menahan rasa lapar yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslimah mestinya dapat mengambil i’tibar (pelajaran berharga)  dari berbagai kisah wanita shalihah yang telah diuraikan di muka.  Merekalah yang mestinya dijadikan suri tauladan dalam kehidupan  keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan  materialisme&lt;br /&gt;Dikutip dari buku "Bidadari Dunia Potret Ideal Wanita Muslim", Muh.  Syafi'i Al-Bantani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1068141258344840510?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1068141258344840510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/seorang-wanita-dan-tukang-besi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1068141258344840510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1068141258344840510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/seorang-wanita-dan-tukang-besi.html' title='Seorang Wanita dan Tukang Besi'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86gsdHIIsI/AAAAAAAAB7s/d7U0IVJOkqQ/s72-c/0032-10241.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-5879459216724776842</id><published>2010-04-20T22:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T23:53:39.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Lain'/><title type='text'>Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86IrjntI6I/AAAAAAAAB7k/P-UHgZaN0ik/s1600/2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #cc33cc;"&gt; from&amp;nbsp;Supernova, Dee&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86IrjntI6I/AAAAAAAAB7k/P-UHgZaN0ik/s1600/2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86IrjntI6I/AAAAAAAAB7k/P-UHgZaN0ik/s320/2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ksatria  jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.&lt;br /&gt;Sang Puteri  naik ke langit.&lt;br /&gt;Ksatria kebingungan.&lt;br /&gt;Ksatria pintar naik kuda  dan bermain pedang, tapi tidak tau caranya  terbang.&lt;br /&gt;Ksatria keluar  dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.&lt;br /&gt;Tetapi Kupu-kupu  hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.&lt;br /&gt;Ksatria lalu belajar pada  burung gereja.&lt;br /&gt;Burung Gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas  menara.&lt;br /&gt;Ksatria kemudian berguru pada burung elang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Burung  Elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.&lt;br /&gt;Tak ada unggas  bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.&lt;br /&gt;Ksatria sedih, tapi  tak putus asa. Ksatria memohon pada angin.&lt;br /&gt;Angin mengajarinya  berkeliling mengitari bumi. Lebih tinggi dari gunung  dan awan.&lt;br /&gt;Namun sang Puteri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang  mampu  menusuk langit.&lt;br /&gt;Ksatria sedih dan kali ini putus asa.&lt;br /&gt;sampai satu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis   dukanya.&lt;br /&gt;Ia menawari Ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.&lt;br /&gt;Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan   satu.&lt;br /&gt;Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya maka  ia akan  mati.&lt;br /&gt;Hancur dalam kecepatan yang membahayakan, menjadi  serbuk yang membedaki  langit, dan tamat.&lt;br /&gt;Ksatria setuju. Ia relakan  seluruh kepercayaannya pada Bintang Jatuh  menjadi sebuah nyawa.&lt;br /&gt;dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada serpih detik yang   mematikan.&lt;br /&gt;Bintang Jatuh menggenggam tangannya.&lt;br /&gt;“Inilah  perjalanan cinya sejati,” ia berbisik, “tutuplah matamu,  Ksatria.  Katakan untuk berhenti begitu hatimu merasakan keberadaannya.”&lt;br /&gt;Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati   Ksatria mungil, namun hangat jiwanya diterangi rasa cinta. Dan ia   merasakannya….. “Berhenti..!!!”&lt;br /&gt;Bintang Jatuh melongok kebawah, dan  ia pun melihat sesosok Puteri cantik  yang kesepian.&lt;br /&gt;Bersinar  bagaikan Orion ditengah kelamnya galaksi. Ia pun jatuh hati.&lt;br /&gt;Dilepaskannya genggaman itu.&lt;br /&gt;Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta  dan percaya.&lt;br /&gt;Ksatria melesat menuju kehancuran.&lt;br /&gt;Sementara sang  Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.&lt;br /&gt;Ksatria yang  malang…&lt;br /&gt;Sebagai balasannya, dilangit Kutub dilukiskan Aurora. Untuk  mengenang  kehalusan dan ketulusan hati Ksatria…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-5879459216724776842?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/5879459216724776842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/ksatria-puteri-dan-bintang-jatuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/5879459216724776842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/5879459216724776842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/ksatria-puteri-dan-bintang-jatuh.html' title='Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S86IrjntI6I/AAAAAAAAB7k/P-UHgZaN0ik/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1456692742580378777</id><published>2010-04-19T23:17:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T23:17:12.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Nilai Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81GyRRKmJI/AAAAAAAAB7c/1y8xJWM1VvQ/s1600/Copy+%282%29+of+gantung-hate.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81GyRRKmJI/AAAAAAAAB7c/1y8xJWM1VvQ/s320/Copy+%282%29+of+gantung-hate.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Alkisah, ada seorang  pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja  sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya  sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan  baik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak  mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja  di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk  menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak  memiliki arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik  aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya  seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela  lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung  diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal  setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang  untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang  lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara  lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang  tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan  rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain.  Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak  dapat menikmati hasilnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari  pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda,  karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan  untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong  jangan mati di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir,  "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka  menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap  rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat.  Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku  harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula  bermanfaat bagi makhluk lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan  lega.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre Wongso&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1456692742580378777?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1456692742580378777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/nilai-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1456692742580378777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1456692742580378777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/nilai-kehidupan.html' title='Nilai Kehidupan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81GyRRKmJI/AAAAAAAAB7c/1y8xJWM1VvQ/s72-c/Copy+%282%29+of+gantung-hate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-7414833813896299263</id><published>2010-04-19T23:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T23:12:19.109-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Gadis Buta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81FlOCUQPI/AAAAAAAAB7U/xEqerRHhYEo/s1600/3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81FlOCUQPI/AAAAAAAAB7U/xEqerRHhYEo/s320/3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;Ada seorang gadis buta yang membenci  dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya  sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.  Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia  berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;Suatu hari, ada seseorang yang  mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal,  termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat  dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat  melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah  dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk  surat singkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata  saya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Comic Sans MS;"&gt;&lt;br /&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat  status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana  keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap  siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan  di saat yang paling menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: navy;"&gt;&lt;b&gt;Hidup adalah anugerah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Hari ini sebelum engkau  berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar -&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa  berbicara&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Sebelum engkau mengeluh  mengenai cita rasa  makananmu -&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ingatlah akan seseorang yang tidak punya  apapun untuk dimakan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Sebelum engkau mengeluh  tentang suami atau isterimu -&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada  Tuhan meminta pasangan hidup&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Hari ini sebelum engkau  mengeluh tentang hidupmu -&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat  pergi ke surga&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Sebelum engkau mengeluh  tentang anak-anakmu -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan seseorang yang begitu  mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Sebelum engkau bertengkar  karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang  membersihkan atau menyapu  lantai -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal  di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Sebelum merengek karena  harus menyopir terlalu jauh -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan  kaki untuk menempuh jarak yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Dan ketika engkau lelah dan  mengeluh tentang pekerjaanmu -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah akan para penganguran, orang cacat  dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Sebelum engkau menuding  atau menyalahkan orang lain -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang  tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;Dan ketika  beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu -&lt;br /&gt;Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena  engkau masih hidup dan ada di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN  TERULANG LAGI!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-7414833813896299263?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/7414833813896299263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/gadis-buta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7414833813896299263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7414833813896299263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/gadis-buta.html' title='Gadis Buta'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S81FlOCUQPI/AAAAAAAAB7U/xEqerRHhYEo/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2760217078933355427</id><published>2010-04-15T20:33:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T22:25:45.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Kuntum Cintanya....</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8faFOcP6DI/AAAAAAAAB50/wYF_AunG63A/s1600/zaujatiy.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8faFOcP6DI/AAAAAAAAB50/wYF_AunG63A/s320/zaujatiy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan  tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan  mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata  lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di  hadapanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun  pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special.  Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest  mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku  beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah  itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi,  terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan  apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan  memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat  shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku.  Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to  Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku  terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah  menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku  berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan  kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat  aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan  hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk  segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar.  Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"De...  Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. &lt;br /&gt;Aku  menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat  menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah  jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara  bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku. &lt;br /&gt;"Selamat ulang tahun ya  De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan  ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu.  Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit  terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada  air yang menggenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini.  Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke  lantai. &lt;br /&gt;Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan  ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey  mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang  diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak  bersyukurnya aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa  ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku  ya de'..." desahnya. &lt;br /&gt;Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan  siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya.  Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan  wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir.  Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari  materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A'  lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga  bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu  menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk  membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan  itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara  isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang  perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu  ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku  sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku  dalam cekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya  setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu  nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu  telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian  tangisnya semakin kencang di pelukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbana... mungkin  Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa  ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku  samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan  pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya  terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa  keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa  ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan  keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku  ingin mencintaimu dengan sederhana... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To my luv, thank u 4 d  best gift I ever have &lt;br /&gt;To my luv, thank u 4 d best gift I ever have&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.facebook.com/#%21/group.php?gid=126919933068"&gt;Facebook Penyejuk Kalbu&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2760217078933355427?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2760217078933355427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/kuntum-cintanya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2760217078933355427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2760217078933355427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/kuntum-cintanya.html' title='Kuntum Cintanya....'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8faFOcP6DI/AAAAAAAAB50/wYF_AunG63A/s72-c/zaujatiy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4543677640805987759</id><published>2010-04-10T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T18:48:57.784-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><title type='text'>Renungan satu menit</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8EqXTaOxaI/AAAAAAAAB5k/KYbrZ5QFzM4/s1600/renungan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8EqXTaOxaI/AAAAAAAAB5k/KYbrZ5QFzM4/s320/renungan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba terdengarlah Bunyi auman suara harimau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auuuummmm… .!!!!!&lt;br /&gt;Seekor harimau yang sedang lapar Dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya Dan tiba-tiba Sudah berada dihadapan pemuda . pemuda tadi karena takut, diapun berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak Begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun mengejar pemuda tadi. Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,…rupanya doanya dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas Dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak akan mengejarnya ikut masuk kesumur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya Ada tali menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin saja bisa membuat kakinya patah&lt;br /&gt;karena dalamnya sumur tersebut. Tapi ternyata tali itu pendek Dan takkan sanggup membantu dia sampai kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayutditengah- tengah sumur, ketika tengah bergelayut&lt;br /&gt;Dia menengadahkan mukanya keatas ternyata harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, Dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata Ada 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba dari Pinggir sumur yang Ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih&lt;br /&gt;..ciiit…ciiit. .. ….ciit…yang naik meniti tali pemuda tadi Dan mulAI menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya dari lobang Satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk bergelantungan. Waduh …jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan&lt;br /&gt;buaya..!!! Cemas dia berpikir,… jika aku naik keatas ….sudah pasti harimau menerkamku,. ..jika menunggu disini…lama- lama tali ini akan putus Dan Buaya dibawah siap menyongsongku. .. Saat itulah dia mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka,..dia mendongakkan wajahnya keatas..Dan tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke mul UT pemuda tadi. Spontan pemuda tadi berkata…Subhanall ah ..Alangkah manisnya madu Ini,..baru sekali ini aku merasakan&lt;br /&gt;madu semanis Dan selezat ini…!!! Dia lupa akan ancaman buaya Dan harimau tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu, inti dari cerita diatas…Huh&lt;br /&gt;Pemuda tadi adalah Kita semua, harimau yang mengejar adalah maut Kita, ajal memang selalu mengejar. Kita. Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah malaikat munkar Dan nakir yang menunggu Kita di alam kubur Kita nantinya . Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur Kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur Kita,&lt;br /&gt;jika talinya pendek maka panjanglah Umur Kita. Tikus putih Dan tikus hitam adalah dunia Kita siang Dan juga malam yang senantiasa mengikis umur Kita.Diibaratkan di cerita tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda.Madu setetes adalah nikmat dunia yang hanya sebentar. Bayangkan madu setetes tadi masuk ke mul UT pemuda,…sampai dia lupa akan ancaman harimau Dan buaya,.. begitulah Kita, ketika Kita menerima nikmat sedikit, Kita lupa kepada Allah.Ketika susah baru ingat kepada Allah.. Astaghfirullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 menit untuk mengingat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah dengan sepenuh hati Dan&lt;br /&gt;lidah yang fasih akan:&lt;br /&gt;*SUBHANA’LLAH&lt;br /&gt;*ALHAMDULI’LLAH&lt;br /&gt;*LA I LAHA ILLA’LLAH&lt;br /&gt;*ALLAHU AKBAR&lt;br /&gt;*ASTAGHFIRU’ LLAH&lt;br /&gt;*LA ILAH ILLA’LLAH, MUHAMMADUN&lt;br /&gt;RASULU’LLAH&lt;br /&gt;*ALLAHUMMA SHOLLI ALA WA SALLIM&lt;br /&gt;WABARIK ALA SAYYEDINA MUHAMMAD *WA&lt;br /&gt;AALIHI WA SAHBIHI AJMA’EEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Step 2:&lt;br /&gt;Hayatilah sedalamnya akan makna ayat demi ayat, perkataan demi perkataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga berguna&lt;br /&gt;sumber: http://muslimstory.wordpress.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4543677640805987759?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4543677640805987759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/renungan-satu-menit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4543677640805987759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4543677640805987759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/renungan-satu-menit.html' title='Renungan satu menit'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8EqXTaOxaI/AAAAAAAAB5k/KYbrZ5QFzM4/s72-c/renungan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1285518986400608371</id><published>2010-04-09T23:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T23:58:19.819-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Wuaaahh....</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: large;"&gt;Part 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span bindpoint="branchLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_BranchLink"&gt;&lt;/span&gt;       &lt;span bindpoint="reportLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_ReportLink"&gt;&lt;/span&gt;          &lt;br /&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8Ag_wmdT_I/AAAAAAAAB5c/BUv2B13UaOo/s1600/choc-beachheading.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8Ag_wmdT_I/AAAAAAAAB5c/BUv2B13UaOo/s320/choc-beachheading.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;Rembulan masih bercanda dengan burung malam, enggan pulang ke  peraduan. Suasana kampus pun semakin sepi, hanya tembok-tembok bisu  menemani. Capek, tapi syukur banget, gak nyangka kerjaan kelar juga!  Haus dan lapar, membuat ingin segera pulang. Membayangkan makanan lezat  buatan istri tercinta, kaki pun semakin cepat melangkah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Assalaamu  alaikum...," seraya membuka pintu. Tak ada san, gelap, lampu-lampu telah  dimatikan. Aaah... istri sudah lelap, sambil tangan memeluk kedua buah  hati tercinta dengan bias penat di wajah. Mau mandi takut reumatik,  karena sekarang udah masuk musim dingin, brrr... Ya udah dilap basah aja  deh, kemudian baju yang rapi jali kalo ke lab, diganti dengan baju  kebesaran, sarung butut dan kaos buluk.&lt;br /&gt;"Ummi...!!!" teriakan  membuatnya kaget dan terbangun,&lt;br /&gt;lalu tergopoh-gopoh menghampiri.  "Gimana sih, kok masak cuma segini! Lagian kok asin banget, masaknya  sambil tidur ya!"&lt;br /&gt;"Yang benar dong kalo masak, kan saya capek, mesti  elajar, ngumpulin jurnal, buat masakan yang benar gak isa ya?"&lt;br /&gt;Yaa...  langsung deh, mendung berarak di telaga matanya. &lt;br /&gt;Rasa kesal dan  jengkel semakin membludak. Tak lupa sindiran, "Katanya dulu sering  ikutan kursus masak, kursus ini kursus itu, mestinya tau dong cara  melayani suami!" &lt;br /&gt;Wah benar, tak lama hujan air mata pun tumpah.&lt;br /&gt;"Cengeng  banget sih, katanya mau jadi istri sholehah,&lt;br /&gt;istri sholehah kan  mesti patuh sama suami! Ya udah... sana buatin Indomie!" sembari duduk  di depan TV.&lt;br /&gt;Buyar rasanya nasehat yang pernah didengar tentang  akhlak junjungan Rasulullah SAW kepada istri-istrinya. "Sebaik-baik kamu  adalah yang paling baik terhadap keluarganya," demikian pesan  Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam.&lt;br /&gt;Tapi beliau kan Rasul,  berkata dalam hati, beda dong!&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Fuih... kerjaan emang gak  pernah abis-abis, selesai yang satu, yang lain menyusul. "Kalo gak gini  kamu gak bakal selesai, di Jepang sistem belajarnya memang seperti ini,"  kata sensei. Dalam hati cuma ngedumel, "Wah, ngerjain banget nih!" Lalu  sibuk lagi, gak pernah berhenti, selalu dikejar deadline jurnal yang  menatap angkuh di depan meja elajar.&lt;br /&gt;Suntuk baca jurnal, baca koran  online dulu aah... nyantai bentar. Eh, ada email masuk, balas dong,  teman lama rupanya. Wah dibalas lagi, "Chatting aja yuk," langsung  dibalas, "Ayo, siapa takut!" &lt;br /&gt;Lalu cekikikan depan komputer,  mengenang masa-masa uliah dulu. Lho, kerjaan dari sensei gimana? Ntar  SKS lagi, orang Jepang aja sering lembur sampai pagi, membenarkan dalam  hati.&lt;br /&gt;Kring... dering telepon, kaget, karena tadi khusyu' depan  komputer. "Udah malam bang, kok belum pulang?" tanya istri. &lt;br /&gt;"Iya  nih, tuh sensei nyuruh itu ini, datanya salah-lah, eksperimennya gak  benar-lah, padahal udah capek-capek ngerjain dari tadi, gak tau maunya  apa sih?" disambung bla... bla... bla..., seribu satu alasan penyucian  diri. &lt;br /&gt;"Pulang aja dulu, ntar bisa sambung besok lagi," bujuk istri,  perhatian banget sama suami. "Malam ini masakannya ditanggung enak lho,  spesial buat abang tersayang," sambung istri kembali. &lt;br /&gt;"Iya deh, ntar  abang kerjain di rumah saja," luluh dengan kasih sayang istri, seraya  jari mengirim pesan di layar komputer, "Besok ya chatting lagi."&lt;br /&gt;"Gini  nih, istri abang tersayang, masakannya enak banget," memuji masakan  istri yang udah ludas, tak ada sisa. "Eh, kok dipuji, malah mesem-mesem  sih?" tanya sang suami heran. &lt;br /&gt;"Iya, saya juga belum makan. Tadi  niatnya mau barengan, tapi lihat abang kaya'nya lapar banget, ya udah  makan aja duluan, lagian dipikir kan pasti ada sisanya." &lt;br /&gt;Gedubrag!!!  "Kamu sih, gak bilang-bilang!!! Mestinya kasih tau, jadinya gak  diabisin, jadi istri jangan cuma diam doang!!!" &lt;br /&gt;Duuh... yaa Allah,  salah lagi.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;"Abi...," teriak si sulung, keluar menyambut dan  minta digendong. Anak, kadang jadi pelepas lelah. Capek karena sepekan  keluar kota, rasanya langsung hilang, terhapus karena kerinduan kepada  darah daging tercinta. &lt;br /&gt;Duuh... bau apaan nih, "Belum mandi ya?"  sambil mencium lagi sang buah hati. "Belum. Malah dari pagi, pe-de aja  lagi." &lt;br /&gt;Wah, nih ummi-nya gimana sih, punya anak kok gak diperhatiin!  Jengkel muncul kembali. &lt;br /&gt;"Abi, orang Jepang kok gak bau ya, padahal  mereka kan jarang mandi?" iseng, tanya buah hati. "Iya kali'," acuh tak  acuh menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga anak kecil, pingin tau segala hal,  "Kok abi gak tau sih? Kan katanya sekolah tinggi." Yee... nih anak,  emang abi-nya ngurusin orang Jepang yang jarang mandi. &lt;br /&gt;"Iya, kan  mereka sibuk sekali, jadinya mungkin jarang mandi, lagian siapa bilang  gak bau," jawab seenaknya. "Persis abi dong, kan abi mandinya juga cuma  pagi," lugu, buah hati berujar. "Bandel ya!" seraya tangan menjewer.  "Ummi...!!!"&lt;br /&gt;teriaknya berlari sambil nangis.&lt;br /&gt;"Assalaamu  alaykum...," astaghfirullah... nih rumah pa kapal pecah? Pakaian yang  udah kering tapi belum disetrika menggunung disana-sini, mainan  berserakan, belum lagi cucian kotor, wow... berember-ember. Istighfar...&lt;br /&gt;istighfar...  sambil mengurut dada.&lt;br /&gt;"Waalaykumussalam... afwan ya, belum sempat  diberesi,"&lt;br /&gt;seraya menggendong si kecil yang baru setahun lalu lahir,  dan tangan satunya lagi membujuk si sulung yang masih menangis. Lalu  kembali dengan kesibukannya, masak buat kekasih hati yang baru pulang  presentasi.&lt;br /&gt;"Istri sholehah itu mestinya bisa mengatur rumah tangga.  Pintar membagi waktu, kapan harus masak, kapan nyetrika, nyuci, beresin  rumah, biar gak berantakan seperti tadi. Nyambut kedatangan suami juga  kan mestinya bisa lebih rapi, masa' sih nyambut suami penampilannya  kucel banget, dandan dong, jadinya suami merasa dihargai, betah dirumah,  kalo gak... siapa tahu tuh suami ntar kawin lagi, bla... bla...  bla...," ceramah sang suami kepada istri, saat buah hati telah dibuai  mimpi. &lt;br /&gt;Gak lama, meledaklah tangis sang istri, kali ini terdengar  lebih pilu. &lt;br /&gt;"Ah... wanita, gampang sekali menangis," berkata dalam  hati. Ngurus dua anak aja kok sulit sih, gimana ntar mau ikin Rasul  bangga nih kelak di akhirat nanti?&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Part 2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;span bindpoint="branchLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_BranchLink"&gt;&lt;/span&gt;       &lt;span bindpoint="reportLinkWrapper" class="GBThreadMessageRow_ReportLink"&gt;&lt;/span&gt;          &lt;br /&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body"&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;Baru saja dengan anak-anak tiba kembali di rumah, setelah  menghantar ummi-nya ke rumah sakit, kelelahan, harus bedrest kata  dokter.&lt;br /&gt;Masih teringat pesan sang istri, "Jagain anak-anak ya,  afwan... disuruh dokter istirahat 3 hari di rumah sakit, badan lemes  banget rasanya, nanti kalau mau makan, simpanan abon dan rendang masih  ada di lemari, lalu kalo...," belum sempat istri menyelesaikan  perkataannya, udah disela, "Udah... gak apa-apa kok, insya Allah suasana  akan aman dan terkendali." Wuih... pe-de abis selaku suami, semua  masalah gampang diatasi, maklum laki-laki, berat di gengsi.&lt;br /&gt;Wuaaah.....!!!&lt;br /&gt;Perasaan,  baru saja anak tertua asyik main dengan mainannya, kok bisa langsung  nangis? "Abi.....!!! Mau pipis," teriaknya. Kaget, ide baru untuk  membuat jurnal jadi buyar,&lt;br /&gt;"Pipis sendiri gak bisa ya?" balas teriak,  biar gak kalah wibawa dengan anak. "Temenin dong, wuaaah.....!!!"  jeritnya lagi.&lt;br /&gt;Waduh, anak-anak kok gak ngerti ya, sambil  tergopoh-gopoh mendatangi. "Abi kan lagi sibuk, lain kali pipis  sendiri!" gak upa mulut juga mengomel.&lt;br /&gt;Belum juga sampai di toilet,  "Abi..., udah pipis nih," sambil menunjuk celana dan lantai yang udah  basah. Wuaaah.....!!! &lt;br /&gt;Kali ini gantian berteriak, sambil gak lupa  tangan ikut menjewer. Nih, rasain!!!&lt;br /&gt;Kaget dengan teriakan, yang  bungsu mendadak bangun, "Cup... cup... sayang, kaget ya?" sambil  digendong. &lt;br /&gt;Ke dapur, buatin susu botol, duuh... air panasnya abis,  harus masak air dulu nih. Sementara tangis kedua buah hati semakin  nyaring, wuaaah.....!!!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Alhamdulillah, lega...&lt;br /&gt;Kedua buah  hati tersayang udah kalem, yang bungsu kembali tidur sambil tangannya  memegang botol susu. Hm... abangnya pun tampak pulas disampingnya.  Istirahat dulu aaah..., menghela nafas sambil meregangkan otot, jemari  tangan diremas sampai bunyi plitak-plituk, kepala diputar kiri-kanan,  tak lupa badan juga diplintir, alhamdulillah, suasana aman dan  terkendali.&lt;br /&gt;Kerja lagi, sambil mendengarkan nasyid yang diputar dari  Winamp. Lagu Teman Sejati-nya Brothers yang kembali dipopulerkan Snada  mengalun, "....Selama ini kumencari-cari teman yang sejati / Buat  menemani perjuangan suci / Bersyukur kini pada-Mu Ilahi / Teman yang  dicari selama ini / Telah kutemui..."&lt;br /&gt;Aaah...&lt;br /&gt;Tiba-tiba terkenang  saat dulu sebelum menikah. Sulitnya mencari teman sejati, belum lagi  disindir sana-sini. "Sini deh dicariin, mau gak?" Iih, emangnya yang mau  nikah situ! Sebel!!! Pake nyariin lagi, emang gue kagak laku!!! Biar  gini-gini kuliahnya di Jepang boo...!!! Masa depan terjamin, nilai jual  tinggi. Wuih... keren.&lt;br /&gt;Emang, kadang seruntun pertanyaan silih  berganti menelusup di hati, siap gak ya? Kan masih kuliah, ntar anak  orang mau dikasih makan apa? Tapi, pernikahan begitu indah terdengar,  ehm...&lt;br /&gt;Namun, benar juga sebuah kata-kata bijak, 'Jika berani  menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di ubangan, kalau siap  berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?'&lt;br /&gt;Bismillah..., niat  untuk ibadah, maju tak gentar buat melamar. &lt;br /&gt;Alhamdulillah, semuanya  berjalan lancar, kalaupun ada pernik-pernik pertengkaran, emangnya ada  yang anteng-anteng saja? Rezeki selalu saja ada, emang selalu benar  janjinya Allah.&lt;br /&gt;Duuh... kala sepi begini, kok jadi kangen banget ya  sama istri, adakah engkau pun memikirkan diriku, duhai kekasih hati?&lt;br /&gt;Gleg!  Mendadak jadi sentimentil.&lt;br /&gt;Wuaaah.....!!!&lt;br /&gt;Kaget lagi, lamunan  amblas. Ya Allah..., lama-lama jantungan juga nih.&lt;br /&gt;"Abi.....!!!"  teriak anak tertua. Duh... anak laki-laki kok jadi cengeng gini? Mungkin  karena beda umur ama adiknya jauh sih. Gak lama bunyi gedebag-gedebug,  wah... berantem.&lt;br /&gt;Rupanya kaki si kecil gak sengaja nendang abangnya  waktu tidur, gak terima, abangnya balas juga.&lt;br /&gt;Pusying...  pusying...!!!&lt;br /&gt;Ya udah, biar adil dua-duanya dicubit, "Nih rasain!!!"  sambil nyubitnya pakai seni, diplintir.&lt;br /&gt;Wuaaah.....!!!&lt;br /&gt;Bukannya  diam, tambah kencang menangis, malah saling sahut-sahutan. Yaa Allah...  kok jadi begini? Gak tahan juga, akhirnya juga ikutan teriak dan lebih  kencang, Wuaaah......................!!!!!&lt;br /&gt;"Abi... Abi..., bangun  dong, ditungguin nih sholat subuhnya! Kok ngigau teriak-teriak sih,"  buah hati membangunkan, seraya tangan kecilnya menggoyang-goyang tubuh  abi-nya.&lt;br /&gt;Yaa Allah... alhamdulillah, cuma mimpi. &lt;br /&gt;Bergegas ambil  wudhu, segar rasanya bangun di subuh hari, jiwa pun jernih laksana  seorang sufi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu allaa ilaaha  illallaah, wa Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah... senang rasanya saat  mendengar si sulung melantunkan iqomat. &lt;br /&gt;Kebahagiaan pun selalu  berbunga-bunga, saat setiap selesai sholat buah hati selalu mencium  tangan, dan tentu saja ciuman tangan dari seorang istri, tanda kepatuhan  kepada suami. Tiada yang diharapkan, keridhoan Allah Subhanahu wa  Ta'ala dan ganjaran surga karena baktinya kepada suami tercinta. &lt;br /&gt;Sebagai  suami yang baik, ciuman mesra di kening istri tak lupa sebagai balasan,  muah... seraya berbisik perlahan, "Maafkan abang ya, selama ini udah  bersikap gak adil, terlalu banyak meminta, ingin semuanya sempurna,  tetapi diri sendiri ternyata..." hanya air mata yang menetes haru. &lt;br /&gt;Tampak  semburat merah di wajahnya dan mata yang berkaca-kaca, bahagia. Memang,  dibalik kelembutan mereka, istri-istri kita adalah manusia perkasa.  Kesabaran mereka begitu indah, dan kepatuhannya tiada sirna ditelan  usia.&lt;br /&gt;Sebagai suami kadang kita tidak pernah mau mengerti, apa yang  kita lihat harus selalu bersih, apa yang dicium haruslah wangi, segala  rasa hanyalah kelezatan, yang didengar pun haruslah kemerduan. Padahal  hitam dan putih, khilaf dan salah pastilah ada, karena mereka pun  hanyalah manusia.&lt;br /&gt;Aaah... aku semakin cinta.&lt;br /&gt;"Abang...," terdengar  suaranya manja, namun selalu saja dirindukan. Sambil senyum-senyum,  "Ada kejutan nih, sepertinya hamil lagi, dari 3 hari yang lalu  muntah-muntah melulu, ntar siang beliin mangga muda ya." &lt;br /&gt;Wuaaah.....!!!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;-------------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;dari Grup Facebook Penyejuk Kalbu&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1285518986400608371?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1285518986400608371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/wuaaahh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1285518986400608371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1285518986400608371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/wuaaahh.html' title='Wuaaahh....'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S8Ag_wmdT_I/AAAAAAAAB5c/BUv2B13UaOo/s72-c/choc-beachheading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6578183933436312805</id><published>2010-04-07T21:54:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T21:54:44.601-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Membaca Surat Cinta Dari-Nya....</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71faxgfY8I/AAAAAAAAB5E/NJGWEGPmwLE/s1600/flower.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71faxgfY8I/AAAAAAAAB5E/NJGWEGPmwLE/s320/flower.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini adalah sebuat cerita penuh hikmah. Seorang Kakek Muslim Amerika  hidup di sebuah pertanian di pegunungan bagian timur Kentucky dengan  cucu laki2nya. Setiap shubuh sang Kakek selalu bangun awal, duduk di  meja dapurnya membaca Al-Quran. Cucunya selalu ingin seperti kakeknya,&lt;br /&gt;dan meniru perbuatan kakenya tersebut sebisanya..Suatu hari sang cucu  bertanya, “kek, aku mencoba membaca Al-Quran seperti kakek, tapi aku  tidak mengerti, kalaupun ada yang aku mengerti aku langsung lupa begitu  aku menutup Al-Quran. Apa sih manfaat membaca Al-Quran?”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sang kakek pun berbalik perlahan, menghentikan kerjanya memasukkan batu  bara ke tungku dan menjawab. “Ambillah keranjang batu bara ini, dan  pergilah ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air” Sang cucu melakukan  apa yang diperintahkan kepadanya, tapi semua air tumpah&lt;br /&gt;sebelum ia berhasil kembali ke rumah. sang kakek tersenyum dan berkata  “kamu harus bergerak lebih cepat mengangkut airnya” dan menyuruh sang  cucu tuk kembali ke sungai mengambil air. Sang cucu pun berusaha lari  dengan cepat ketika mengantar air, namun tetap saja airnya tumpah.&lt;br /&gt;Sambil kehabisan nafas, ia pun berkata kepada kakeknya bahwa tidak  mungkin mengangkut air dengan keranjang, lalu sang cucu berjalan tuk  mengambil ember sebagai ganti keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kakek berkata, “aku menginginkan sekeranjang air, bukan seember  air. kau kurang bekerja keras tuk mengambilnya” , dan si kakek pergi ke  pintu tuk melihat si cucu berusaha lagi. Ketika itu, sang cucu sudah  tahu bahwa perbuatannya tidak ada manfaatnya, tapi dia ingin menunjukkan  kakeknya bahwa secepat apapun dia lari, air dari keranjang akan tetap  tumpah. Dia mengambil air di sungai, lalu berlari cepat ke kakeknya,  namun air tetap tumpah sebelum ia sampai ke tempat kakeknya. Maka ia pun  berkata, “lilhat kek, gak da manfaatnya kan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jadi kamu berpikir perbuatanmu tidak ada manfaatnya?” , sang kakek  berkata, “lihatlah keranjangnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang cucu melihat ke keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia sadar  bahwa keranjangnya telah berubah. Keranjangnya telah berubah dari  keranjang batu bara yang kotor menjadi keranjang yang bersih, luar  dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cu, itu yang terjadi ketika kau membaca Al-Quran. Kamu mungkin tidak  mengerti atau mengingat apa pun, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan  berubah, luar dalam. Dan itu adalah kuasa Allah atas diri kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa menangkap maksud cerita diatas sebagai suatu hidayah  untuk kita melakukannya dengan tulus dan ihklas semata hanya untuk-Nya&lt;br /&gt;(Deryorke)&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71faxgfY8I/AAAAAAAAB5E/NJGWEGPmwLE/s1600/flower.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;sumber Quran &amp;amp; Tafsir (Referensi)&lt;br /&gt;diambil dari situs &lt;a href="http://m.uhibbukafillah.co.cc/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;6df60ee1ae85334f9f8b2318edc92e29&amp;quot;, event)" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;http://m.uhibbukafillah.co&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;.cc&lt;/a&gt; dengan sedikit perubahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6578183933436312805?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6578183933436312805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/membaca-surat-cinta-dari-nya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6578183933436312805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6578183933436312805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/membaca-surat-cinta-dari-nya.html' title='Membaca Surat Cinta Dari-Nya....'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71faxgfY8I/AAAAAAAAB5E/NJGWEGPmwLE/s72-c/flower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8603902633050229796</id><published>2010-04-07T20:43:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T20:43:37.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Segenggam garam dan telaga</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71QndrgGsI/AAAAAAAAB48/G95AqBxbZdQ/s1600/bak1300.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71QndrgGsI/AAAAAAAAB48/G95AqBxbZdQ/s320/bak1300.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia  didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.  Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia  seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan  hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera  menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.&lt;br /&gt;Pak Tua yang bijak  hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur,  ia lalu mengambil segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas  air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.  “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.&lt;br /&gt;“Pahit….,  pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pak  Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar  rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua  orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup  lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua  itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan  sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat  membasahi wajah anak muda itu.&lt;br /&gt;“Sekarang, coba ambil air dari telaga  ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.&lt;br /&gt;Anak muda itu menuruti apa  yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga.  Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana  rasanya?”&lt;br /&gt;“Segar!” sahut anak muda itu.&lt;br /&gt;“Apakah engkau bisa  merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab  si anak muda.&lt;br /&gt;Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak  muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga  itu.&lt;br /&gt;“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang  engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama,  dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat  tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari  perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung  pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan  dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk  mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu  untuk menampung setiap kepahitan itu.”&lt;br /&gt;Pak Tua itu kembali  menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah  tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan  jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu  meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan  kebahagiaan. “&lt;br /&gt;Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka  sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali  menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang  padanya untuk meminta nasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(diambil dari Sabili No.24 Th.IX)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8603902633050229796?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8603902633050229796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/segenggam-garam-dan-telaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8603902633050229796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8603902633050229796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/segenggam-garam-dan-telaga.html' title='Segenggam garam dan telaga'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S71QndrgGsI/AAAAAAAAB48/G95AqBxbZdQ/s72-c/bak1300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4878857588057718553</id><published>2010-04-06T22:03:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T22:03:49.756-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Satu Kisah Cinta [Malaysia]</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7wSC4MiCPI/AAAAAAAAB40/2QLPzkL-57k/s1600/23.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7wSC4MiCPI/AAAAAAAAB40/2QLPzkL-57k/s320/23.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suami saya adalah serorang jurutera, saya mencintai sifatnya yang semulajadi dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika bersandar dibahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahawa saya mulai merasa letih…lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi, semua itu tidak pernah saya perolehi. Suami saya jauh berbeza dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkahwinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahawa saya inginkan penceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?”Dia bertanya dengan nada terkejut.&lt;br /&gt;“Siti letih, Abang tidak pernah cuba memberikan cinta yang saya inginkan.” Dia diam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang boleh saya harapkan daripadanya? Dan akhirnya dia bertanya. “Apa yang Abang boleh lakukan untuk mengubah fikiran Siti?” Saya merenung matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti ada 1 soalan, kalau Abang temui jawapannya didalam hati Siti, Siti akan mengubah fikiran Siti; Seandainya, Siti menyukai sekuntum bunga cantik yang ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang memanjat gunung-gunung itu, Abang akan mati. Apakah yang Abang akan lakukan untuk Siti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia termenung dan akhirnya berkata, “Abang akan memberikan jawapannya esok.” Hati saya terus gundah mendengar responnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menenui selembar kertas dengan coretan tangannya dibawah sebiji gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan Abang untuk menjelaskan alasannya.” Kalimah pertama itu menghancurkan hati saya. Namun, saya masih terus ingin membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti boleh mengetik dikomputer dan selalu mengusik program didalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang supaya boleh membantu Siti untuk memperbaiki program tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti selalu lupa membawa kunci rumah ketika Siti keluar, dan Abang harus memberikan kaki Abang supaya boleh menendang pintu, dan membuka pintu untuk Siti ketika pulang.” “Siti suka jalan-jalan di shopping complexs tetapi selalu tersasar dan ada ketikanya sesat di tempat-tempat baru yang Siti kunjungi, Abang harus mencari Siti dari satu lot kedai ke satu lot kedai yang lain mencarimu dan membawa Siti pulang ke rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti selalu sengal-sengal badan sewaktu ‘teman baik’ Siti datang setiap bulan, dan Abang harus memberikan tangan Abang untuk memicit dan mengurut kaki Siti yang sengal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti lebih suka duduk di rumah, dan Abang selalu risau Siti akan menjadi ‘pelik’. Dan Abang harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan Siti dirumah atau meminjamkan lidah Abang untuk menceritakan hal-hal kelakar yang Abang alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siti selalu menatap komputer, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesihatan mata Siti, Abang harus menjaga mata Abang agar ketika kita tua nanti, abang dapat menolong mengguntingkan kukumu dan memandikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangan Abang akan memegang tangan Siti, membimbing menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Kerana, Abang tidak sanggup melihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangku, Abang tahu, ada ramai orang yang boleh mencintaimu lebih daripada Abang mencintai Siti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tangan, kaki, mata Abang tidak cukup bagi Siti. Abang tidak akan menahan diri Siti mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan Siti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuatkan tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sekarang, Siti telah selesai membaca jawapan Abang. Jika Siti puashati dengan semua jawapan ini, dan tetap inginkan Abang tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang berdiri di luar sana menunggu jawapan Siti.” “Tetapi, jika Siti tidak puas hati, sayangku…biarkan Abang masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang, dan Abang tidak akan menyulitkan hidupmu. Percayalah, bahagia Abang bila Siti bahagia.” Saya terpegun. Segera mata memandang pintu yang terkatup rapat. Lalu saya segera berlari membukakan pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah gusar sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh! Kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah beransur-ansur hilang dari hati kita kerana kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam ‘kewujudan’ yang kita inginkan, maka cinta itu telah hadir dalam ‘kewujudan’ yang tidak pernah kita bayangkan sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Cinta ini telah dikirimkan oleh saudari Rozita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4878857588057718553?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4878857588057718553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/satu-kisah-cinta-malaysia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4878857588057718553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4878857588057718553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/satu-kisah-cinta-malaysia.html' title='Satu Kisah Cinta [Malaysia]'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7wSC4MiCPI/AAAAAAAAB40/2QLPzkL-57k/s72-c/23.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1454366786760776017</id><published>2010-04-03T01:51:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T01:53:08.337-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Pendek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Bisakah kita menjadi Akhwat seperti Izzah?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7cBbOuGLLI/AAAAAAAAB4k/kdIwQ308X90/s1600/hem.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7cBbOuGLLI/AAAAAAAAB4k/kdIwQ308X90/s320/hem.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Hari gini nikah? Nggak salah tuh?" Izzah berkata begitu seraya meleletkan lidahnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, memang sudah waktunya kan? Apa lagi yang kamu tunggu? Kuliah sudah beres, tinggal nunggu wisuda. Amanah nggak di kampus lagi. Umur juga lumayan memenuhi. Nggak ada penghalang lagi kan? So, ngapain nunda-nunda? " kataku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak sendiri gimana? Udah hampir kepala tiga kok masih melajang aja? Kasihan tuh akhwat-akhwat senior yang nunggu dikhitbah ikhwan." protes Izzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengacak kepalanya karena gemas. "Iih, kamu ini. Diajak ngomong baik-baik malah mental terus. Kalo aku lain lagi masalahnya, bukan masalah nggak mau. Sudah ikhtiar berkali-kali tapi Allah belum memudahkan jalannya. Tahu kan?" jawabku dengan mata melotot.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikhtiarnya kurang serius kali. Nyatanya kakak masih kelihatan nyantai-nyantai aja gitu. Kalo kakak aja belum nikah, ngapain juga Izzah buru-buru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu akhwat, Zah. Nggak baik kalo ketuaan nikahnya. Masa-masa suburnya seorang akhwat kan di bawah tiga puluh tahun. Apa kamu nggak khawatir? Lagian sudah banyak ikhwan yang ngincer kamu. Nggak baik kalo kamu menghindar terus." Aku berusaha menghela kesabaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngincer aku? Emang mereka nggak ada kerjaan lain ya selain nglirik-nglirik akhwat? Pantesan sekarang banyak ikhwan yang lelet banget kerjanya kalo dikasih amanah. Kerja dakwah aja nggak beres-beres eh mereka malah sempet-sempetnya ngurusin kenapa akhwat pake baju pink, kenapa akhwat jilbabnya warna-warni, kenapa foto akhwat nampang di presentasi, akhwat kok ketawanya ngakak gitu... bla... bla... bla... Nggak penting banget seeeh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah..." Aku berteriak kencang dan ingin menutup mulutnya yang terus nyerocos tak karuan itu. Tapi Izzah terlanjur berlari keluar rumah setelah sebelumnya mengecup pipi kanan kiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daah Kakak. Izzah keburu ada rapat nih. Assalamu'alaikum. .." katanya seraya melemparkan senyum manjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huah, ini tak bisa dibiarkan. Bisa berabe kalau Izzah masih seperti itu terus kondisinya. Masak sudah hampir dua puluh lima tahun umurnya tapi tak secuil pun kulihat aktivitasnya ada yang mengarah ke penggenapan setengah diennya. Aku sebagai kakaknya tentu saja khawatir dibuatnya. Belakangan ini sudah ada tiga ikhwan yang mendatangiku berturut-turut dan mengatakan ingin bertaaruf dengan adikku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya suka dengan Ukhti Izzah. Bagi saya dia adalah akhwat haraki dengan militansi tinggi yang tak perlu diragukan lagi komitmen keislamannya. Sepak terjangnya selama mengemban amanah di kampus sudah cukup menjadi bukti bagi itu semua. Alangkah berbahagianya kalau ia bisa menjadi pendamping hidup saya." Akhi Ridwan, mantan petingginya waktu di BEM dulu mengungkapkan isi hatinya padaku. Ikhwan ini terbilang cukup baik dan populer di kalangan aktivis dakwah. Aku tidak akan keberatan kalau ia jadi suami bagi Izzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah adalah seorang akhwat dengan kedisiplinan, manajemen emosi, dan intelektualitas yang luar biasa. Saya ingin berkenalan dengan dia lebih jauh, bolehkah?" kalau yang ini datang dari Fauzi, kakak seniornya yang sekarang sudah kerja di Telkomsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tak pernah mengenalnya secara personal. Melihat wajahnya saja belum pernah. Namun saat membaca tulisannya yang berapi-api di media kampus yang cukup melukiskan ghirah dakwahnya yang luar biasa hingga hati saya tergerak untuk meminangnya. Sepertinya saya akan mudah bisa bersinergi dengannya... " Ini yang paling berat. Nggak tanggung-tanggung, keinginan ini datang dari Haris, sobat dekatku yang sudah kukenal luar dalam dan sudah teruji ketangguhannya sebagai seorang kader pilihan hingga anganku pun sempat melayang tak karuan. Membayangkan ia dan Izzah duduk bersanding di pelaminan. Duhai, betapa leganya hatiku sebagai seorang kakak jika bisa menyerahkan Izzah pada orang terpercaya seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah..." panggilku halus saat kami sedang makan berdua di rumah sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?" jawabnya ketus tanpa melihat padaku. Sementara tangannya tak berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalah ikhwan yang ingin kuajukan padamu kemarin itu..." aku belum selesai dengan ucapanku saat tiba-tiba Izzah menghentikan makannya dan menatap garang padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berhenti ngomongin itu atau Izzah boikot kakak sekarang juga." ancamnya dengan raut muka yang terlihat sangat marah. Aku kaget dengan perubahannya yang tiba-tiba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zah, dengerin aku dulu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, aku nggak mau denger topik itu. Bikin bete aja tahu nggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ini penting, Zah. Kita perlu ngomongin serius masalah ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, nggak, nggak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah, tolong dewasalah." pintaku dengan nada memelas dan berusaha meraih tangannya untuk menenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayaaaaaaah. .." eh, ia malah bangkit berdiri dan berteriak-teriak memanggil ayah. Kacau nih. Ayah yang saat itu sedang bersantai-santai di belakang rumah datang tergopoh-gopoh ke arah kami. Izzah tersenyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa sih kalian sore-sore gini ribut kayak anak kecil aja. Malu didenger tetangga tahu nggak?" tanya beliau dengan suara lantang dan kedua tangan yang bergayut di pinggang seperti orang menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak tahu nih, Yah. Kakak tuh suka gangguin Izzah aja, ngajakin ngomong aneh-aneh yang Izzah nggak mau denger. Padahal aku kan lagi makan." Izzah berhasil ngomong duluan dan berlindung di belakang ayah dengan memasang muka memelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak kok, Yah. Irfan cuma pengen ngomong sesuatu yang penting aja. Tapi Izzahnya nggak perhatian. Belum selesai ngomong dia malah teriak-teriak manggil Ayah. Kekanak-kanakan banget kan?" balasku berusaha membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mending kekanak-kanakan daripada kakak yang kekakek-kakekan. Bagusan mana coba?" ledeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, malah balik menghina. Dasar bayi baru gede. Nggak bisa diajak ngomong baik-baik." Aku tersinggung mendengar kata-kata Izzah dan ganti meledeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Biarin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, sudah. Stop berantemnya. Pusing ayah mendengarnya. Nggak peduli siapa yang salah siapa yang benar pokoknya stop! Sudah hampir maghrib tuh. Kalo sampai adzan nanti masih kudengar kalian kayak gini kuhukum kalian berdiri sampai besok pagi. Mengerti!" Huh, gawat kalau watak tentaranya ayah sudah kumat begini. Tak ada toleransi lagi. Jadinya aku terpaksa mengalah dan kembali duduk tanpa bicara. Kukunyah kembali makananku tanpa ingin memperpanjang lagi pertengkaran itu. Sementara Izzah mengambil piringnya dan makan lagi dengan memasang tampang cuek. Sidang ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak ingin menyerah sampai di situ saja. Hari-hari berikutnya aku masih terus merancang strategi bagaimana caranya supaya Izzah bisa tertarik untuk kuajak bicara masalah ini. Aku ingin tahu kenapa ia sepertinya anti dengan topik mulia ini. Adakah sesuatu yang mengganjal hatinya dan aku tidak mengetahuinya? Soalnya sebagai sesama saudara selama ini kami terbilang cukup dekat, sering curhat-curhatan masalah dakwah atau pribadi, dan pergi ke mana-mana bareng. Jadi aku cukup tahu apa saja aktivitasnya dan ia juga tahu apa saja aktivitasku. Jarang ada sesuatu yang tersembunyi di antara kami. Masalah ikhtiarku untuk menikah yang gagal terus karena terhalang oleh beberapa kendala pun ia tahu juga walaupun untuk masalah yang satu ini ia lumayan kurang care. Apa dia phobia menikah ya... jangan-jangan begitu. Ya, aku ingat dia sering curhat masalah apa pun tapi jarang sekali dia menyentuh topik tentang cinta ikhwan akhwat atau pernikahan. Ada yang aneh di sini. Aku harus cari tahu, tekadku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka karena terdorong oleh rasa penasaran itu sekaligus karena memang aku ingin berusaha mendekatkan Izzah pada upaya penggenapan setengah diennya aku pun jadi sering memperhatikannya lebih dari biasanya. Kuselidiki lebih detail aktivitasnya dalam seminggu apa saja. Tak kurang-kurang aku mengawasinya dengan semangat mengantarnya ke mana saja, meneleponnya tiap satu jam sekali supaya tahu ia sedang apa, mengubek-ubek isi tasnya, mempelajari mimik mukanya, meneliti buku-buku di kamarnya tanpa sepengetahuannya, mencari tahu isi lemari dan kolong tidurnya... Nihil. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Ia masih Izzahku yang heroik dan penuh semangat, yang atmosfer kehidupannya disibukkan oleh aktivitas dakwahnya. Mabit, demo, rapat, lembur bikin proposal, ngisi kajian, ngurusi mentoring, lokakarya, up grading, baksos... begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak kenapa? Kok kayaknya sekarang perhatian banget sama Izzah?" tanyanya dengan muka menyelidik saat kami sedang menyantap es krim berdua di restoran simpang lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak pa-pa. Mumpung masih sendiri. Kali bulan depan aku sudah menikah sehingga nggak punya waktu buat manjain kamu lagi," pancingku. Sayangnya usahaku ternyata sia-sia. Dia tak tergoda untuk balik menggugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tabungan kakak sudah berapa?" ia membuka tasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah?" aku bengong, "maksudnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tanya tabungan kakak sekarang sudah berapa? Sudah lama kan kakak bekerja. Minggu depan departemenku ngadain seminar nasional. Mau nggak nyumbang? Kita kekurangan dana nih." Ia membuka proposal dan menunjukkan bagian anggaran dana pengeluaran padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Aku dapat ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh, tapi ada syaratnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benarkah?" kedua matanya berbinar-binar ceria. Ia memelukku dengan gembira. "Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceritakan padaku kenapa sepertinya kamu anti kalo kuajak ngomong tentang pernikahan?" Aku membetulkan letak dudukku, bersiap mendengarkan penuturannya. Tapi ia malah memasukkan kembali proposal itu ke dalam tasnya dan pura-pura seperti tak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak jadi. Aku cari donatur lain aja." ucapnya datar sembari mengarahkan pandangannya ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ye, gitu aja marah. Iya ya, aku nyumbang. Berapa? Lima ratus ribu aja ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Transfer ke rekeningku secepatnya." katanya tanpa mengucapkan terima kasih. Begitulah Izzahku yang ceria akan berubah jadi dingin sikapnya kalau sudah mulai kusinggung-singgung masalah yang tadi. Bikin aku patah hati. Ditambah lagi aku juga harus terus-terusan merayunya karena ia kalau sudah mutung bisa sangat lama. Uh, capek deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir menyerah pada usahaku dan tak mau ambil pusing lagi dengan urusan ini. Biarlah semuanya berjalan apa adanya, pikirku. Toh, kalau memang Izzah belum mau, ngapain juga dipaksa-paksa. Ntar malah nggak berkah hasilnya, ya nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebait tulisan Izzah yang tertangkap oleh mataku larut malam itu membuat rasa penasaranku datang lagi. Aku menemukannya secara tak sengaja saat hendak mematikan komputer Izzah yang masih menyala dan ditinggal tidur olehnya. Kubaca berulang-ulang tulisan yang lebih mirip puisi itu dengan dahi mengernyit. Sebait puisi di sepotong kertas yang digenggam sampai tidur oleh penulisnya, tidakkah itu menandakan sesuatu yang amat berarti baginya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan dia sebagai wanita biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita biasa yang menjadikan islam sebagai mahar pernikahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan dia sebagai wanita hartawan berjiwa mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita mulia yang setia mendampingi lelaki utama dalam kesederhanaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tertatih-tatih aku pun mengejar ketinggian cita-citanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sayap-sayap ini mulai patah saat sadar bahwa itu jauh dari realita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbi, berilah aku kesempatan untuk menjadi seperti mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan jihad jadi kekasihku supaya kelak aku bisa jadi kekasih-Mu.. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca puisi itu dengan penuh tanda tanya. Apa yang terjadi? Pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah... Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpaling pada Izzah yang kini mengigau menyebut nama-Nya. Kucoba meraba keningnya. Hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah... Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izzah terus mengigau. Dua bulir bening mengalir dari matanya. Adikku menangis dalam tidurnya! Aku betul-betul tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah..." panggilku halus seraya mencoba membangunkannya. Tapi ia tetap tak bergeming. Sementara bibirnya tak henti mengigau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit panik. Segera aku berlari ke kamar ayah dan menggedor pintunya keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayaaah, Izzah sakit. Kita harus memanggil dokter."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak tidak tahu? " Fika mengernyitkan keningnya dan menatapku heran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku betul-betul tidak tahu apa-apa. Karena itulah aku bertanya padamu, barangkali kamu lebih tahu masalah ini daripada aku." jawabku tanpa menutup-nutupi kegalauan hatiku. Sore itu aku sengaja menemuinya di lapangan basket tempat ia latihan. Fika adalah sahabat dekat Izzah sejak SMA. Meski mereka berbeda karakter dan kesibukan tetapi itu tidak menghalangi kuatnya ikatan hati di antara mereka. Gadis ini memang lumayan punya tampang cuek dan tomboy abis tapi entah kenapa Izzah enjoy menjadikan dia sebagai sahabat dekatnya. Bahkan saking deketnya Fika sudah sangat mengenal bahasa-bahasa dakwah yang biasanya hanya digunakan di kalangan ikhwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika menghela nafas berat seraya menundukkan kepalanya ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Fik? Tolong ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada adikku." desakku. Firman yang kuajak untuk menemaniku tampak asyik membaca buku di atas motorku di parkiran. Aku memang menyuruhnya agak jauhan agar Fika leluasa berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fika takut Izzah akan marah." katanya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku kakaknya. Tidak berhakkah aku mengetahuinya demi membantunya keluar dari masalahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu memalingkan pandangannya ke arah lain. Aku harus menunggunya lama sampai dia mau bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kira-kira lima bulan yang lalu Izzah menjalani taaruf dengan seorang teman kampusnya... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What?" aku tersentak kaget, "ikhwan bukan? Kok tidak terdengar kabarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika memelototkan matanya, "ya ikhwanlah, masak akhwat?" protesnya. Aku buru-buru menenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, maksudku lelaki biasa atau yang sudah ngaji?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ikhwan aja keder kalo ngadepin Izzah, apalagi lelaki biasa. Jadi terjemahkan sendiri."&lt;br /&gt;Aku menggaruk-garukkan kepalaku. "Iya, aku tahu kalo Izzah terkenal galaknya. Dia kan nggak mau deket-deket sama lawan jenis kecuali kalo ada perlunya. Jadi kalo sampai ada yang berani naksir dan taaruf langsung pasti tuh ikhwan gede banget nyalinya ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak naksir tapi Izzah yang menawarkan diri padanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedubrak. Aku hampir terjungkal ke belakang mendengar pernyatan dari Fika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menawarkan diri? Emangnya dia akhwat yang nggak laku? Banyak kok yang naksir padanya dan minta aku mak comblangin dia. Izzah kan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika buru-buru menyetopku. "Emangnya kalo akhwat menawarkan diri itu karena dia nggak laku? Dan emangnya kalo banyak yang naksir itu sudah pasti Izzah bisa sreg dengan salah satunya? Suka-suka Izzah dong mau cari pendamping hidup lewat cara apa. Asal halal Lha wong dia yang mau nikah." semprotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha mengatur emosiku. "Eh, ya ya aku tahu. Tapi ceritain gimana kok bisa-bisanya Izzah menawarkan diri pada ikhwan itu... Pasti dia punya banyak kelebihan ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Irfan..." Fika menyebut satu nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Irfan?" aku mencoba-coba mengingat sosok pemilik nama itu, "lho, dia kan yang mengalami kecelakaan motor dan kakinya terpaksa diamputasi itu? Ya Allah..." aku menepuk dahiku, semakin bingung saja aku saat mendengar semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Irfan. Seorang ikhwan yang bahkan mungkin di kalangan kalian para aktivis saja tidak banyak yang mengenalnya. Yah, dia memang hanya ikhwan biasa yang tidak punya posisi utama di lembaga dakwah manapun, sepak terjang yang terlihat biasa-biasa saja, dan punya tampilan biasa-biasa saja atau nggak ikhwan banget lah, setidak-tidaknya itu menurut pandangan kalian. Keluarganya juga biasa, bahkan boleh dibilang miskin. Adik-adiknya banyak, rumahnya di pinggiran rel kereta. Ayahnya pergi meninggalkan mereka sepuluh tahun yang lalu. Jadi selama sepuluh tahun ini Irfan dan ibunya berjuang menghidupi adik-adiknya. Siang ia kuliah, sore mengajar bimbel, malam menarik becak, dan pagi jualan koran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Izzah ingin menikah dengan Irfan supaya dia bisa membantunya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi ibu dan adik-adiknya? " tebakku. Semenjak Izzah masih kecil aku sudah tahu kalau adik semata wayangku itu cukup berjiwa sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tepat. Izzah memandang bahwa keluarga kalian cukup punya harta untuk dibagi-bagi dengan sesama. Dia punya ayah seorang jendral, ibu pengusaha, kakak kontraktor, dan dia sendiri hampir lulus dengan predikat cum laude hingga tak perlu risau untuk dapat kerja karena sudah banyak perusahaan yang menawarinya. Sempurna bukan?" ujar Fika dengan pandangan menerawang. Raut mukanya terlihat sedih. Aku sendiri tercenung dengan penuturannya. Izzahku, betapa mulia hatimu. Membuatku sejak dulu harus berkali-kali menutupi mukaku karena malu kalah cepat denganmu dalam berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan Irfan? Apakah... dia menerima Izzah?" tanyaku terbata-bata. Aku bisa membayangkan hancurnya hati Izzah kalau tawaran baiknya ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Butuh perjuangan keras untuk meyakinkan Irfan bahwa Izzah siap menjadi istri dari lelaki sederhana seperti dia, bahwa Izzah meskipun berasal dari keluarga kaya raya tapi bukan layaknya putri yang suka dimanja dan diistimewakan, bahwa Izzah meskipun di lembaga dakwah terlihat amat diprioritaskan dan Irfan tidak terperhatikan itu tidak bisa menjadi ukuran bahwa ia lebih baik dari ikhwan biasa seperti dia. Ketegaran Irfan dalam menghidupi adik-adiknya sudah cukup membuktikan bahwa ikhwan itu lebih banyak memiliki keutamaan dibandingkan dia, begitu menurutnya." sampai di sini mata Fika berkaca-kaca dan kedua tangannya gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitu berliku-liku proses taaruf itu. Hingga akhirnya ketika keduanya sudah sama-sama mantap dan Irfan siap untuk melamar Izzah... " kalimatnya terhenti. Ia menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menelan ludahku yang terasa pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Irfan mengalami kecelakaan sehingga hubungan mereka tak bisa berlanjut sampai ke pelaminan, begitukah?" tanyaku dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika menganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat kecelakaan itu terjadi hati mereka sama-sama hancur. Tetapi Izzah tidak melihatnya sebagai penghalang, ia lebih menganggap itu sebagai ujian keikhlasannya sehingga dia bersikeras untuk tetap menikah dengan Irfan. Ketidaksempurnaan fisik Irfan bukan masalah berarti baginya sebab sejak awal memang dia sudah meniatkan pernikahannya sebagai ladang jihadnya. Sayangnya Irfan yang tak tega untuk menerimanya kembali, ia tak ingin semakin memberatkan Izzah dengan kondisinya yang sudah tak sempurna itu. Sudah miskin, cacat pula. Berkali-kali Izzah memohon-mohon padanya tapi tetap saja sia-sia. Begitu banyak rintangan yang telah mereka lewati, tetapi ternyata perjuangan mereka untuk bersatu dalam mahligai rumah tangga akhirnya kandas juga..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menahan air mataku yang mendesak keluar, hatiku perih membayangkan Irfan dan Izzah yang harus mengalami tragedi memilukan ini. Sementara Fika semakin larut dalam tangisnya sehingga aku tak ingin lagi bertanya. Kesedihan telah merasuki hati kami dan membuat kami jadi sama-sama berdiam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru mau bangkit dari dudukku dan berniat mengakhiri pembicaraan kami sore itu saat Fika berkata lagi padaku dengan raut muka pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak, jika suatu hari nanti Izzah sudah sembuh dari lukanya dan siap membuka hatinya untuk ikhwan lain tolong Kakak menjaganya agar jangan sampai terluka untuk yang kedua kalinya. Carikan ia seorang ikhwan biasa yang bisa mewujudkan misi pernikahannya yang tertunda. Izzah lelah dengan kesempurnaan. Selama ini ia begitu lekat dengan predikat tajir, cerdas, militan, rupawan... Maka jangan sandingkan ia dengan ikhwan-ikhwan yang memiliki predikat serupa. Ia benci dengan ikhwan-ikhwan yang ingin menikahinya karena tergiur oleh predikat-predikatny a itu sebab baginya menikah bukanlah untuk unjuk prestasi. Sebab ia merasa bahwa ia tidak akan teruji keimanannya jika tidak bisa melenyapkan parameter-parameter itu dalam memilih pendamping hidupnya. Sebab ia ingin merdeka dari pesona-pesona yang sekejab mata. Sebab..." Fika tak sanggup lagi meneruskan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab ia ingin menjadikan jihad sebagai kekasihnya.. ." aku melanjutkannya dengan air mata yang tak bisa lagi kusembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shubuh baru saja berlalu tapi aku sudah berganti pakaian olah ragaku dan bergegas mengetuk pintu kamar Izzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zah, lari pagi yuk." ajakku seraya duduk di pinggir tempat tidurnya. Izzah yang saat itu lagi tilawan mendongakkan kepalanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, ah. Aku mo ngerjain lpj." katanya malas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lpj bisa dikerjain lain waktu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak mau. Selain lpj ada banyak tugas lain yang harus kukerjain. Tuh lihat." matanya mengarah ke deretan tulisan tentang agenda hari ini yang sudah ia list malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah, paling lari cuma setengah jam aja kok. Sekali-kali olah raga dong biar sehat. Nggak kapok ya kemarin habis sakit gitu. Ntar kubantuin deh. Kan ini hari minggu, jadi aku nganggur." rayuku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana ya?" ia masih tampak pikir-pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iih, susah banget sih. Ayolah, fisik juga ada haknya lho. Kalo mau jihad kan harus kuat luar dalem biar nggak gampang KO. Jalan dakwah kan berat... Ayo, srikandi langitku!" desakku seraya menjawil kedua pipinya yang membuat ia tertegun dengan kata-kataku barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Srikandi langit..." katanya dengan menggigit bibirnya. Aduh, aku salah ngomong ya, pikirku. Kugeser dudukku supaya bisa lebih dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah, aku sudah tahu semuanya. Fika menceritakannya padaku seminggu yang lalu. Maafkan aku jika memaksa dia membuka rahasia yang kau percayakan padanya. Tapi aku perlu tahu demi kebaikanmu dan demi rasa sayangku padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kelihatan kaget. Kedua matanya berkaca-kaca. Aku mengusapnya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izzah, kau gadis yang kuat dan tabah. Kadang-kadang aku bertanya terbuat dari apakah hatimu hingga pintar sekali menyembunyikan luka itu. Tapi, kumohon berbagilah denganku. Mungkin aku tidak bisa menghiburmu atau membantumu keluar dari kemelut itu. Tapi setidaknya aku tahu apa yang sedang merisaukan hatimu sehingga aku tidak salah mengambil langkah. Aku takut aku melakukan sesuatu yang kukira baik bagimu tapi ternyata malah semakin menyakitimu. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izzah menghambur ke pelukanku dengan menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tawarkan diriku padanya karena aku melihat surga terbentang di sana, di kehidupannya yang susah dan jauh dari kemewahan. Kuberanikan diriku dan kukuatkan azzamku karena aku berharap bisa seperti Bunda Khadijah yang merelakan hartanya di jalan-Nya atau seperti Ummu Sulaim yang memenangkan cinta di atas cinta. Tapi sepertinya aku hanyalah hamba yang hina hingga Allah pun tak mengabulkan cita-citaku menjadi srikandi langit seperti mereka. Jadi beginilah Izzah yang sebenarnya, Izzah yang dikenal tajir, cerdas, kaya ternyata tak punya nilai di hadapan-Nya hingga tak cukup layak mendampingi lelaki zuhud seperti dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku trenyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa? Apakah telah begitu menggunungnya dosa-dosaku hingga aku semakin sulit mendapatkan kesempatan untuk menggapai surga? Apalah artinya predikat-predikat mulia di hadapan manusia jika ternyata aku tak bisa menggunakannya sebagai sarana untuk meraih keridhoan-Nya. .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssstt, Izzah jangan ngomong seperti itu. Justru ujian ini sebenarnya adalah sebagai wujud kasih sayang Allah padamu. Dia ingin membuatmu lebih kuat menggenggam keistiqomahan niat dan tujuan di tengah kondisimu yang memang rentan dengan godaan kesombongan. Sekali-kali terjatuh itu tak apa. Ayo bersemangatlah! Pagi ini olah raga. Habis itu kita bersiap-siap untuk menyambut Irfan. Siang ini ia mau datang ke sini buat meminangmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What?" Izzah melepaskan pelukannya dan memandangku dengan mata melotot. Aku tersenyum seraya menganggukkan kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku sudah menemui Irfan dan meyakinkannya kembali akan cita-cita pernikahan kalian yang tertunda. Emang sih butuh perjuangan berat buat meruntuhkan kekerasan hatinya. Nggak tanggung-tanggung, aku harus bolak-balik silautahim ke rumahnya dan bermanis-manis muka di hadapan ibunya, mentraktir adik-adiknya makan ayam goreng di Arto Moro, nemenin mereka menggembala kambing dan berkotor-kotor ria di sawah, trus menceramahi Irfan panjang lebar dan merengek-rengek kayak anak kecil padanya, eh nggak ding... Wuah, capek deh. Pokoknya sudah kukeluarkan semua jurus-jurus ampuhku buat meluluhkan hatinya. Nggak kalah kalau mau dibandingin dengan perjuangan mereka-mereka yang di Katakan Cinta. Yah, semoga saja caraku ini nggak terkesan norak-norak amat. Lha wong mau bantuin adiknya biar cepet nikah kok. Jadi pasti dihitung pahala oleh Allah ya..." aku berkata dengan suara mantap dan penuh kepuasan. Sementara Izzah gemetar mendengar pengakuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak..." panggilnya dengan nada bergetar. Aku kembali memeluknya erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, jangan bersedih lagi. Akhirnya jadi juga kan kamu menikah dengannya. Udah, cup... cup... adekku sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih..." ucapnya lirih namun cukup membuat hatiku berbahagia saat mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tapi sebagai imbalannya jangan lupa gantian cariin aku belahan jiwaku yang belum ketemu-ketemu ya. Sudah kebelet nikah juga nih. Ayo yang semangat jadi mak comblangku. Ciee, adekku lebih duluan dari aku nih. Nggak relaaaa..." aku menggodanya lagi. Izzah memukul bahuku manja. Aku terkekeh-kekeh gembira.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1454366786760776017?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1454366786760776017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/bisakah-kita-menjadi-akhwat-seperti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1454366786760776017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1454366786760776017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/04/bisakah-kita-menjadi-akhwat-seperti.html' title='Bisakah kita menjadi Akhwat seperti Izzah?'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7cBbOuGLLI/AAAAAAAAB4k/kdIwQ308X90/s72-c/hem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1971952393169436957</id><published>2010-03-30T18:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T18:40:00.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Ketika Tuhan Mengatakan "Tidak"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7Kn4dUYgfI/AAAAAAAAB3E/zvNfNcJjjQE/s1600/DSCN0289.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7Kn4dUYgfI/AAAAAAAAB3E/zvNfNcJjjQE/s320/DSCN0289.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku. &lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus  menyerahkan nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat. &lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah  sementara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan beri aku kesabaran. &lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi  cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan beri aku kebahagiaan. &lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung  kepadamu sendiri. "&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.&lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan  mendekatkanmu pada Ku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat. &lt;br /&gt;Tuhan berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati  segala hal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku. &lt;br /&gt;Tuhan berkata... "Ahhhh , akhirnya kau mengerti !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah  memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada  hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan dan bahkan ratusan  lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi  justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah. Kita  mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan  penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.  Kita menginginkan harta yang berkecukupan , namun kebutuhan terus  meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang  demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas  badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa  demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita  (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es.  Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit  kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita  tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang  paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini  Tuhan mengabulkan nya. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak  tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam"....  dan terus berdoa.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sumber: &lt;a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=391729301453"&gt;Catatan  Setitik Embun Inspirasi&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1971952393169436957?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1971952393169436957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/ketika-tuhan-mengatakan-tidak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1971952393169436957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1971952393169436957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/ketika-tuhan-mengatakan-tidak.html' title='Ketika Tuhan Mengatakan &quot;Tidak&quot;'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S7Kn4dUYgfI/AAAAAAAAB3E/zvNfNcJjjQE/s72-c/DSCN0289.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8015827873411165242</id><published>2010-03-26T23:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T23:44:44.787-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Kisah Nyata Ibrahim Nasser dari Bahrain</title><content type='html'>Nabi sallallahu `alayhi wa sallam bersabda," Ada dua nikmat di mana  banyak manusia terpedaya di dalamnya, yaitu sehat dan waktu luang. "  [Shahih Bukhari, Kitab 81, Bab 1, Hadits No 6.412, hal 1232.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini  adalah kisah nyata yang disertai dengan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah  memberi Anda hidayah, ini dapat mengubah hidup, cara berpikir, dan  tujuan utama dalam hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah cerita tentang  seseorang dari Bahrain bernama Ibrahim Nasser. Dia telah lumpuh total  sejak lahir dan hanya dapat menggerakkan kepala dan jarinya. Bahkan  bernapasnya dilakukan dengan alat bantu. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62owvhZ6xI/AAAAAAAAB18/__pc2HSUc_4/s1600/a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62owvhZ6xI/AAAAAAAAB18/__pc2HSUc_4/s320/a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda ini sangat ingin  bertemu syekh Nabeel Al-Awdi. Maka, ayah Ibrahim pun menghubungi syekh  lewat telepon untuk mengatur kunjungan ke Ibrahim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" height="232" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=17d37a6813c8e9a9d30271ac102e1d2a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fhphotos-snc3.fbcdn.net%2Fhs213.snc3%2F22032_1327186734271_1068990951_31011252_19263_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini syekh Nabeel tiba di  bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim sangat senang melihat syekh Nabeel membuka pintu  kamarnya. Kita hanya bisa melihat kebahagiaan dari ekspresi wajahnya  karena ia tidak dapat berbicara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=e05488d0404d0fc8cd65e8dcaf54d52a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fhphotos-snc3.fbcdn.net%2Fhs213.snc3%2F22032_1327187054279_1068990951_31011253_7664607_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat syekh Ibrahim Nabeel  memasuki kamar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=cb941f72dd94fc815166fc147fb9b504&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-h.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash1%2Fhs293.ash1%2F22032_1327193734446_1068990951_31011417_1557277_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini adalah ekspresi  Ibrahim ketika bertemu dengan syekh Nabeel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan alat  pernapasan di leher Ibrahim... Ia bahkan tidak mampu bernapas dengan  normal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=4b98bb64b7627c8c84165d4b65ec92af&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fhphotos-snc3.fbcdn.net%2Fhs213.snc3%2F22032_1327194654469_1068990951_31011433_628533_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebuah ciuman di kepala  untuk Ibrahim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=29d4e7af07df002ee9dd2cb13eb3c1d7&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-h.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-snc3%2Fhs213.snc3%2F22032_1327195134481_1068990951_31011434_1738290_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim dengan ayahnya,  pamannya, dan syekh Nabeel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu syekh Nabeel dan Ibrahim mulai  berbicara tentang Dakwah di internet dan perjuangannya yang diperlukan.&lt;br /&gt;Mereka  juga saling bertukar cerita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" height="199" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=a116e3e311e24c37fb87f6ab85568b33&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-b.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash1%2Fhs293.ash1%2F22032_1327195334486_1068990951_31011435_7895307_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama percakapan  mereka itu, syekh Ibrahim Nabeel melontarkan pertanyaan. Sebuah  pertanyaan yang membuat Ibrahim menangis... dan air mata bergulir di  pipi Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=f0b8cd5a44d3ab2a8181409f65416535&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-d.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-snc3%2Fhs213.snc3%2F22032_1327195654494_1068990951_31011436_4108779_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim  tidak bisa menahan tangisnya ketika ia ingat beberapa kenangan masa  lalunya yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=ef18e9bd14289af612e5c58435765c6a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-f.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-snc3%2Fhs233.snc3%2F22032_1327195814498_1068990951_31011437_6717424_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah ketika syekh  Nabeel menyeka air mata dari wajah Ibrahim.&lt;/div&gt;&lt;img alt="" height="233" src="http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=0295cb5d13e085d34ecb45473c014e9a&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fphotos-e.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash1%2Fhs293.ash1%2F22032_1327196014503_1068990951_31011438_771331_n.jpg" width="354" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda tahu pertanyaan  apa yang membuat Ibrahim menangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh itu bertanya: Oh  Ibrahim .. jika Allah telah memberi kesehatan kepadamu ... apa yang akan  kamu lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan demikian Ibrahim menangis  tersedu-sedu, dan ia membuat syekh, ayahnya, pamannya dan semua orang di  ruangan menangis .. bahkan pria yang memegang kamera pun menangis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  jawabannya adalah: "Demi Allah saya akan melaksanakan shalat di masjid  dengan sukacita .. Saya akan menggunakan nikmat kesehatan saya dalam  segala sesuatu yang akan menyenangkan Allah SWT."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara –  saudariku, Allah telah menganugerahi kita dengan kelincahan dan  kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tidak melaksanakan (mendirikan) ibadah  shalat kita di masjid! Dan kita duduk berjam-jam di depan komputer atau  TV!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sungguh, pada yang  demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai  hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”  (QS. Qaf: 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from V&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;a-islam.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari: &lt;a href="http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/361/Kisah_Nyata_Ibrahim_Nasser_dari_Bahrain_"&gt;http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/361/Kisah_Nyata_Ibrahim_Nasser_dari_Bahrain_&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8015827873411165242?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8015827873411165242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/kisah-nyata-ibrahim-nasser-dari-bahrain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8015827873411165242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8015827873411165242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/kisah-nyata-ibrahim-nasser-dari-bahrain.html' title='Kisah Nyata Ibrahim Nasser dari Bahrain'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62owvhZ6xI/AAAAAAAAB18/__pc2HSUc_4/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1227879631712207526</id><published>2010-03-26T23:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T23:28:25.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Sekitar Kita'/><title type='text'>Dibayar Dengan Senyuman</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62jsmsrGnI/AAAAAAAAB10/EHIyK5Ej_9k/s1600/Smile.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62jsmsrGnI/AAAAAAAAB10/EHIyK5Ej_9k/s320/Smile.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;"&gt;Suatu hari, di  sudut pasar yang ramai... orang-orang  sedang sibuk menawarkan barang dagangannya kepada para pembeli yang  lewat. setiap kedai buah di pasar tersebut ramai didatangi oleh pembeli .  namun, ada satu kedai yang terlihat aneh diantara sekian banyak kedai  buah. Ya, kedai milik pa&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;"&gt;k ali itu jarang sekali didatangi  oleh pembeli. apa yang terjadi??&amp;nbsp; hmmm.......  tak lama berselang datanglah seorang ibu yang ingin membeli apel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"  Pak berapa harga apel ini?" tanya ibu tersebut&lt;br /&gt;"dua puluh ribu satu  kilo" jawab pak ali dengan ketus &lt;br /&gt;" kok mahal sekali pak? bisa kurang  tidak?" sambung ibu tersebut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: comic sans ms;"&gt;&lt;br /&gt;" tidak bisa!! kalau tidak sanggup beli  ya sudah! cari kedai yang lain saja!!" sahut Bu Ali&lt;br /&gt;Dengan perasaan  kesal, ibu tersebut meninggalkan kedai buahnya Pak Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wah pantas  saja kedai mereka sepi pengunjung. Pak Ali dan Bu Ali melayani pembeli  dengan galak sihh..&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/angry.png" /&gt; Kemudian,  datanglah seorang anak perempuan kecil yang kurus dan berpakaian lusuh  menghampiri kedai tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permisi Pak, Bu...." sapa anak  tersebut&lt;br /&gt;"Apa??" sahut Pak Ali dengan wajah garang " Pergi sana!!  kami tidak menerima pemgemis!"&lt;br /&gt;"Maaf Pak.. saya datang ke sini bukan  untuk mengemis" sapa anak perempuan tersebut dengan ramah&lt;br /&gt;"Lalu? mau  apa kau ke sini?" jawab Bu Ali "Membeli buah?? hahahahahaha....."  ucapnya dengan sinis&lt;br /&gt;"Bukan Pak, Bu.... saya datang kesini hanya  ingin minta maaf" jawab anak tersebut dengan senyum manisnya&lt;br /&gt;" Minta  maaf? untuk apa??" sahut Pak Ali dan Bu Ali serempak&lt;br /&gt;" Begini Pak,  Bu... kemarin, ketika Bapak melintas di depan pasar, saya melihat  sebutir apel jatuh dari gerobak bapak. ketika itu kondisi saya sedang  sangat lapaar sekali... untuk menghilangkan rasa lapar, saya dengan  lancangnya memakan apel tersebut. tanpa minta izin terlebih dahulu  dengan Bapak. malamnya saya tidak bisa tidur... saya gelisah, karena  telah memakan sesuatu yang bukan hak saya. oleh karena itu, saya datang  ke sini untuk meminta maaf kepada Bapak dan Ibu..." cerita anak tersebut  dengan ramah&lt;br /&gt;" Enak saja minta maaf! kamu sudah memakan apel kami  tanpa izin!" ucap Pak Ali dengan marah&lt;br /&gt;"Benar! dan kamu harus  membayarnya!!" timpal Bu Ali sengit&lt;br /&gt;"Baiklah Pak, Bu.... Saya akan  membayarnya.." jawab anak tersebut dengan ramah&lt;br /&gt;"Hahahaha... dengan  apa kamu membayarnya?? lihat dirimu!" hina mereka berdua&lt;br /&gt;"Akan saya  bayar dengan..... senyuman&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" /&gt;" sahut anak  tersebut sambil memamerkan senyum indahnya......&lt;br /&gt;" Apa?? dasar anak  sinting!! mana bisa senyummu mengganti kerugian apelku" Pak Ali menjawab  dengan kesal "Sudah!! Pergi saja dari sini!!" usirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  anak perempuan tersebut tidak bergeming dari tempatnya. Dia tetap  tersenyum di depan kedai Pak Ali. lama-kelamaan, aksinya ini menarik  perhatian beberapa pembeli yang melintas. salah seorang dari mereka  bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa engkau tersenyum, Nak?"&lt;br /&gt;"Aku tersenyum  karena senang sekali.... hari ini sangat cerah, dan hari secerah ini  terasa lebih lengkap jika dinikmati bersama buah-buahan segar dari kedai  Pak Ali " anak tersebut menjelaskan dengan ramah&lt;br /&gt;"Wah.. Apa benar  buah-buahannya sesegar itu?" ujar mereka penasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya...  beberapa dari mereka tertarik untuk menghampiri kedai buah Pak Ali.  melihat kedainya mulai ramai didatangi oleh pembeli, Pak Ali dan Bu Ali  tertegun sejenak.... mereka saling berpandangan. seolah tak percaya  dengan apa yang telah mereka lihat. sementara, anak perempuan misterius  tersebut terus saja menebarkan senyum kepada siapa saja yang melintas  didepannya. semakin banyak yang tertarik dengan senyumannya, semakin  banyak pula yang singgah di kedai buah Pak Ali. sampai akhirnya semua  buah-buahan mereka habis diburu pembeli. suatu hal yang tidak pernah  mereka alami sebelumnya. dan..... mereka berusaha mencari anak perempuan  tersebut, yang menghilang secara tiba-tiba ketika pembeli terakhir  datang. namun, mereka tidak bisa menemukannya di sudut pasar manapun.  seorang anak yang telah membayar mereka dengan senyuman....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1227879631712207526?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1227879631712207526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/dibayar-dengan-senyuman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1227879631712207526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1227879631712207526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/dibayar-dengan-senyuman.html' title='Dibayar Dengan Senyuman'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S62jsmsrGnI/AAAAAAAAB10/EHIyK5Ej_9k/s72-c/Smile.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-4775665563414950564</id><published>2010-03-26T19:22:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T23:35:46.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>Kisah inspiratif seorang lelaki yang menghindari pacaran karena Allah</title><content type='html'>&lt;div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div&gt;Semalam saya lagi browsing2 internet dan nemu kisah ini yang  ditulis oleh seorang kaskuser. Saking inspiratifnya, di postingan ini  dikomentari user lainnya sampai 58 halaman. Bahasanya ringan tapi  menarik, mudah2an ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini. Been  there, done that and Alhamdulillah Allah have chosen me the right person  not with the 'pacaran' way. So here's the story :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__________________________&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;_______&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gan ane mau share nih gan, tentang perempuan yang mengganggap ane  sebagai orang yang paling berarti dalam hidupnya. Kalau ga tertarik  jangan di bata yah gan..&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi gini gan, ane udah pacaran sama dia lebih dari 1 tahun, nah  dimasa-masa pacaran itu ane selalu bimbang, soalnya kan dalam agama ane  (Islam) pacaran itu dilarang, kecuali buat yang udah nikah gan &lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=11475151&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=382324041245&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=382324041245&amp;amp;id=760970122"&gt;&lt;img class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs065.snc3/13302_10150150013880123_760970122_11475151_7974077_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;. Ane  juga ga munafik gan, walaupun belum menikah, tapi ane tetap butuh  perhatian dari seorang perempuan yang menyayangi ane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah disinilah letak permasalahannya gan, ane mau pacaran, tapi di batin  ane juga takut akan siksa Allah gan. Udah beberapa kali ane mutusin dia  gan, tanpa menyebutkan alasan yang jelas, dan dia terus aja minta  hubungan ini diteruskan, kalau bisa ke jenjang yang lebih serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimulailah sebuah percakapan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Kenapa sih minta putus terus ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: .....(diam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Kamu jujur aja ya, apa ada perempuan lain yang kamu suka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Sumpah, ga ada ko &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Trus kenapa? apa aku kurang cantik??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Jangan bercanda, kalau pakai jilbab kamu pasti lebih cantik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Aku cuma sedang ga mau pacaran, mau nunggu kuliahku selesai dulu,  itu aja sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Emang pacaran kita ganggu kuliah kamu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Ngga sih, tapi secara ngga langsung sangat mengganggu jiwaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: &lt;u&gt;&lt;i&gt;Percuma tiap hari aku shalat, namun tiap minggunya dikotori  dengan pacaran...&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Aku juga sebenarnya ga mau, tapi aku memang butuh kamu, aku udah  cinta mati sama kamu sejak SMP...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: masa sih ??? &lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=11475160&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=382324041245&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=382324041245&amp;amp;id=760970122"&gt;&lt;img class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs045.snc3/13302_10150150014130123_760970122_11475160_4315366_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: iya beneran ko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Menurut kamu, lebih baik cinta mati, atau cinta abadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Cinta mati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: &lt;u&gt;&lt;i&gt;Aku sih lebih baik cinta yang abadi, soalnya aku juga mau  ketemu lagi sama orang yang aku sayangi di akhirat nanti...&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: .......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: &lt;u&gt;&lt;i&gt;Masih lebih baik kepala ini ditusuk dengan jarum besi, dari  pada menyentuh wanita yang tidak halal bagiku (Hadist shahih ni gan)&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: jadi gitu ya......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Yups.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia: Kamu mau ga, walaupun kita ga pacaran tapi kamu tetep setia sama  aku, dan saling menjaga kepercayaan masing2, sampai ke jenjang  pernikahan nanti..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane: Saat ini fikiranku belum cukup dewasa untuk menentukan wanita yang  akan kunikahi nanti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ane pulang, dan selama 2 hari ane ga angkat telp dari dia, ga bales  PM facebook dia, ane lagi bingung soalnya...&lt;br /&gt;__________________________&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;_______&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hari jumat kemarin gan, dia minta ane dateng ke rumah dia.  Berkali-kali dia nelp dan kirim pesan di fb. Dia akhirnya bilang, "ini  untuk yang terakhir kalinya deh, terserah kamu mau mengenal aku lagi  atau tidak setelah pertemuan ini...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah ane ke rumah dia tuh gan, sore2, kebetulan jarak rumah ane ke  rumah dia tuh deket, cuma sekitar 1,2km. Dan hal yang bikin ane  kaget...dia pakai jilbab gan !!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, cantik banget dia pas pake jilbab, ane sama sekali ga  nyangka. Dipakainya juga rapi, dan cocok sama dress yang ia pakai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ane diam seribu bahasa gan, ga bisa komentar apa2...Alhamdulillah Ane  bersyukur banget sama Allah gan, semoga dia memakaiya terus menerus gan.  Ane hanya bisa bilang ke dia "tambah cantik aja neng"...hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endingnya, ane sama dia udah ga pacaran lagi, hanya ga putus komunikasi,  dan masing2 saling jaga kepercayaan aja...&lt;br /&gt;__________________________&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;_____&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doakan ya mudah-mudahan mereka tetap istiqomah di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3483187" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;7f6f5986a99046baf7b20099e9d1dde4&amp;quot;, event)" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.kaskus.us/showt&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;hread.php?t=3483187&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;dari catatan &lt;a href="http://www.facebook.com/home.php?#%21/indrayogi"&gt;Indra Yogiswara&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-4775665563414950564?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/4775665563414950564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/kisah-inspiratif-seorang-lelaki-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4775665563414950564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/4775665563414950564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/kisah-inspiratif-seorang-lelaki-yang.html' title='Kisah inspiratif seorang lelaki yang menghindari pacaran karena Allah'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1559627911768387465</id><published>2010-03-26T01:12:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T01:12:53.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah'/><title type='text'>Rasulullah SAW dan Para Sahabat Beliau Sangat Sayang Kepada Orang Miskin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6xsa1UgI7I/AAAAAAAAB1k/K_7mxjI6fHQ/s1600/6658-rose-450.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6xsa1UgI7I/AAAAAAAAB1k/K_7mxjI6fHQ/s320/6658-rose-450.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW tiba di halaman masjid, seorang  Arab Badui mencegat beliau seraya berkata: “Ya Muhammad... Berikanlah  padaku harta Allah yang ada padamu”. Bagaimana sikap Nabi Mulia itu?  Karena pada waktu itu Nabi SAW hanya memiliki jubah yang sedang  dipakainya, lalu dengan senyum Rasul SAW melepas jubah yang dikenakannya  dan dengan tulus beliau berikan kepada lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  SAW memang terkenal senang bergaul dengan para fakir miskin. Sikap  beliau itu diikuti oleh para sahabat. Kenapa mereka bersikap demikian?  Sebab satu hadits Qudsi mengatakan: “Carilah karunia Allah dengan  mendekati orang yang dekat dengan orang miskin. Karena pada merekalah  Aku jadikan keridhaan-Ku “, sehingga dalam satu hadits Rasulullah SAW.  bersabda: “Segala sesuatu itu ada kuncinya dan kunci surga itu adalah  mencintai anak yatim dan orang-orang yang miskin” (HR.Daruthni dan Ibnu  Hiban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelum wafat, Nabi Muhammad SAW  menunjukkan tanda-tanda khusus yang belum pernah disaksikan oleh para  sahabat. Misalnya, beliau sering berbicara tentang keindahan surga.  Suatu ketika sambil bercerita beliau mengulurkan tangannya seperti  hendak mengambil sesuatu, tapi kemudian ditariknya lagi. Ketika ditanya  para sahabat maksudnya, Nabi Mulia SAW ini menjawab: “Aku melihat surga  dan aku menjangkau setangkai anggur. Jikalau aku mengambilnya, kalian  baru dapat menghabiskannya selama umur bumi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda  khusus lain di hari-hari akhir Rasulullah SAW semakin tampak ketika  beliau ditanyai oleh para isterinya: “Siapa diantara kami yang pertama  kali akan menemui Anda kelak?” Dengan suara menggetarkan hati Nabi SAW.  menjawab: “Tangan siapa diantara kalian yang panjang, itulah yang lebih  dahulu menemuiku.” Mereka lalu saling mengulurkan tangan masing-masing  dan membandingkan satu sama lain. Dugaan mereka Saudah lah yang akan  dulu wafat, karena tangan Saudah lah yang paling panjang. Diantara  isteri-isteri Nabi SAW dialah yang paling tinggi dan besar perawakannya.  Sekitar 10 tahun setelah Nabi SAW wafat, ternyata Zainab yang lebih  dahulu menyusul beliau ke alam barzakh. Sementara, dialah isteri nabi  SAW yang perawakannya paling kecil namun dikenal dengan julukani “Ibu  kaum miskin”, yang pemurah hati. Tahulah mereka bahwa ” tangan paling  panjang ” yang dimaksud Rasulullah SAW adalah orang yang gemar memberi  sedekah kepada fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah sikap Ali bin Thalib KW.  Suatu saat orang menemukan beliau sedang terisak menangis. Ketika  ditanya ada apa gerangan sehingga beliau menangis, orang yang penuh  kemuliaan itu berkata : “Sudah satu minggu tak ada seorang tamu pun yang  datang kepada ku. Aku khawatir Allah sedang menghinakan aku”. Dan Ali  sangat berempati terhadap kaum dhuafa lebih-lebih ketika beliau menjadi  Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sanad dari Iman Ahmad, Ibnu Rafi’ pernah  berkata : “Pada suatu hari Id aku menemukan Ali bin Abi Thalib sedang  duduk. Di sebelahnya ada sebuah kantung yang diikat erat-erat. Aku  mengira isinya pasti perhiasan yang mahal-mahal. Tapi ketika Ali  membukanya aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kulihat. Bungkusan  itu cuma berisi roti kering yang maling paling rakus sekalipun takkan  mau mencurinya. Kemudian roti itu dilembutkan dengan air. Ketika kutanya  mengapa kantung yang cuma berisi roti kering itu diikat begitu rupa? “.  Ali menjawab: “Agar anak-anakku tidak membuka dan mengganti dengan roti  yang halus dan mengandung mentega.” “Eh, apakah Allah melarang Anda  menikmati makanan yang lebih baik?”. “Aku bertanya heran”. “Sama sekali  tidak. Aku hanya ingin memakan makanan rakyat yang paling miskin. Aku  baru akan mengubah makanan ku setelah aku bisa memperbaiki taraf hidup  dan nilai makanan mereka,” jawab sang Khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula  dengan sahabat Rasulullah SAW, Umar bin al-Khattab. Ketika beliau  menjadi Khalifah, beliau seringkali melakukan penyamaran di malam hari,  masuk kampung keluar kampung untuk mendengarkan keluh kesah rakyatnya.  Beliau tidak sungkan-sungkan memanggul sendiri karung beras yang  diambilnya dari Baitul maal untuk diberikan kepada seorang janda miskin  yang anak-anaknya sedang menangis kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi halnya  dengan Nabi Yusuf AS Ketika beliau sudah diangkat menjadi Bendahara  kerajaan dan menjadi semacam Kepala Bulog, beliau berpuasa hampir setiap  hari. Ketika ditanya orang mengapa Nabi Yusuf melakukan itu semua,  beliau berkata bahwa beliau takut kenyang sehingga melupakan kehidupan  orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Zainal Abidin, salah seorang cucu Rasulullah  SAW, setelah wafat termasyhur sebagai orang yang gemar memikul gandum di  malam hari dan membagikannya kepada para fakir miskin di Madinah, tanpa  seorang pun mengetahuinya. Jika datang kepadanya seseorang yang sedang  ditimpa kesulitan dalam hidupnya dan meminta tolong kepadanya, beliau  menyambutnya dengan ucapan: “Selamat datang wahai orang yang berkenan  memikul bekal ku untuk hari akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majalah Amanah Nomor:  33 tanggal 9 Oktober 1987 diceritakan mengenai H.Yunan Helmy Nasution,  ketika almarhum masih berdinas sebagai tentara. Rata-rata setiap 4 bulan  sekali beliau diopname di Rumah Sakit, karena sakit. Tapi sejak  memelihara anak yatim, maka selama 14 tahun, belum sekalipun menderita  sakit. “Memelihara anak yatim adalah hiburan rohani karena kasih Allah  kepada mereka. Empat belas tahun mengelola anak yatim, tidak pernah  mengalami kesulitan. Sering rezeki datang dengan tiba-tiba karena anak  yatim mengandung misteri tersendiri disisi Allah, yang bagi orang lain  sangat mengherankan”, kilah almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Islam yang  benar-benar faham terhadap agamanya dan mau mengerjakannya, mereka  semestinya sangat ramah kepada para fakir miskin. Jarang mereka  menolaknya bila para fakir miskin datang kepadanya. Mereka menganggap  yang diminta para fakir miskin itu sekedar untuk memenuhi kebutuhan  mereka. Nabi Isa AS berkata : “Barang siapa menolak fakir miskin yang  meminta, sehingga ia kecewa, para malaikat tidak akan memasuki rumahnya  selama 70 hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanalloh...apakah para pemimpin di zaman  sekarang tidak pernah membaca sirah-sirah &amp;amp; riwayat semacam ini,  atau mata dan hatinya telah tertutup oleh nafsu kerakusan akan kekuasaan  dan kekayaan belaka? Astaghfirulloh al-adzim...Marilah kita berdo'a  semoga ke depan akan datang para "Ratu Adil" yang mau menyontoh pribadi  &amp;amp; akhlaq Rasululloh SAW dan para sahabat beliau yang berhati mulia  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu 'alam bish shawab...(Sudi al-Fakir - diolah dari  berbagai artikel/bacaan)&lt;br /&gt;kiriman dari bang Nana Sudiana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;sumber: Grup Facebook Penyejuk Qolbu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1559627911768387465?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1559627911768387465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/rasulullah-saw-dan-para-sahabat-beliau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1559627911768387465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1559627911768387465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/rasulullah-saw-dan-para-sahabat-beliau.html' title='Rasulullah SAW dan Para Sahabat Beliau Sangat Sayang Kepada Orang Miskin'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6xsa1UgI7I/AAAAAAAAB1k/K_7mxjI6fHQ/s72-c/6658-rose-450.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8258847527311607292</id><published>2010-03-24T19:47:00.001-07:00</published><updated>2010-03-24T19:52:52.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Qian Hongyan, Semangat si Bocah Cacat</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ujian yang mahaberat, jika disikapi dengan pikiran terbuka  dan jiwa yang lapang, bisa mengobarkan semangat perjuangan yang tak  gampang padam. Dan, semangat itulah yang dikobarkan seorang bocah  bernama Qian Hongyan.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang  kadang perlu belajar dari seorang bocah. Jika kita ingat kembali,  semangat sebagai anak-anak sangat kuat untuk menerjang semua halangan  dan tantangan. Satu contoh nyata adalah saat kita belajar berjalan.  Meski jatuh berkali-kali, sebagai seorang bocah kita tentunya terus  berusaha hingga benar-benar bisa berjalan seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, semangat ala bocah inilah yang-barangkali-mampu  menjadi "bara api" yang terus menyala di tengah gelap dan kerasnya ujian  bagi sesosok anak berusia belasan dari negeri China, &lt;b&gt;Qian  Hongyan&lt;/b&gt;. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa  tidak, di usianya yang masih sangat dini-tiga tahun (tepatnya pada bulan  Oktober 2000)-ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh  tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian  yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal  di Zhuangxia, China itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian.  Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan  bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti  kaki-kaki palsu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="260" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-qian45.bmp" width="191" /&gt;�� &lt;img alt="" height="156" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-aqian33.JPG" width="243" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia  belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan  murah senyum-seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan  memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga  untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah  layaknya kebanyakan anak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersiap  Mendunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Dengan  kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu  bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya  dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah  pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada  bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa  atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan  rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang  lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat,  mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan  cita-cita Qian Hongyan untukikut menjadi seorang atlet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian  segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad  itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi  Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang  cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada  Zhang untuk dilatih menjadi seorang seorang juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya  mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab,  menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak  sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua  lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat  Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih  mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="158" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-hongyan.jpg" width="242" /&gt; &lt;img alt="" height="158" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-qian2.jpg" width="241" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi  latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal  latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk  menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari,  setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih  otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban,  hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero  China dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah  menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan.  Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online  sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia dengan &lt;b&gt;usahanya  mewakili China pada   tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade  khusus orang cacat&lt;/b&gt;. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target  menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia  bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat  kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk  dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi  kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="150" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-aqian2.jpg" width="269" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jika  Qian saja mampu, bagaimana dengan kita? &lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object height="385" width="640"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/cb4K9vd_w2Y&amp;amp;color1=0xb1b1b1&amp;amp;color2=0xcfcfcf&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/cb4K9vd_w2Y&amp;amp;color1=0xb1b1b1&amp;amp;color2=0xcfcfcf&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowScriptAccess="always" width="640" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat &lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;LuarBiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :   &lt;a href="http://www.esyariah.com/?id=agy"&gt;http://www.esyariah.com/motivasi%20:%20Qian_Hongyan.php&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8258847527311607292?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8258847527311607292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/qian-hongyan-semangat-si-bocah-cacat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8258847527311607292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/8258847527311607292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/qian-hongyan-semangat-si-bocah-cacat.html' title='Qian Hongyan, Semangat si Bocah Cacat'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-2080155191411376518</id><published>2010-03-24T19:45:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T19:53:07.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Nick Vujicic - No Arms, No Legs, No Worries</title><content type='html'>Inilah cerita dari seorang pria tampan dan cerdas, serta bersuara  indah, yang dilahirkan tanpa kedua lengan dan kedua kaki. Namun ia tetap  bersemangat dan bahagia dalam menjalani hidupnya. Ia jago main golf,  berselancar, dan berenang. Terlebih, ia juga sukses dalam karirnya. &lt;b&gt;Nick    Vujicic (26 tahun)&lt;/b&gt;, pria Serbia kelahiran Australia itu,    memang luar biasa!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nick lahir di  sebuah rumah sakit di Kota Melbourne pada tanggal 4 Desember 1982.  Orangtuanya sangat terkejut ketika melihat keadaan putra mereka yang  lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya,  Nick terkena penyakit &lt;i&gt;Tetra-amelia&lt;/i&gt; yang sangat langka. Kondisi  ini kontan membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer  komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati,  kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir  tanpa anggota-anggota tubuh. Tak jarang, mereka menyalahkan diri sendiri  atas keadaan Nick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal ini  tidak berlangsung lama. Ayah dan ibu Nick melihat putranya, biarpun  cacat tubuh, tetap tumbuh kuat, sehat, dan ceria - sama seperti  anak-anak lainnya. Dan, Nick kecil terlihat begitu tampan serta  menggemaskan! Matanya pun sangat indah dan menawan. Maka, mereka mulai  bisa menerima keadaan putranya, mensyukuri keberadaannya, dan segera  mengajarinya untuk hidup mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;�&lt;img alt="" height="189" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-vujicicRes22.jpg" width="123" /&gt;�� &lt;img alt="" height="189" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-vujicicRes.jpg" width="159" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Nick memiliki  sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Sang ayah  membimbingnya untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, dan berenang sejak  Nick berusia 18 bulan. Kemudian, dengan tekun dan sabar, sejak usia 6  tahun, Nick belajar menggunakan jari-jari kakinya untuk menulis,  mengambil barang, dan mengetik. Kini, Nick menyebut telapak kakinya yang  berharga itu sebagai "my chicken drumstick." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa hidup lebih mandiri, kuat secara mental, dan bisa  bergaul dengan luwes, ibu Nick memasukkan putranya ke sekolah biasa.  Segera saja, Nick menyadari bahwa keadaannya sangat berbeda dengan  anak-anak lainnya. Ia juga mengalami berbagai penolakan, ejekan, dan  gertakan dari teman-teman sekolahnya. Hal ini membuatnya merasa begitu  sedih dan putus asa. Pada usia 8 tahun, Nick sempat berpikir untuk  mengakhiri hidupnya. Namun, kasih dan dukungan orangtuanya, serta  hiburan dari para sahabatnya, mampu membuat Nick mengenyahkan pikiran  tersebut. Ia menjadi lebih bijaksana dan berani dalam menjalani  kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada�suatu pagi, saat usia  12 tahun, Nick mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat bangun dan  membuka matanya, tiba-tiba saja ia menyadari betapa beruntungnya  dirinya. Ia sehat, serta punya keluarga dan para sahabat yang  menyayanginya. Ia juga hidup dalam keluarga yang berkecukupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun kemudian, ketika membaca surat  kabar, Nick dan ibunya menemukan sebuah artikel yang sangat menggugah  jiwanya. Artikel itu, berkisah tentang seorang pria cacat tubuh yang  mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang. "Pada  saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk  berguna bagi orang lain. &lt;b&gt;Saya   memutuskan untuk bersyukur,  bukannya marah, atas keadaan diri sendiri&lt;/b&gt;! Saya juga berharap,  suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong  dan menginspirasi banyak orang!" demikian ujar Nick, dalam sebuah  wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meraih mimpinya, Nick  belajar dengan giat. Otak yang encer, membantunya untuk meraih gelar  Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21  tahun. Segera setelah itu, ia mengembangkan lembaga non-profit �&lt;i&gt;&lt;b&gt;Life  Without Limbs&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;' (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang  didirikannya, pada usia 17 tahun, untuk membantunya berkarya dalam  bidang motivasi.�&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="212" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-vujicic45.jpg" width="156" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kini,  Nick Vujicic adalah motivator/pembicara internasional yang  gilang-gemilang. Ia sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat  benua (termasuk Indonesia), untuk memotivasi lebih dari 2 juta  orang-khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun  televisi dengan jangkauan internasional, seperti ABC (pada 28 Maret  2008). Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi "Life's Greater  Purpose", "No Arms, No Legs, No Worries", serta film "The Butterfly  Circus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="207" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-vujicicres3.jpg" width="190" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img alt="" height="150" src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-vujicRes.jpg" width="252" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;"Saya telah memberikan berbagai jenis motivasi kepada orang-orang,  berdasarkan pengalaman hidup saya," pungkas Nick di akhir wawancara.  "Namun, ada satu hal yang selalu saya katakan pada mereka: �&lt;b&gt;Terimalah    dan cintai diri kamu sendiri&lt;/b&gt;.' Jika satu orang saja bisa  melakukannya, kemudian merasa lebih bersemangat dalam menjalani hidup  serta ingin berguna bagi orang lain, saya merasa bahwa sebagian tugas  saya di dunia ini telah terselesaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object height="385" width="640"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/H8ZuKF3dxCY&amp;amp;color1=0x5d1719&amp;amp;color2=0xcd311b&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/H8ZuKF3dxCY&amp;amp;color1=0x5d1719&amp;amp;color2=0xcd311b&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;feature=player_embedded&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowScriptAccess="always" width="640" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :     &lt;a href="http://www.esyariah.com/?id=agy"&gt;http://www.esyariah.com/motivasi-Nick_Vujicic.php&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-2080155191411376518?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/2080155191411376518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2080155191411376518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/2080155191411376518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/nick-vujicic-no-arms-no-legs-no-worries.html' title='Nick Vujicic - No Arms, No Legs, No Worries'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-6222903514528986895</id><published>2010-03-24T00:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-24T00:15:29.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aishiteru'/><title type='text'>CINTA di ATAS CINTA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m70m1jM5I/AAAAAAAAByc/13PksqVJcZI/s1600/love.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m70m1jM5I/AAAAAAAAByc/13PksqVJcZI/s320/love.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Perempuan oh perempuan! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka  ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi,  misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang  pahlawan? Keagungan! &lt;br /&gt;Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin  Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi  ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya  hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi  trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang  ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Tapi, begitu ia  menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh  mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia  bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada  neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama  terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya,  Al Zuhri. &lt;br /&gt;Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya  sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh  rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah  dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran  dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun  digelari Khalifah Rasyidin kelima. &lt;br /&gt;Tapi itu ada harganya. Fisiknya  segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar;  menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m7etarMNI/AAAAAAAAByU/PJAS1mzBHjQ/s1600/love1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m7etarMNI/AAAAAAAAByU/PJAS1mzBHjQ/s320/love1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ironis,  karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu,  juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya;  atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah yang  membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril  kepada suaminya. &lt;br /&gt;Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat  paling mengharu- biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan  bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar  segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya,  ketika cita-cita perubahannya belum selesai. &lt;br /&gt;Cinta dan cita bertemu  atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.  Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak!  Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau  saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar. &lt;br /&gt;Cinta  yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual,  berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena  memang ada cinta di atas cinta! &lt;br /&gt;Akhirnya ia menikahkan gadis itu  dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum  meninggalkan rumah Umar, gadis itu &lt;br /&gt;bertanya dengan sendu, Umar, dulu  kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar  bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, Cinta itu masih tetap ada,  bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m7etarMNI/AAAAAAAAByU/PJAS1mzBHjQ/s1600/love1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;M Anis Matta Lc.  &lt;br /&gt;Sumber : Tarbawi 55/4/Muharram 1424H&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-6222903514528986895?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/6222903514528986895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/cinta-di-atas-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6222903514528986895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/6222903514528986895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/cinta-di-atas-cinta.html' title='CINTA di ATAS CINTA'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6m70m1jM5I/AAAAAAAAByc/13PksqVJcZI/s72-c/love.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-3338937113109978346</id><published>2010-03-23T21:43:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T21:43:44.138-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Islami'/><title type='text'>Tiga Kisah Lima Sahabat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6mYUMCbtdI/AAAAAAAAByM/ECA7JTstQBg/s1600-h/alhqt_03.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6mYUMCbtdI/AAAAAAAAByM/ECA7JTstQBg/s320/alhqt_03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;dakwatuna.com - “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-kisah-lima-sahabat/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjaga keikhlasan kita, meridhoi kita, senantiasa memberikan rezeki kepada kita, memberkahi usaha kita, memudahkan urusan yang kita hadapi, memberikan kesehatan lahir dan bathin. Senantiasa tergerak untuk berbuat kebaikan setiap saat dimanapun berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang dapat memberi keuntungan 700 kali lipat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfiman : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. 2 : 261)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-3338937113109978346?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/3338937113109978346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/tiga-kisah-lima-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/3338937113109978346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/3338937113109978346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/tiga-kisah-lima-sahabat.html' title='Tiga Kisah Lima Sahabat'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6mYUMCbtdI/AAAAAAAAByM/ECA7JTstQBg/s72-c/alhqt_03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-3411815725594915444</id><published>2010-03-19T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T00:08:03.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Sekitar Kita'/><title type='text'>30 detik yang menyentuh jiwa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiNSVrFGI/AAAAAAAABxI/ynjcjzXeBTw/s1600-h/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiNSVrFGI/AAAAAAAABxI/ynjcjzXeBTw/s320/images.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Pasar  Rui Guang, setiap hari aku rutin melewatinya. Kadang sampai  berkali-kali karena halteu bis menuju pusat kota terletak di ujungnya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Saat mau menyebrang, terpaksa berdiri dahulu  ditepi jalan menunggu lampu merah berganti hijau. Merapatkan jaket dan  mencoba menahan semilir angin yang membawa dingin, menggigit tulang.  Sudah meninggalkan winter tapi suhu masih tidak stabil, cuaca sudah  tidak bisa diprediksikan lagi.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Saat  itu lampu lalu lintas warna hijau baru saja berganti kuning. Walau  sudah berlari tapi tetap tidak terburu untuk menyebrang. Ini bukan di  Indonesia, akal sehatku berbisik. Jangan cari masalah walaupun sedang  terburu-buru.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Kulihat  hitungan waktu diatas lampu lalu lintas&amp;nbsp; disebrang jalan mulai detik 30  menurun, bersamaan dengan tatapan mataku yang menubruk dua sosok  bayangan lelaki, agak jauh dari lampu stopan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Yang satu masih muda, tinggi, bersih dan putih. Tampan  layaknya Wang Lee Hom, pemuda Taiwan yang sering wara-wiri di layar TV.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Disampingnya seorang kakek. Berbaju lusuh,  memakai celemek yang skaligus berfungsi sebagai kantong uang.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Melihat tangan si kakek memegang sayur dan  tidak jauh disampingnya ada keranjang berisi bermacam-macam sayuran  hijau, maka aku yakin kakek itu seorang pedagang sayur.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Tiba-tiba saja si pemuda menghadap si kakek.  Tampak berbicara dan dengan tiada keraguan digandengnya si kakek ke sisi  lebih dalam, persis depan tokok sepatu yang cukup mewah.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka berjongkok dan dengan gesit pemuda itu  mengambil sayur yang tengah dipegang si kakek. Memasukkan nya kembali  ke dalam keranjang, lalu dia membuka tas cangklong hitam miliknya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Mataku sedetikpun tak berpaling dari adegan  itu. Apa gerangan yang terjadi hingga si pemuda tiba-tiba berbuat itu?&lt;br /&gt;Padahal  ku yakin awalnya dia berdiri disana juga hendak menyebrang, menanti  lampu merah berganti hijau.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Si  pemuda tampak berbicara kepada si kakek yang terduduk. Tangannya  mengeluarkan termos mini dari tasnya dan membuka tutup mug seukuran  gelas itu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Setelah  membantu si kakek untuk minum --beberapa tegukan-- pemuda itu beranjak  ke keranjang sayur dan merogoh sesuatu dari dasarnya. Tak lama dia  berhasil mengeluarkan benda warna hitam, sebuah jaket.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Setelah mengibaskan lalu jaket itu dikenakan  nya pada tubuh si kakek. Tampak si kakek manggut-manggut, tangannya  berusaha menggapai si pemuda. Menyerahkan termos mini yang baru saja  diminumnya. Mungkin sambil mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Si pemuda menepuk-nepuk bahu kakek itu,  menyerahkan kembali termosnya kepada si kakek. Lalu bangkit berbalik ke  arahku, menyebrang. Mungkin sengaja botol minum itu dia berikan kepada  si kakek.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Aku tersadar  saat si pemuda berada di tengah penyebrangan jalan. Aku segera  menyebrang pula. Berlawanan arah dengan pemuda itu.&lt;br /&gt;Aku terburu-buru  karena lampu hijau sudah berkedip-kedip tanda segera akan berganti  kuning. Sementara aku masih belum mencapai ujung penyebrangan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Aku lupa tidak memperhatikan kembali si kakek  yang terduduk di depan toko. Bis segera datang dan aku mementingkannya,  tentu saja.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Dalam bis,  aku merenung. Berusaha kembali mengurutkan dan merangkaikan kejadian  yang berlangsung tidak lebih dari 30 detik itu.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Mungkin, saat si pemuda berdiri menunggu lampu hijau  hendak menyebrang dia kebetulan mendapati si kakek yang kedinginan.  Terus membawa kakek itu ketepi dan menolongnya dengan memberikan minuman  hangat bekalnya. Menanyai si kakek dimana baju hangatnya dan  mengambilkan serta memakaikan nya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiNSVrFGI/AAAAAAAABxI/ynjcjzXeBTw/s1600-h/images.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Si  Pemuda buru-buru karena lampu stopan sudah hijau dan ia harus  menyebrang. Maka dengan berat ditinggalkan nya lah si kakek. Karena ku  yakin dia --pemuda itu-- sama sepertiku tengah diburu waktu untuk  menjalankan aktivitasnya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Tiba-tiba  aku tersenyum. Ya, aku kagum akan ketulusan pemuda itu. Dia masih bisa  melakukan kebaikan dengan rasa kepeduliannya kepada si kakek walau dalam  waktu tidak lebih dari 30 detik! Subhanalloh..&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;sumber: &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;group islamunderattack&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-3411815725594915444?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/3411815725594915444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/30-detik-yang-menyentuh-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/3411815725594915444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/3411815725594915444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/30-detik-yang-menyentuh-jiwa.html' title='30 detik yang menyentuh jiwa'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiNSVrFGI/AAAAAAAABxI/ynjcjzXeBTw/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-7964400102676158204</id><published>2010-03-19T00:06:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T00:07:38.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Pendek'/><title type='text'>Ayah dan Ibu bagi Ihsan</title><content type='html'>&lt;div class="bodytext" id="item_body"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiQT9EzfI/AAAAAAAABxQ/zOSqxf-mIvk/s1600-h/mom+and+baby+hands.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiQT9EzfI/AAAAAAAABxQ/zOSqxf-mIvk/s320/mom+and+baby+hands.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;Ihsan tampak berlari cepat keluar dari ruang kelasnya siang  hari itu. Saking terburu-burunya&lt;br /&gt;sampai-sampai dia menabrak tempat  sampah yang ada di depan pelataran sekolahnya. Dia pun menghentikan  larinya dan memunguti kembali sampah yang berserakan karena tabrakannya.  Setelah itu dia kembali berlari. Menuju rumahnya. Menuju tempat kedua  orang tuanya menunggu kedatangannya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hal ini bermula ketika Ihsan melihat pengumuman yang tertempel  di papan tulis kelasnya yang menyatakan bahwa dia dan semua temannya  lulus ujian akhir SMA. Terlebih ketika dia melihat namanya berada di  urutan kedua peraih nilai tertinggi. Tak henti-hentinya dia mengucapkan  kalimat hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur. Banyak pula temannya yang  melakukan hal serupa bahkan ada yang sampai sujud syukur.&lt;br /&gt;Namun dia sadar. Kegembiraan ini juga  harus dirasakan kedua orang tuanya. Mereka juga harus tahu bahwa anak  semata wayang mereka lulus ujian dengan nilai yang tinggi. Hal inilah  yang membuat dia terburu-buru keluar dari sekolahnya. Berlari menuju  rumahnya untuk memberitahukan berita gembira ini pada kedua orang  tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Akhirnya sampailah  dia di depan rumahnya yang sederhana. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia  atur nafasnya agar di dapat menyampaikan kabar kelulusannya dengan  lancar. Setelah dia merasa nafasnya sudah sedikit tenang, dia pun  membuka pintu rumahnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Assalamu’alaikum…” ucapnya ketika memasuki rumah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Wa’alaikumussalam…” terdengar  jawaban ibunya dari dalam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tak lama kemudian ibunya muncul dari dalam rumah. Ihsan pun  langsung mencium tangan ibunya itu dengan penuh takdzim. Melihat Ihsan  tampak kelelahan, terlebih melihat keringat Ihsan yang bercucuran,  ibunya pun bertanya,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Kamu  kenapa nak kok berkeringat seperti ini?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ihsan tadi habis lari dari sekolah  Bu. Ada berita penting yang ingin segera Ihsan sampaikan pada Ibu dan  Bapak. Berita yang Insya Allah sangat menggembirakan bagi Bapak dan  Ibu.” Jawab Ihsan bersemangat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Berita apa memangnya Nak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ihsan lulus Bu. Dan alhamdulillah nilai Ihsan terbaik nomor  dua.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Alhamdulillah…”  ucap ibu Ihsan sambil mengatupkan kedua tangan di dada.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Beliau pun langsung mengecup kening  Ihsan, anak yang telah dirawatnya selama delapan belas tahun itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Selamat ya Nak,” ucap beliau lagi  sambil meneteskan air mata keharuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Iya terima kasih Bu. Bapak mana Bu? Bapak pasti juga senang  mendengar berita ini.” kata Ihsan tak sabar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Bapakmu belum pulang. Insya Allah  nanti kita beritahu berita ini pada Bapakmu. Beliau pasti juga sangat  senang dan bahagia seperti Ibu. Sudah lebih baik kamu sekarang mandi dan  ganti baju. Setelah itu sholat dan makan. Ya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Iya baik Bu,” kata Ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dia pun kemudian beranjak menuju  kamarnya untuk melepas baju seragamnya dan mengambil handuk. Setelah itu  dia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang penuh oleh  peluh dan keringat. Sementara dari ruang tamu, ibunya memandanginya  dengan wajah bangga penuh haru. Ya Allah anak yang telah kurawat selama  ini telah dewasa, terima kasih ya Allah, Engkau telah menjadikannya anak  yang pintar dan sangat berbakti pada kami, ucap beliau dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah mandi dan berpakaian, Ihsan pun melaksanakan sholat  dzuhur. Setelah sholat dia melakukan sujud syukur. Dalam&amp;nbsp;  sujud tak henti-hentinya dia mengucap syukur. Syukur atas semua  kenikmatan yang telah diberikan Allah untuknya. Termasuk nikmat lulus  ujian dan nikmat kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia pun berdoa  semoga dia dapat menjadi anak yang senantiasa berbakti pada kedua orang  tuanya dan senantiasa membahagiakan mereka berdua.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dan benarlah apa dugaan Ihsan.  Ayahnya begitu bahagia mendengar berita kelulusan Ihsan ketika dirinya  memberitahu beliau selepas beliau pulang kerja dari sawah. Beliau bahkan  langsung sujud syukur berkali-kali, tak peduli peluh masih melekat di  tubuhnya. Wajah beliau tampak begitu bahagia sekalipun gurat-gurat lelah  masih terpancar di wajah tuanya. Namun semua kelelahan itu seolah sirna  oleh berita dari Ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Malam itu pula ibu Ihsan mengadakan syukuran kecil-kecilan  untuk merayakan kelulusan Ihsan dan syukur atas semua nikmat yang telah  diberi Allah pada keluarganya. Kecil-kecilan karena hanya dirayakan oleh  Ihsan dan kedua orang tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Malam  itu, lepas tiga hari semenjak hari kelulusan Ihsan, saat itu Ihsan  tengah berbaring di kamar tidurnya. Dia tengah berpikir-pikir apa yang  dia lakukan setelah lulus nanti. Apakah melanjutkan ke bangku kuliah  atau langsung bekerja. Dia sebenarnya ingin melanjutkan ke jenjang yang  lebih tinggi, namun dia juga ingin membantu ayah dan ibunya. Dengan  bekerja tentulah dapat sedikit membantu keuangan keluarga. Namun tetap  saja keinginannya untuk kuliah jauh lebih kuat. Dia ingin tetap terus  menuntut ilmu. Ah lebih baik besok saja kubicarakan dengan Bapak dan  Ibu, pikirnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mengingat  orang tuanya, tak henti-hentinya Ihsan&amp;nbsp; kagum  pada keduanya. Begitu besar kasih sayang mereka pada dirinya. Yang  membuatnya kagum adalah ketulusan dan keteguhan hati kedua orang tuanya  ketika merawatnya. Dia ingat dulu saat ia masih kecil, ia sangat nakal.  Sering kali menyusahkan ayah dan ibunya. Namun ayah dan ibunya tak  pernah satu kali pun memarahinya. Paling-paling mereka hanya memberi  nasihat atau paling tidak peringatan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Namun seiring dengan semakin dewasanya Ihsan, kenakalannya pun  mulai berkurang. Dia pun tak pernah lagi menyusahkan keuda orang  tuanya. Malah sebaliknya dia membuat mereka bangga dengan  prestasi-prestasinya di sekolah yang selalu juara kelas. Bahkan saat  lulus SMP dia menjadi juara umum. Saat itu ayah dan ibunya sangat  gembira dan mereka langsung mengadakan syukuran. Tak tanggung-tanggung  hampir seluruh tetangganya ikut diundang dalam acara syukuran tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Begitu besar kasih sayang kedua orang  tuanya, sampai-sampai mereka rela berkorban demi Ihsan. Saat Ihsan  membutuhkan biaya untuk masuk SMP, ibunya sampai rela menjual  perhiasannya. Untunglah saat SMP itu Ihsan hampir selalu memperoleh  beasiswa termasuk saat SMA sehingga dapat meringankan beban kedua orang  tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bapak, Ibu, begitu  besar kasih sayangmu padaku. Entah apakah aku bisa membalas semua  kebaikan kalian atau tidak, selain dengan baktiku pada kalian. Aku  sangat mencintai kalian Pak, Bu. Berulang kali dia mengucapkan hal  tersebut dalam hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Malam semakin larut. Akhirnya Ihsan pun memutuskan untuk  tidur. Setelah membaca doa, dia pun memejamkan mata. Belum sempat  matanya terpejam, samar-samar dia mendengar suara orang bercakap-cakap.  Dari kamar orang tuanya. Suara ayah dan ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Barangkali sudah saatnya Bu.”  Terdengar suara ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Memangnya Bapak benar-benar yakin mau memberitahukannya pada  Ihsan? Memangnya Bapak siap?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Mau nggak mau kita harus siap Bu. Kita kan sudah sepakat akan  memberi tahu hal yang sesungguhnya pada Ihsan saat dia sudah dewasa.  Nah Bapak rasa sekaranglah saat yang tepat untuk itu Bu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Apa tidak lebih baik ditunggu  beberapa waktu lagi Pak? Ibu takut Ihsan tidak siap menerimanya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Kapan lagi Bu? Ihsan sudah dewasa  sekarang. Sudah saatnya dia tahu yang sesungguhnya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Mungkin Bapak benar. Tapi bagaimana  cara memberitahukannya pada Ihsan Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Nanti kita beri tahu pelan-pelan. Ibu siap-siap buat besok  saja.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kemudian suara  ayah dan ibu Ihsan tak dapat lagi didengar lagi oleh Ihsan. Mungkin  mereka berbicara pelan, yang pasti masih terdengar suara dari kamar  mereka sekalipun sayup-sayup dan tidak jelas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan bertanya-tanya. Hal apa yang  akan diberitahukan Bapak dan Ibu? Apa sebenarnya yang harus dia ketahui  saat dia dewasa? Dan apa pula sebenarnya yang disembunyikan oleh Bapak  dan Ibu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayuti pikirannya.  Mengelayuti alam bawah sadarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan  tengah hendak melaksanakan salat duha, keesokan paginya, ketika ayahnya  tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“San kamu hari ini ada acara?” tanya beliau.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Insya Allah tidak ada Pak. Memangnya  ada apa Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Bapak  dan Ibu mau mengajakmu ziarah ke kuburan simbahmu. Sekalian mau ke suatu  tempat menjenguk seseorang.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Menjenguk siapa Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Kamu nanti akan tahu. Setelah salat kamu siap-siap ya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Iya Insya Allah Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah itu ayahnya keluar kamar.  Tinggallah Ihsan di kamar dengan kepala penuh tanda tanya. Bapak dan Ibu  mau mengajakku menjenguk siapa ya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah salat duha, Ihsan segera bersiap-siap. Berganti  pakaian. Setelah itu dia pergi ke ruang tamu tempat ayah dan ibunya  menunggu. Dan kemudian bersama-sama mereka pergi ke ziarah di sebuah  pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Ihsan. Hanya  sekitar dua kilometer saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Rupanya selain ziarah ke makam kakek dan neneknya, oleh ayah  dan ibunya Ihsan juga diajak ke sebuah makam yang belum pernah dia  ketahui selama ini. Makam siapa ini? Tanya Ihsan dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ini makam adik Bapak.” Ayahnya  seperti mengetahui isi hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Adik Bapak? Siapa Pak? Kok Ihsan belum pernah tahu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Adik perempuan Bapak. Dia meninggal  18 tahun yang lalu. Kamu memang tidak pernah tahu karena Bapak belum  pernah bercerita mengenai dia padamu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Sudah Pak, San. Kita baca Yasin. Hari sudah agak siang.” Kata  ibu Ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Iya. Ayo.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mereka pun langsung membaca surat  Yasin yang dilanjutkan dengan doa. Ihsan membaca sambil hatinya terus  diliputi pertanyaan mengenai adik perempuan ayahnya yang makamnya berada  di hadapannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah  berziarah, ayah dan ibunya mengajaknya ke suatu tempat, yang ternyata  adalah sebuah rumah sakit jiwa. Ihsan heran kenapa ayah dan ibunya  mengajaknya ke sana .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Kenapa kita ke sini Pak?” tanyanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Seperti yang Bapak katakana tadi,  kita mau menjenguk seseorang.” Jawab ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Siapa Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Sudah nanti kamu juga tahu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jawaban itu lagi, ucap Ihsan dalam  hati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Di rumah sakit  jiwa itu Ihsan diajak ayah dan ibunya ke sebuah bilik tempat merawat  pasien rumah sakit tersebut. Di dalam bilik tersebut Ihsan melihat  seorang laki-laki yang kelihatannya memang terganggu pikirannya karena  dilihatnya lelaki itu tertawa dan berbicara sendiri. Tak lama kemudian  menangis. Begitu terus berulang-ulang. Entah kenapa hatinya begitu miris  melihat keadaan laki-laki itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Siapa laki-laki itu Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Dia suami almarhumah adik Bapak.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Dia…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ya seperti yang kamu lihat. Dia  terganggu pikirannya. Tepatnya semenjak isterinya meninggal.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Jadi dia, maaf, gila selama 18  tahun?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Benar. Kasihan  dia. Dia begitu terpukul ketika mengetahui isterinya meninggal. Dia  sangat syok dan dan langsung kalap. Dia terus berteriak-teriak sampai  akhirnya pikirannya terganggu.” Kali ini ibunya yang menjawab, sambil  terisak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Begitulah. Dan  karena itu pihak keluarga membawanya kemari. Dengan harapan dia bisa  sembuh. Namun harapan ternyata tinggal harapan. Kata dokter yang  merawatnya, dia sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa sembuh.”  Sambung ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Jadi dia  akan terganggu pikirannya untuk selamanya?” tanya Ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Wallahu alam. Hanya Allah yang tahu.  Kita sih berdoa saja semoga dia bisa cepat pulih pikirannya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Benar San. Doakan agar dia bisa  sembuh ya Nak?” ucap ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Insya Allah Bu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dia terus memandangi laki-laki itu dengan hati miris. Dia  merasa iba melihat keadaan laki-laki itu dan kejadian yang telah  dialaminya. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang lebih dari rasa  kasihan. Perasaan yang tidak dapat dia jelaskan seperti apa. Yang pasti  dia merasa sangat sedih melihat kadaan laki-laki itu, yang dia ketahui  adalah suami dari almarhumah adik perempuan ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ihsan pulang ke rumah dengan hati penuh  dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab dan memenuhi relung  pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan mengenai almarhumah adik perempuan  ayahnya, yang makamnya tadi dia kunjungi, dan mengenai laki-laki di  rumah sakit jiwa, yang merupakan suami dari adik ayahnya tersebut. Ingin  dia tanyakan hal-hal teresebut pada ayah dan ibunya. Namun belum sempat  dia tanyakan, ayahnya berkata kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ihsan nanti malam kamu jangan pergi  ke mana-mana ya. Ada yang ingin Bapak dan Ibu bicarakan malam ini.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Mengenai apa Pak? Kanapa tidak  sekarang saja?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Nanti  malam saja. Kita kan baru sampai. Kamu istirahat saja dulu,” kali ini  ibunya yang menjawab.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Benar San. Kamu lebih baik istirahat dulu. Bapak dan ibu juga  sangat capek,” ujar ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Baik Pak Bu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan pun pergi ke kamarnya. Hatinya masih diliputi sejuta  tanda tanya. Mengenai hal tadi dan mengenai sikap ayah dan ibunya yang  menurutnya seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang sepertinya masih  belum boleh untuk dia ketahui.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sepertinya  ada hal yang cukup serius yang ingin ayah dan ibu Ihsan sampaikan pada  dirinya, karena terlihat wajah keduanya tampak begitu serius. Bahkan  wajah ibu Ihsan pias seperti menahan beban yang sangat berat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Duduk di hadapannya, kedua orang tua  Ihsan masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hal itu membuat Ihsan  semakin penasaran apa yang hendak ayah dan ibunya bicarakan padanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Pak, Bu, katanya ada yang ingin  Bapak dan Ibu bicarakan pada Ihsan. Apa itu Pak, Bu?” tanya Ihsan  memecah keheningan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ayahnya  tampak mengambil nafas panjang sebelum akhirnya beliau berkata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ihsan kamu sudah besar sekarang.  Sudah dewasa.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ayah  Ihsan kembali terdiam. Ihsan tak berani menyela. Dengan sabar dia  menunggu hal yang ingin dibicarakan oleh ayahnya. Sementara ibunya  tampak diam seribu bahasa sambil menundukkan kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Setelah Bapak dan Ibu pikirkan  masak-masak, sudah saatnya kami memberitahukan padamu hal yang  sebenarnya.” lanjut ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Hal yang sebenarnya? Mengenai apa itu Pak?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Mengenai statusmu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Maksud Bapak?” tanya Ihsan penuh  tanda tanya. Dia sama sekali belum mengerti arah pembicaraan ayahnya  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sambil menghela  nafas panjang ayahnya menjawab, “San, Bapak harap kamu siap mendengar  semua ini. Bapak dan Ibu berharap kamu bersabar begitu mendengar  kenyataan yang sebenarnya mengenai dirimu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Sebenarnya apa yang ingin Bapak  sampaikan?” tanya Ihsan tidak sabar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kembali ayahnya menghela nafas panjang dan berkata, “San,  sebenarnya kami berdua bukan orang tua kandung kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan tersentak. Dia bagaikan  mendengar petir yang begitu menggelegar ketika mendengar ucapan ayahnya  tersebut. Setengah tidak percaya dia mencoba mencerna kata-kata ayahnya.  Aku bukan anak Bapak dan Ibu? Ucapnya dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Melihat gurat kekagetan di wajah  Ihsan, ayahnya kembali berkata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“San, maafkan kami harus mengatakan hal tersebut padamu.  Sebenarnya berat bagi bapak dan ibu mengatakan hal yang sebenarnya  mengenai statusmu. Tapi kami terlanjur berjanji pada diri kami sendiri  bahwa kamu berhak mengetahui hal yang sebenarnya begitu kamu sudah  dewasa.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan terdiam. Dia  tak bisa berkata apa-apa. Dia tampak syok mendengar penuturan ayahnya  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“San sebenarnya  kamu adalah anak dari adik perempuan Bapak yang makamnya tadi siang kita  kunjungi. Dan laki-laki di rumah sakit jiwa tadi, sebenarnya dia adalah  ayah kandungmu. Kami hanyalah orang tua angkat kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ayahnya pun bercerita. Adik perempuan  ayahnya, ibu kandung Ihsan, meninggal ketika melahirkan Ihsan. Dan  seperti yang dia ketahui, suami dari adik perempuan ayahnya itu, yang  ternyata adalah ayah kandungnya, sangat syok dan terpukul mengetahui  bahwa isterinya telah meninggal. Pikirannya pun terganggu yang  menyebabkan dia harus dirawat di rumahsakit jiwa. Akibatnya dia tidak  mampu merawat Ihsan kecil yang saat itu masih bayi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dan karena tidak ada yang mampu  merawat Ihsan kecil itulah, akhirnya ayah dan ibunya yang sekarang  berinisiatif untuk merawatnya mengingat mereka sendiri tidak mempunyai  anak. Dengan penuh kasih sayang mereka merawat Ihsan. Bahkan mereka  menganggap Ihsan adalah anak kandung mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ihsan mendengar semua itu dengan mata  berkaca-kaca. Akhirnya terjawablah sudah semua pertanyaan yang dari  tadi siang menggelayutinya. Pertanyaan-pertanyaan mengenai sosok adik  perempuan ayahnya dan laki-laki yang dia lihat di rumah sakit jiwa.  Termasuk pertanyaan mengenai hal yang disembunyikan oleh ayah dan  ibunya, yang ternyata adalah ayah dan ibu angkatnya. Namun dia masih  tidak percaya dengan semua kenyataan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Kenapa Bapak dan Ibu memberi tahu  semua ini kepada Ihsan?” tanyanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Maafkan Bapak dan Ibu jika ini semua mengejutkanmu, Nak Kami  merasa kamu juga berhak tahu yang sebenarnya. Bahwa kami hanyalah orang  tua angkat kamu.” Ibunya akhirnya mengeluarkan suara. Meski dengan mata  berkaca-kaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Jadi…  jadi Ihsan benar-benar bukan anak kandung Bapak dan Ibu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Maafkan Bapak dan Ibu jika kami  harus memberitahukan semua ini padamu. Kami memang bukan orang tua  kandung kamu. Tapi sekalipun kamu hanya anak angkat Bapak dan Ibu kami  tetap menganggapmu anak kami. Darah daging kami.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Maafkan bapak dan ibu jika ini semua  mengejutkanmu, Nak. Kamu boleh marah pada Bapak dan Ibu karena kami  memberitahukanmu kenyataan ini. atau bila kami tidak dari dulu-dulu  memberitahumu. Silakan jika kamu marah pada Bapak dan Ibu.” Ucap ibunya  sambil terisak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Tidak  Bu. Ihsan tidak akan marah pada bapak dan ibu. Ihsan bahkan ingin  berterima kasih karena Bapak dan Ibu mau merawat Ihsan. Dan mau  menganggap Ihsan sebagai anak Bapak dan Ibu. Ihsanlah yang seharusnya  meminta maaf Pak, Bu.” Ucap Ihsan sambil bersimpuh di kaki ayah ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan penuh kasih sayang, ibunya  membelai rambut Ihsan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ihsan sekalipun kami telah memberitahukan kenyataan ini  padamu, kamu tetap anak Bapak dan Ibu. Anak yang kami sayangi dan kami  cintai,” ucap ibu Ihsan sambil mengangkat wajah Ihsan yang penuh  bercucur air mata.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Benar  Ihsan. Kamu tetap anak Bapak dan Ibu. Kami akan tetap menyayangimu.”  Ucap ayahnya pula sambil berurai air mata pula.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Bapak dan Ibu juga tetap orang tua  Ihsan sampai kapan pun. Ihsan akan terus berbakti pada Bapak dan Ibu.  Akan terus menyayangi Bapak dan Ibu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Terima kasih kamu tetap menganggap kami sebagai orang tua  kamu. Kami sangat menyayangi kamu Nak,” ucap ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Tapi kamu juga harus ingat Nak. Kamu  juga masih mempunyai ayah kandung. Sekalipun dia tak pernah sanggup  merawatmu dia tetap ayah kamu juga. yang juga berhak untuk kamu sayangi.  Tukjukkanlah baktimu pada orang tua kandungmu dengan terus mendoakan  mereka. Terutama pada ayahmu, doakanlah dia diberi kesembuhan oleh  Allah,” kata ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Iya. Insya Allah Ihsan juga akan berbakti padanya juga pada  ibu kandung Ihsan. Sebesar bakti dan kasih sayang Ihsan pada Bapak dan  Ibu.” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam hati Ihsan  sangat kagum pada kebesaran hati ayahnya. Kebenaran hati yang membuatnya  semakin menyayangi ayah dan ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dan kembali dengan penuh kasih sayang, kedua orang tua Ihsan  membelai kepala Ihsan. Dan kemudian Ihsan langsung memeluk keduanya.  Memeluk kedua orang tua yang telah merawatnya dengan penuh cinta dan  kasih sayang. Mereka berpelukan dengan mata penuh berurai air mata. Air  mata kebahagiaan dan kasih sayang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiQT9EzfI/AAAAAAAABxQ/zOSqxf-mIvk/s1600-h/mom+and+baby+hands.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;sumber: group islamunderattack &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-7964400102676158204?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/7964400102676158204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/ayah-dan-ibu-bagi-ihsan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7964400102676158204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/7964400102676158204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/ayah-dan-ibu-bagi-ihsan.html' title='Ayah dan Ibu bagi Ihsan'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MiQT9EzfI/AAAAAAAABxQ/zOSqxf-mIvk/s72-c/mom+and+baby+hands.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-1638058081563539707</id><published>2010-03-18T23:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T23:33:04.172-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>MERPATI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MaVwRVphI/AAAAAAAABxA/hQbBJKfhR6U/s1600-h/surat-untuk-ayah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MaVwRVphI/AAAAAAAABxA/hQbBJKfhR6U/s320/surat-untuk-ayah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;Pada suatu sore, seorang lelaki paruh baya bersama  anaknya yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi, duduk santai di  halaman sambil memerhatikan suasana di sekitar mereka.&lt;br /&gt;Tiba-tiba  seekor burung merpati hinggap di ranting pohon tepat di depan si Ayah  dan si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ayah lalu menunjuk jarinya ke arah merpati  sambil bertanya,"Nak, apakah benda itu?“Burung merpati", jawab si anak.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si  ayah mengangguk-angguk, namun tidak lama kemudian sang ayah mengulangi  pertanyaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak mengira ayahnya kurang mendengar  jawapannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung merpati  ayah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sesaat kemudian si ayah bertanya lagi persoalan  yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit pusing dengan  pertanyaan sama yang diulang-ulang, lalu si anak menjawab dengan lebih  kuat, "Burung Merpati!!!" Si ayah terdiam seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak  lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang serupa hingga  membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang  sedikit membentak si ayah, "Merpati la ayah.......". Tetapi agak  mengejutkan si anak, ternyata si ayah sekali lagi membuka mulut hanya  untuk bertanyakan pertanyaan yang sama.&lt;br /&gt;Dan kali ini si anak  benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.&lt;br /&gt;"Ayah!!! Saya tak tahu  apakah ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya  persoalan tersebut dan saya sudah pun memberikan jawapannya. Apalagi  yang ayah mau saya katakan? Itu burung merpati, dan burung merpati  titik....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ayah  terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang emosi.  Sebentar kemudian si ayah keluar semula dengan sesuatu di tangannya. Dia  mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih kesal dan  tertanya-tanya. Benda itu adalah sebuah diary lama. Coba kamu baca apa  yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si  anakpun mengikuti kata-kata ayahnya dan membaca buku diary yang  diberikan... "Hari ini aku di halaman duduk santai dengan anakku yang  genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor merpati hinggap di pohon  didepan kami. Anakku terus menunjuk ke arah merpati dan bertanya, "Ayah,  apa tu?". Dan aku menjawab, "Burung merpati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bagaimana  pun, anak ku terus bertanya persoalan yang serupa dan setiap kali aku  menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya  demikian, dan demi cinta dan sayangkupadanya, aku terus menjawab untuk  memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap ini akan menjadi suatu  pendidikan yang berharga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai membaca diary yang di  berikan tersebut si anak mengangkat muka memandang si ayah dengan mata  yang berkaca-kaca. Si ayah dengan perlahan bersuara, " Hari ini ayah  baru bertanya kamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau  telah kehilangan kesabaran dan marah." Anak tersebut terdiam seribu  bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~Betapa mulianya orang tua kita yang telah melahirkan  kita, mendidik dan membesarkan kita dengan segala kenakalan dan  perbuatan yang tidak menyenangkan, namun mereka senangtiasa bergembira,  apabila melihat anaknya bahagia. Mereka tidak memperdulikan semua segi  negatif kita, dan selalu sabar untuk menasehati dan membimbing kita.  Alangkah bijaksananya, apabila kita bisa meniru sikap sabar yang penuh  kasih sayang ini kepada mereka, karena kapanpun, dan bagaimanapun  caranya, kita tidak akan mampu membalas kebaikkan orang tua kita, namun  kita bisa menghormati dan meniru rasa sabar yang mereka berikan kepada  kita, dengan penuh kasih sayang, kepada orang tua kita~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahu  kubalas akan kebaikanmu, :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana akan kucari&lt;br /&gt;Aku menangis  seorang diri&lt;br /&gt;Hatiku selalu ingin bertemu&lt;br /&gt;Untukmu aku bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  Ayah tercinta&lt;br /&gt;Aku ingin bernyanyi&lt;br /&gt;Walau air mata dipipiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah  dengarkanlah&lt;br /&gt;Aku ingin berjumpa&lt;br /&gt;Walau hanya dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah  hari berganti&lt;br /&gt;Namun tiada seindah dulu&lt;br /&gt;Datanglah aku ingin  bertemu&lt;br /&gt;Denganmu aku bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munajatku untukmu Ayahku :&lt;br /&gt;“Ya  Tuhan, Ampunilah dosa kedua orang tua kami dan lindungi serta  sayangilah mereka sebagaimana mereka memelihara dan menyayangi kami  sewaktu kecil.”&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-1638058081563539707?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/1638058081563539707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/merpati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1638058081563539707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1997799318238987426/posts/default/1638058081563539707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://relungterserpih.blogspot.com/2010/03/merpati.html' title='MERPATI'/><author><name>Thiya Renjana</name><uri>https://profiles.google.com/103595127242590915310</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh5.googleusercontent.com/-HnxdlkGFCig/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAD6c/tni71FyXPNI/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S6MaVwRVphI/AAAAAAAABxA/hQbBJKfhR6U/s72-c/surat-untuk-ayah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1997799318238987426.post-8648490167906867648</id><published>2010-03-14T18:28:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T18:29:09.512-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Dunia'/><title type='text'>Putri Qara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S52NAqTXsUI/AAAAAAAABwY/ibXhAbtVMuk/s1600-h/Maiden-Print-C10079809.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S52NAqTXsUI/AAAAAAAABwY/ibXhAbtVMuk/s320/Maiden-Print-C10079809.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya. Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut. Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan di rumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan : “Aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaa dan kemauan untuk bekerja”.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S52M3oIVCsI/AAAAAAAABwQ/fe_LR1hb5o8/s1600-h/sad+princess.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_vYsKwAOvemM/S52M3oIVCsI/AAAAAAAABwQ/fe_LR1hb5o8/s320/sad+princess.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ emotivasi.com ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1997799318238987426-8648490167906867648?l=relungterserpih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://relungterserpih.blogspot.com/feeds/8648490167906867648/comments/default' title=
